PURWOREJO, purworejo24.com – Pada tahun 1960 seorang ibu asal Belanda yakni Francisca Anten, mengunjungi anaknya yang bekerja di sebuah rumah sakit di Tanzania. Ibu Franciska melihat situasi pasien kusta ditempat anaknya bekerja sangat memprihatinkan.
Kemudian anaknya meminta ibu Franciska untuk mendirikan klinik khusus pasien kusta, yang saat itu tidak diterima di rumah sakit umum. Bersama anaknya, Ibu Francisca Anten mulai mengumpulkan dana di perusahan-perusahaan lokal untuk membangun klinik khusus kusta.
Ibu Francisca Anten menggunakan setiap kesempatannya berbicara di depan umum untuk mensosialisasikan kliniknya dan membagi pengetahuan tentang kusta.
Setalah sekitar 7 tahun bergelut dengan persoalan penyakit kusta, akhirnya Ibu Franciska bertemu dengan Profesor Dick Leiker dari Royal Tropical Institute (KIT), yang juga telah mengabdikan seluruh karir medisnya untuk memerangi kusta.
Dr. Dick Leiker sendiri diketahui adalah dokter kusta di Indonesia dari tahun 1949 hingga 1957. Namun pada 16 Juli 1957 Dr. Dick Leiker kembali ke Belanda dengan anak dan istrinya untuk melanjutkan S3. Di tengah perjalanan pesawat yang ditumpangi nya jatuh di laut Biak dan membuat anak dan istrinya meninggal.
“Tahun 1958 akhirnya Dr. Dick Leiker kembali ke Belanda dan tidak pernah lagi kembali ke Indonesia,” kata Communications Officer NLR Indonesia Paulan Aji melalui keterangan resminya pada Sabtu (24/12/2022).
Pada tahun 1967 mereka berdua mendirikan Yayasan Netherlands Leprosy Relief atau sekarang lebih dikenal dengan NLR. NLR didirikan di Negara Belanda pada 30 Maret 1967 dan saat ini bekerja di 5 negara di seluruh dunia.
“Kantor International ada di Belanda, untuk perwakilan ada di India, Brazil, Indonesia, Nepal dan Mozambique,” kata Paulan.
NLR sendiri mulai mendukung kegiatan penanggulangan kusta di Indonsia sejak tahun 1975. Pada tahun 1978 RSU Dr. Soetomo Surabaya menandatangi piagam kerjasama (MOU) dengan Netherlands Leprosy Relief (NLR).
“Kerjasama tersebut kemudian membuahkan banyak perubahan, antara lain perbaikan fasilitas kesehatan, peningkatan kualitas SDM dan pemberian pelayanan pengobatan gratis bagi pasien kusta di RSU Dr. Soetomo,” kata dia.
Paulan menambahkan, NLR Indonesia adalah organisasi non-pemerintahan (LSM) yang mendorong pemberantasan kusta dan inklusi bagi orang dengan disabilitas termasuk akibat kusta. Saat ini di Indonesia NLR bekerja di 12 Provinsi dari 34 provinsi yang ada.
“Setelah beberapa provinsi dinyatakan bebas kusta, saat ini NLR Indonesia fokus memberantas kusta di 12 provinsi,” kata Paulan.
Dalam memberantas kusta, NLR Indonesia bermula mitra dengan Kementerian Kesehatan, Subdit Kusta dan Frambusia dan Pengendalian kusta propinsi dan komunitas orang dengan disabilitas diantaranya UNDIP, FARHAN, GPDLI, Permata, Beskar Bone, DSM, FKDC, Comparisson, YAMAKINDO, Ayo Indonesia, Dena Upakara, Karya Bakti, So Rehab Bali, Ibu Anfrida, Mitra Netra Sulsel, Alpha Omega, Sabatu, YPCM, PHDF, Sinar Pelangi, Santa Damian Cancar, Harapan Jaya, Semangat Mulia, Yayasan Kita Juga, PPRBM Solo, Santa Lsia Virgini, Bakti Lurur, YPPCK, KPD Lamongan, DBM, Permata NTT, Mitra Netra dan IDP yang merupakan organisasi Disabilitas di Purworejo.
NLR Indonesia adalah organisasi nirlaba yang bekerja untuk menanggulangi kusta dan konsekuensinya. NLR juga mendorong pemenuhan hak anak dan kaum muda penyandang disabilitas akibat kusta dan disabilitas lainnya melalui kemitraan strategis dengan berbagi pihak.
“Kami berkomitmen tinggi Hingga Kita Bebas dari Kusta (Until No Leprosy Remains),” kata dia.(P24/Bayu)
Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.








