PURWOREJO, purworejo24.com – Progam “Ngingu Bareng Domba” yang digagas oleh Koperasi UMKM Indonesia (KOIN) akan terus dilanjutkan meski belum ada kejelasan soal pengisian kandang milik mitra. Hal itu terungkap saat audiensi antara pewarta dengan pihak KOIN yang diwakili oleh pembina KOIN yakni Reban Mirmorejo.
Saat audiensi yang digelar di Warung Makan Simbok Sastro Jalan Juanda Desa Tegalsari tersebut, Pembina KOIN, Reban Mirmorejo mengungkapkan bahwa progam Ngingu akan terus dilaksanakan meski ada beberapa kendala yang saat ini dialami progam tersebut. Pihaknya mengakui bahwa memang ada miskomunikasi antara Mitra dan pihak KOIN selaku pengelola progam tersebut.
“Kan ada miskomunikasi (antara mitra dengan KOIN), Saya akui tidak ada komunikasi, jadi kita dianggap diam padahal kita sudah siapkan dan kita bekerja,” katanya kepada purworejo24.com, Kamis (11/3/2021).
Audiensi antara pewarta dengan pihak KOIN yang diwakili oleh pembina KOIN, Reban Mirmorejo di Warung Makan Simbok Sastro, Desa Tegalsari Purworejo
Reban menyebut saat ini ada sekitar 297 kandang selesai dibangun dan semula siap diisi domba. Namun, setelah dilakukan uji coba, seluruhnya tidak sesuai kriteria yang ditetapkan jadi masih akan dilakukan perbaikan lagi agar nantinya siap digunakan.
“Yang sudah berdiri banyak, ada seribuan, tapi yang ready ditempati ada sekitar 297 kandang. Setelah diuji coba kemarin ternyata belum sempurna dan layak sehingga perlu perbaikan,” katanya.
Pada audiensi tersebut sejumlah wartawan juga menegaskan terkait kejelasan waktu realisasi pengisian domba. Reban menyatakan belum dapat memberikan kepastian. Namun, pihaknya menyatakan bahwa program Ngingu akan terus berjalan dan secepatnya akan dilakukan pengisian meskipun nantinya dilakukan secara bertahap.
“Saya pastikan bahwa program ini harus lanjut. Soal waktu dimulainya, ya dalam waktu secepat-cepatnya,” tandasnya.
Reban menambahkan, pengisian domba dapat segera terwujud. Namun, harus secara bertahap mengingat program pengemukan domba ini melibatkan banyak pihak. Rencananya, pada tahap awal KOIN akan mengutamakan bibit-bibit domba lokal. Kemudian jika bibit lokal sudah tidak mencukupi, pengisian dalam jumlah banyak akan dilakukani melalui impor bibit dari Eropa.
“Tentang pengembalian domba yang kemarin sudah diisikan ke kandang karena tidak memenuhi kriteria yang kita persyaratkan, sedangkan kalau impor sekarang memang belum memungkinkan karena kita perhitungkan minimal harus 12.000 ekor dengan ketersediaan kandang minimal 400 kandang,” sebutnya.
Pada bagian lain, Reban menjelaskan bahwa Program Ngingu yang digulirkan sejak Agustus 2019 hingga kini telah memiliki sekitar 3.000 calon mitra, meskipun ada beberapa orang yang telah menyatakan mengundurkan diri. Dengan target 10.000 kandang, Program Ngingu memiliki tujuan utama untuk mendukung ketahanan pangan di Indonesia dan menyejahterakan masyarakat dengan sistem kemitraan.
Menurut survey yang dilakukan pihak internal KOIN bahwa ketahanan pangan dan kebutuhan protein nasional 50 persen berasal dari ayam, 10 persen sapi dan Kambing baru sekitar 2 persen. Dalam hal penyertaan modal, KOIN menggandeng PT Mega Jaya Gemilang. Sementara untuk urusan pendirian kandang, PT MGJ menggandeng beberapa main contractor (Maincon) dan selanjutnya para Maincon melibatkan sejumlah subkontraktor untuk pengerjaannya.
Mengenai adanya kemelut antara PT MGJ dengan para Maincon dan Maincon dengan Subkon akibat belum terbayarnya kandang, Reban menyebut bahwa hal itu terjadi akibat dampak pandemi Covid-19 yang mengakibatkan PT MGJ kesulitan dalam hal finansial.
“Sejak Agustus 2019 sampai Februari 2020 sudah ada kontrak untuk pendirian kandang. Tapi Maret pandemi dan terkendala. PT MGJ tahun 2020 hampir tidak ada perbankan yang bisa mengeluarkan kredit sehingga terjadi keterlambatan pembayaran ke Maincon (kontraktor-red),” jelas Reban.
Reban menambahkan dengan adanya polemik tersebut, Reban mengaku bahwa KOIN juga sudah mengambil langkah untuk menyelamatkan keberlanjutan program, yakni dengan menegur pihak PT MGJ. Langkah selanjutnya yakni melakukan akuisisi PT MGJ ke perusahaan pemilik start up pertanian dan peternakan yang berkedudukan di Jakarta, PT Legon Pari.
“Betul, karena saya sebagai penggagas berpikir bahwa MGJ ada kesulitan Finance terkait dengan pandemi ini, makanya saya ambil langkah (akuisisi dari PT MGJ ke PT Legon Pari) dengan harapan agar segera terlaksana,” tandasnya (P24-Bayu/Wid)