LOANO, purworejo24.com – Pemerintah Desa Banyuasin Kembaran, Kecamatan Loano, Purworejo, Jawa Tengah, bersama warga masyarakat berupaya ingin menjadikan Desa Banyuasin Kembaran menjadi desa agrowisata. Berbekal potensi sumber daya alam serta sumber daya manusia sekaligus sebagai salah satu daerah penyangga kawasan Badan Otorita Borobudur (BOB), menjadikan Desa Banyuasin Kembaran yakin bisa mewujudkan rencana itu.
Hal itu mengemuka saat dilakukan pertemuan antara Pemdes, tokoh masyarakat dan warga bersama Camat Loano, Andang Nugerahantara, dengan membahas kesiapan Desa Banyuasin Kembaran menjadi desa agrowisata, di rumah Kepala Desa setenpat, Ahmad Abdul Azis, pada Selasa (22/8/2023).
Dalam pertemuan itu dilakukan diskusi dan tukar pendapat serta memunculkan gagasan terkait keinginan Pemdes yang ingin menjadikan Desa Banyuasin Kembaran menjadi desa Agrowisata. Tak hanya diskusi, Camat Loano, Andang Nugerahantara, juga diajak langsung untuk melihat potensi Desa Banyuasin Kembaran, yakni dengan melihat pohon manggis yang sedang berbunga dan mengunjungi kerajinan tangan dari bahan baku tanaman mendong.
“Banyuasin Kembaran itu memang sejak dahulu kala itu sudah ada manggis, cuman belum menjadi sebuah brand untuk Banyuasin Kembaran, oleh karena itu saya ingin mengangkat brand manggis Banyuasin Kembaran dengan mewajibkan seluruh KK di Banyuasin Kembaran ini dengan menanam tanaman buah manggis, walaupun dulunya setiap KK sudah punya 1 atau 2 pohon, tapi sekarang saya wajibkan setiap KK untuk menanam manggis,” kata Kades Banyuasin Kembaran, Ahmad Abdul Azis, saat ditemui di rumahnya.
Diungkapkan, belum lama ini, Desa Banyuasin Kembaran mendapatkan bantuan bibit dari pemerintah. Bantuan itu diberikan dua kali, dan saat telah dibagikan kepada warga masyarakat serta telah selesai dilakukan penanaman.
“Kemarin kami mendapatkan bantuan dari dinas itu sekitar 10 ribuan bibit, itu yang pertama, dan yang kedua itu saya lupa jumlahnya tapi sudah mendapatkan lagi dan sudah dibagikan ke masyarakat, dan masyarakat sudah menanamnya. Kecuali bantuan dari dinas, masyarakat memang sudah inisiatif sendiri, semua warga telah menanam pohon manggis,” ungkapnya.
Disebutkan, Desa Banyuasin Kembaran memiliki luas sekitar 50 hektar dengan jumlah 580 Kepala Keluarga (KK). Disetiap KK itu hampir semuanya telah menanam dan memiliki pohon manggis.
“Setiap KK hampir telah menanam hingga ratusan pohon manggis. Jadi ada puluhan ribu pohon untuk jangka panjangnya. Separuh diantaranya sudah mulai berbuah dan siap dilakukan panen raya pada November hingga Desember mendatang,” lanjutnya.
Aziz berharap, dengan adanya potensi manggis itu bisa menjadi icon Desa Banyuasin Kembaran, sebagai desa penghasil manggis di Purworejo.
“Manggis bisa jadi brand Banyuasin Kembaran, jadi harapannya bukan hanya menanam tapi kami bisa mengolah mamggis, bukan saja kita ambil buah langsung, tapi mungkin di Banyuasin Kembaran ini juga bisa mengolah manggis menjadi inovasi lain, seperti menjadi juz, cemilan, lalu dijadikan obat dan sebagainya, karena manggis bisa dimanfaatkan kulitnya untuk obat,” ujarnya.
Manggis tambah Aziz, juga diharapkan bisa menjadi komoditi utama bagi warga Desa Banyuasin Kembaran, meskipun dalam hal buah, di Desa Banyuasin Kembaran juga ada buah lain, seperti duku dan durian.
“Tapi itu untuk sementara yang kami angkat di Banyuasin Kembaran ini adalah manggisnya. Harapanya kedepan kita bisa memasarkan sendiri dengan adanya membuka pasar tradisional maupun kedepan dengan membuka agrowisata. Untuk demplot manggis sudah banyak di Banyuasin Kembaran, ada beberapa titik,” tambahnya.
Selain manggis di Banyuasin Kembaran juga ada banyak kerajinan dari bahan baku tanaman mendong, dari bambu, dan kayu. Dengan potensi itu, Aziz juga berharap Banyuasin Kembaran bisa ikut mewarnai, semua masyarakat bisa beraktifitas baik lewat usaha UMKM, kuliner maupun kerajinannya.
“Salah satu faktor kami mengangkat centra manggis baik dari UMKMnya maupun kerajinanya, karena Banyuasin Kembaran ini sebagai salah satu daerah penyangga BOB, maka dari itu harapan kami masyarakat Banyuasin Kembaran tidak hanya sebagai penonton namun juga bisa sebagai pemain atau pelaku,” terangnya.
Sementara itu, Camat Loano, Andang Nugerahatara, mengatakan, Banyuasin Kembaran merupakan pintu masuk menuju kawasan BOB. Agrowisata dinilai sebagai konsep yang tepat untuk dikembangkan di wilayah ibu kota kecamatan tersebut.
“Saya sudah berkoordinasi dengan Dinas Penanaman Modal, yang harus kita persiapkan sekarang adalah data, berapa total populasi pohon manggis, hasil panenya bagaimana, rencana pemasaranya seperti apa dalam bentuk apa dan lain sebagainya. Data-data ini dibutuhkan sebagai gambaran untuk membaca peluang serta akses pasar.
Begitu pula untuk kerajinan mendong, perlu ada data yang jelas. Seberapa siap pengrajin kita, seberapa siap bahan bakunya. Bagaimana segmen pasarnya. Jangan hanya kelas lokal kita harus berani masuk di pasar global,” ujarnya.
Andang merasa yakin SDM warga serta sarana prasarana di Desa Banyuasin Kembaran sudah cukup siap. Pemerintah kecamatan pun siap untuk mencari akses, terutama terkait pengembangan inovasi serta pemasaran dan mendukung mewujudkan keinginan Pemdes bersama warga yang ingin menjadikan Desa Banyuasin Kembaran sebagai Agrowisata manggis atau centra penghasil buah manggis kedepannya.(P24/Wid)
Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.








