BANYUURIP, purworejo24.com – BUMDes Harapan Jaya Desa Cengkawakrejo, Kecamatan Banyuurip, Kabupaten Purworejo, terus tancap gas menghadirkan inovasi demi memperkuat ketahanan pangan dan kemandirian ekonomi desa.
Mengacu pada petunjuk teknis Dana Desa 2025, sebanyak 20 persen dari total anggaran desa (sekitar Rp210 juta dari lebih dari Rp1 miliar) difokuskan untuk program ketahanan pangan yang sepenuhnya dikelola oleh BUMDes.
Kepala Desa Cengkawakrejo, Imlais Wiski Bagasworo, mengungkapkan bahwa anggaran ini diarahkan untuk membangun kawasan pertanian terpadu yang berlokasi di sekitar Balai Desa Cengkawakrejo.
“Kami sudah gelar musyawarah desa (musdes) dan sepakati penggunaan anggaran ini untuk membangun berbagai fasilitas. Mulai dari greenhouse untuk tanaman anggur dan melon, toilet, musala, dan tahun ini ditambah dengan biovlog, kandang ayam, kandang domba, hingga pengembangan mina padi serta tanaman hortikultura dan obat-obatan,” kata Wiski, saat ditemui di rumahnya, pada Senin (28/7/2025).
Tak hanya soal ketahanan pangan, Wiski menjelaskan bahwa program ini juga didesain sebagai media edukasi dan agrowisata.
Tujuannya, agar pertanian dan peternakan tak lagi dipandang sebelah mata, terutama oleh generasi muda.
“Pertanian kami modernisasi, seperti sistem penyiraman otomatis berbasis aplikasi untuk anggur, sampai ke peternakan yang transparan dan efisien. Kami ingin menunjukkan bahwa sektor ini menjanjikan dan berkelas,” tegasnya.
Salah satu gebrakan yang menarik perhatian adalah budidaya domba dengan sistem jual beli berbasis berat timbangan (kiloan).
Alih-alih hanya mengandalkan tampilan fisik, setiap transaksi dilakukan menggunakan alat timbang khusus yang dibawa ke lokasi transaksi.
“Lebih objektif dan menghindari praktik lama yang sering merugikan peternak,” terang Wiski.
BUMDes juga sangat menjaga kebersihan dan performa hewan ternak. Bulu domba dicukur rutin agar tampil bersih dan menarik, strategi penting untuk menjalin kemitraan dengan rumah makan sate kambing dan pembeli luar kota yang mengutamakan kualitas.
Tak berhenti di situ, wisata petik anggur pun sedang disiapkan dan ditargetkan mulai berjalan pertengahan 2026. Nantinya wisatawan bisa memetik anggur langsung dari greenhouse sambil belajar soal irigasi digital otomatis.
Untuk memperkuat karakter pertanian di tingkat dusun, desa juga menggulirkan program tanaman unggulan. Di RW 3 Pedukuhan Sutomenggalan, setiap rumah diminta menanam minimal lima pohon durian.
Sementara Pedukuhan Bowoan dan Dukuh 1 mulai mengembangkan sukun dan jeruk dekopon.
Sektor pascapanen juga tak luput dari perhatian. Desa telah membentuk Koperasi Merah Putih (KMP) yang akan mengelola hasil panen padi dan jagung secara profesional.
“Kami sedang merancang Rice Milling Unit (RMU) dan gudang padi di dekat balai desa. Hasil panen warga akan dikumpulkan dan dikelola lewat koperasi ini,” tambah Wiski.
Semua program ini diarahkan untuk menarik minat generasi muda terhadap dunia pertanian dan peternakan.
“Bertani padi secara konvensional memang kurang diminati. Tapi kalau dikelola modern, pakai teknologi, hasilnya tinggi dan menguntungkan—anak-anak muda pasti lebih tertarik,” tutup Wiski penuh semangat. (P24/wid)
Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.








