Bencana Alam

Muara Sungai Cokroyasan Kerap Tertutup Pasir, Sawah Warga jadi Tergenang

126
×

Muara Sungai Cokroyasan Kerap Tertutup Pasir, Sawah Warga jadi Tergenang

Sebarkan artikel ini
Muara sungai Cokroyasan
Muara sungai Cokroyasan

PURWOREJO, purworejo24.com – Fenomena penutupan muara Sungai Cokroyasan yang kerap tertutup pasir kembali berdampak pada lahan pertanian di wilayah Kecamatan Ngombol dan Grabag, Purworejo.

Kondisi tersebut menyebabkan aliran air dari Sungai Jali dan Sungai Lereng tidak bisa mengalir ke laut, sehingga menimbulkan genangan yang merendam area persawahan.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Purworejo, Suparyono, menjelaskan bahwa masyarakat setempat menyebut lokasi tersebut sebagai Sowangan. Pada musim kemarau, muara sungai ini kerap tertutup oleh timbunan pasir. Akibatnya, air dari sungai yang seharusnya mengalir ke laut kembali meluap ke daratan.

Pada tanggal 24 Agustus 2025 kemarin, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Serayu Opak Yogyakarta sudah melakukan pengerukan menggunakan alat berat. Saat itu aliran air sempat lancar ke laut, tapi pada tanggal 27 Agustus sudah tertutup lagi,” jelas Suparyono.

Menurutnya, upaya pengerukan kembali dilakukan pada Kamis hingga Sabtu (28–30/8/2025). Namun, setelah alat berat ditarik ke Banyumas untuk penanganan sungai di wilayah lain, muara kembali tertutup pasir hanya sehari setelahnya.

Fenomenanya memang seperti itu. Entah karena derasnya ombak atau angin yang membawa pasir, muara selalu kembali tertutup. Jadi meskipun sudah dikeruk, hanya bertahan satu-dua hari,” ujarnya.

Kondisi ini berdampak pada lahan pertanian di sejumlah desa sekitar, seperti Depokrejo, Keburuan, dan desa lain yang dilalui Sungai Lereng.

Genangan air berpotensi merusak sawah yang sudah mendekati masa panen, bahkan bisa meluas ke pekarangan warga.

BPBD Purworejo menilai, pengerukan semata bukan solusi permanen karena membutuhkan biaya besar dan tidak efektif. Untuk itu, pihaknya berencana bersurat ke BBWS Serayu Opak agar dicarikan langkah penanganan yang lebih tepat.

Kalau hanya dikeruk, biayanya mahal dan hasilnya tidak bertahan lama. Kami berharap ada solusi yang lebih permanen, supaya masyarakat tidak terus-menerus terdampak,” pungkas Suparyono. (P24/wid)


Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.