Religi

Meneladani KH Yasin Yusuf Blitar, KH Achmad Chalwani Nawawi Ajak Ansor Purworejo Utamakan Khidmah di Atas Jabatan

55
×

Meneladani KH Yasin Yusuf Blitar, KH Achmad Chalwani Nawawi Ajak Ansor Purworejo Utamakan Khidmah di Atas Jabatan

Sebarkan artikel ini
KH. Achmad Chalwani Nawawi
KH. Achmad Chalwani Nawawi

PURWOREJO, purworejo24.com – Rais ‘Ali Jam’iyyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah (JATMAN), KH Achmad Chalwani Nawawi, menyampaikan pesan-pesan saat menghadiri acara pelantikan Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) pada Minggu (21/12/2025).

K.H Achmad Chalwani menyampaikan pesan mendalam kepada kader Gerakan Pemuda (GP) Ansorbyang usai dilantik agar senantiasa menempatkan khidmah di atas jabatan, serta memperkuat perjuangan organisasi dengan fondasi spiritualitas dan thariqah.

Dulu itu KH Yasin Yusuf Blitar selama hidupnya mengabdibdi MWC NU Kademangan, beliau tidak berkenan naik level diatasnya bahkan disowani untuk menjabat di PBNU Pak Yasin tidak mau,” kata K.H Achmad Chalwani.

Pesan tersebut disampaikan KH Achmad Chalwani Nawawi dengan meneladani sosok ulama kharismatik NU, KH Yasin Yusuf Bitar, yang dikenal luas sebagai figur istiqamah, rendah hati, dan konsisten mengabdi tanpa ambisi jabatan struktural.

Dalam penuturannya, KH Achmad Chalwani Nawawi mengutip pesan KH Yasin Bitar terkait makna Ansor yang pernah disampaikan dalam berbagai forum, termasuk pidato-pidato besar yang selalu dipadati jamaah.

“Kata Pak Yasin, Ansor itu singkatan dari Anti Neokolim, Subversif, Oldefos Reaksioner,” tutur KH Achmad Chalwani disambut tepuk tangan para kader Ansor.

Meski istilah tersebut lahir dari konteks zamannya, menurut beliau, substansinya tetap relevan hingga kini, yakni Ansor harus menjadi garda terdepan dalam menjaga ideologi, keutuhan bangsa, dan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah.

KH Achmad Chalwani Nawawi mengisahkan perjalanan KH Yasin Yusuf Bitar yang berkali-kali ditawari jabatan strategis di NU, mulai dari tingkat cabang, wilayah, hingga pusat. Namun, semua tawaran tersebut ditolak dengan satu jawaban sederhana

Kula MWC mawon (Saya di MWC saja),” kata KH Achmad Chalwani menirukan KH Yasin Yusuf Blitar.

Penolakan tersebut bukan karena ketidakmampuan, melainkan karena prinsip hidup yang kuat mengabdi tanpa harus memegang jabatan tinggi.

Di NU itu khidmah di atas jabatan. Tidak usah khawatir tidak menjadi pengurus, yang penting terus mengurusi umat,” tegasnya.

Nilai inilah yang ditekankan agar menjadi ruh perjuangan kader Ansor, bahwa jabatan hanyalah alat, sedangkan pengabdian adalah tujuan.

Lebih jauh, KH Achmad Chalwani Nawawi menekankan pentingnya doa, wirid, dan amalan spiritual sebagai bekal perjuangan Ansor di tengah masyarakat.

Ia membagikan pengalaman pribadinya saat masih muda, ketika akan mengikuti festival pidato. Alih-alih diberi strategi teknis, KH Yasin Bitar justru mengajarkan amalan sederhana berupa doa Nabi Musa: Rabbisrohli sadri, wayassirli amri, wahlul ‘uqdatan mil lisani yafqahu qouli.

Doa tersebut dianjurkan untuk dibaca tiga kali setiap selesai salat fardu, agar hati dilapangkan, urusan dimudahkan, dan perkataan dapat dipahami oleh masyarakat.

Bukan soal menang atau kalah, tapi orang mau mendengarkan. Dan itu terbukti, pidato saya diterima, sampai sekarang terus diundang ke berbagai daerah, bahkan luar negeri,” ungkapnya.

Menurut beliau, jika kader Ansor istiqamah mengamalkan doa tersebut, maka program-program Ansor akan lebih mudah diterima oleh masyarakat luas.

KH Achmad Chalwani Nawawi juga menyoroti peran penting santri yang telah menempuh thariqah dalam sejarah perjuangan bangsa. Ia mengutip pernyataan seorang profesor asal Belanda yang menyebut bahwa pemerintah kolonial Belanda paling takut pada santri yang telah bertarekat.

Santri yang sudah thariqah itu paling berani melawan penjajah,” katanya.

Ia mencontohkan Pangeran Diponegoro, yang memiliki nama kecil Ontowiryo, sebagai figur santri bertarekat yang menjadi simbol perlawanan terhadap penjajahan.

Pesan ini dimaksudkan untuk mengingatkan Ansor bahwa kekuatan sejati tidak hanya terletak pada fisik dan struktur organisasi, tetapi juga pada kekuatan batin dan spiritualitas.

KH Achmad Chalwani Nawawi juga mengungkapkan bahwa minat generasi muda, termasuk kader Ansor dan PMII, terhadap pembinaan thariqah terus meningkat di berbagai daerah, mulai dari Jawa, Bali, Kalimantan, hingga Jabodetabek.

Hal ini, menurutnya, merupakan tanda kebangkitan kesadaran bahwa perjuangan sosial harus diimbangi dengan penguatan ruhani.

Ansor harus tetap menjadi penjaga NKRI, NU, dan umat. Banom-banom NU Yang belum bergerak ayo digerakkan,” pungkasnya. (P24/wid)


Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.