Pendidikan

Dari Purworejo ke Panggung Internasional, Perjuangan Jessica Naomi Menaklukkan Olimpiade Geografi Dunia

64
×

Dari Purworejo ke Panggung Internasional, Perjuangan Jessica Naomi Menaklukkan Olimpiade Geografi Dunia

Sebarkan artikel ini
Jessica Naomi Monasony, siswi kelas 9A bersama Noah Probo Caya Wardhana, siswa kelas 8A SMP Negeri 2 Purworejo, foto bersama dengan guru pembina daan kepala sekolah
Jessica Naomi Monasony, siswi kelas 9A bersama Noah Probo Caya Wardhana, siswa kelas 8A SMP Negeri 2 Purworejo, foto bersama dengan guru pembina daan kepala sekolah

PURWOREJO, purworejo24.com – Ketekunan, disiplin, dan kecintaan pada ilmu pengetahuan mampu membawa seorang siswi SMP melangkah hingga panggung internasional.

Itulah yang tercermin dari prestasi membanggakan yang diraih Jessica Naomi Monasony, siswi kelas 9A bersama Noah Probo Caya Wardhana, siswa kelas 8A SMP Negeri 2 Purworejo, yang sukses meraih medali perak dalam ajang International Geography Olympiad (IGEO/OGANAS) yang diselenggarakan oleh Universitas Gadjah Mada (UGM).

Ajang bergengsi ini diikuti 139 tim dari berbagai daerah di Indonesia, mayoritas berasal dari sekolah swasta unggulan.

Di tengah ketatnya persaingan, hanya tiga sekolah negeri yang mampu berpartisipasi, yakni SMP Negeri 2 Purworejo, SMP Negeri 4 Pakem, dan SMP Negeri 41 Jakarta.

Dari ketiganya, SMP Negeri 2 Purworejo tampil mencuri perhatian dengan torehan prestasi gemilang.

Bagi Jessica, lomba geografi internasional ini bukan sekadar adu hafalan. Selama dua hari penuh, para peserta harus melewati rangkaian seleksi yang menantang, mulai dari tes tertulis, tes lapangan (outdoor learning), multimedia test, pembuatan poster geospasial, hingga cerdas cermat geografi.

Tes tertulis terdiri dari 40 soal teori berbahasa Indonesia dan 30 soal berbahasa Inggris. Soal bahasa Inggrisnya berupa bacaan panjang yang harus dianalisis secara mendalam, bukan sekadar memilih jawaban,” tutur Jessica.

Ia mengakui, tantangan terberat datang dari soal analisis berbahasa Inggris serta multimedia test yang menuntut wawasan luas dan kemampuan berpikir kritis.

Pada tes lapangan, peserta dituntut mampu mengamati kondisi lingkungan sekitar, mengolah data, menuliskan hasil pengamatan, serta mengaitkannya dengan konsep geografi dalam waktu terbatas.

Geografi itu sangat luas, bukan hanya tentang Indonesia, tapi juga dunia. Itu yang membuat lomba ini menantang sekaligus menarik,” ujarnya.

Di balik keberhasilan tersebut, tersimpan proses panjang dan kerja keras. Jessica mulai mempersiapkan diri sejak jauh hari. Meski belajar intensif dimulai pada November, pendalaman materi dilakukan secara serius pada pertengahan Desember hingga Januari menjelang lomba.

Setiap hari, ia membiasakan diri membaca, menulis, dan mempelajari ratusan halaman buku geografi, baik berbahasa Indonesia maupun Inggris.

Rasanya sangat bahagia. Perjuangan berbulan-bulan akhirnya terbayar. Apalagi kami satu-satunya SMP negeri yang meraih juara dan bisa membawa nama Purworejo ke tingkat nasional dan internasional,” ungkapnya penuh bangga.

Prestasi ini tidak membuat Jessica berpuas diri. Ia bertekad terus mengembangkan kemampuannya di bidang geografi dan bercita-cita mengikuti Olimpiade Sains Nasional (OSN) saat mengenyam pendidikan di jenjang SMA nanti.

Keberhasilan Jessica juga tak lepas dari peran pembinaan sekolah.

Diah Larasati, Guru IPS sekaligus Pembina Olimpiade SMP Negeri 2 Purworejo, menjelaskan bahwa capaian ini merupakan hasil dari proses pembinaan yang konsisten dan berkelanjutan.

Ini tahun kedua kami mengikuti olimpiade geografi internasional. Tahun lalu meraih perunggu, dan alhamdulillah tahun ini meningkat menjadi perak. Anak-anak ini memang sudah kami siapkan sejak kelas 7, jadi tidak instan,” jelasnya.

Menurut Diah, pembinaan tidak hanya berfokus pada materi, tetapi juga pada kesiapan mental, kemandirian, kedisiplinan, dan ketahanan fisik, mengingat rangkaian lomba yang padat dan menuntut energi besar.

Dari 30 besar peserta terbaik, hanya SMP Negeri 2 Purworejo yang berasal dari sekolah negeri. Ketika nama sekolah kami disebut di peringkat tujuh, semua rasa lelah langsung terbayar,” kenangnya.

Sementara itu, Kepala SMP Negeri 2 Purworejo, Sutarto, menyampaikan apresiasi dan rasa bangganya atas prestasi yang diraih para siswa.

Kami sangat bangga dan bahagia. Saya selalu berpesan agar anak-anak terus mengembangkan budaya prestasi, baik di bidang akademik maupun non-akademik,” ujarnya.

Ia menambahkan, SMP Negeri 2 Purworejo secara konsisten melakukan pembinaan siswa berprestasi di berbagai bidang, mulai dari olimpiade sains, penelitian, seni, hingga kompetisi tingkat kabupaten, provinsi, nasional, bahkan internasional.

Prestasi ini juga didukung oleh peran orang tua serta kemandirian siswa yang luar biasa. Kami berharap budaya prestasi ini terus terjaga dan SMP Negeri 2 Purworejo semakin dikenal sebagai sekolah unggulan,” pungkasnya. (P24/wid)


Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.