PemerintahanPendidikanReligi

Ini Pesan Gus Muafiq dan Ganjar Pranowo di SMA 7 Purworejo

1431
×

Ini Pesan Gus Muafiq dan Ganjar Pranowo di SMA 7 Purworejo

Sebarkan artikel ini
Ganjar Pranowo dalam Acara Sarasehan dan Dialog di SMAN 7 Purworejo
Ganjar Pranowo dalam Acara Sarasehan dan Dialog di SMAN 7 Purworejo

PURWOREJO, purworejo24.com – Gus Muafiq salah satu Dai kondang Asal Yogyakarta menghadiri Sarasehan dan Dialog bersama seribuan kepala sekolah, siswa dan guru se-Karesidenan Kedu. Beliau bersama Gubernur Jawa tengah Ganjar Pranowo menjadi pemateri inti dalam acara tersebut di Gedung Wisma Budaya SMA 7 Purworejo.

Dalam ceramahnya Gus Muafiq menjelaskan tembang Jawa sebagai sarana untuk mengetahui siklus kehidupan manusia. Hal itu penting untuk dipahami agar siswa dan guru tahu posisi nya dalam siklus kehidupan, sehingga dapat bijak dalam mengambil langkah.

“Orang Jawa biar tidak lupa dengan istilah Sangkan Paraning Dumadi, Ulama terdahulu menciptakan lagu macapat, diantaranya pertama Maskumambang yaitu awal penciptaan manusia dalam istilah orang Jawa diadakanlah mitoni dan mapati untuk bersyukur kepada pencipta,” katanya.

Gus Muafiq dan Ganjar Pranowo Dalam Acara Sarasehan dan Dialog di SMAN 7 Purworejo
Gus Muafiq dan Ganjar Pranowo Dalam Acara Sarasehan dan Dialog di SMAN 7 Purworejo

Gus Muafiq ,elanjutkan, fase yang kedua yaitu Mijil, yaitu dimana manusia telah lahir didunia. Fase yang ketiga Kinanti, fase dimana anak-anak kecil harus diajari tentang ilmu dan akhlak.

“Manusia akan keluar kemanusiaannya ketika aklhaknya keluar dan jasadnya mulai dikurangi dominasinya (kurangi kemalasan),” jelasnya.

Beliau menambahkan fase keempat adalah Sinom. Sudah menjadi anak muda. fase ini biasanya anak muda sudah mulai nakal karena dalam fase ini sesorang masih labil dalam pemikiran dan tindakan. Fase kelima Asmaradana, manusia sudah mulai mengenal cinta dan semua orang pasti mengalaminya dalam proses kehidupan.

“Biasanya orang kalau sudah fase ini “Tai kucing rasa coklat” (sudah tidak bisa diberi masukan ketika sudah persoalan cinta dengan lawan jenis),” katanya.

Fase yang keenam adalah Gambuh, fase dimana manusia sudah bertemu pasangannya dan mulai membangun rumah tangga. Fase ketujuh adalah Dandanggula, fase dimana pahit manisnya kehidupan sudah mulai dirasakan seseorang.

“Dapet suami kayak Pak Bupati, duitnya banyak, pinter, ini adalah salah satu manisnya kehidupan,” katanya disambut gelak tawa para hadirin.

Lanjutnya kedelapan Durma, tembang Durma mempunyai makkna berdarma bakti seperti halnya buah pisang yang hasilnya diberikan untuk kemanfaatan manusia. Fase kesembilan Pangkur, manusia sudah mengalami kesulitan karena umur sudah mulai menua fase Kesepuluh Megatruh, yaitu fase putusnya ruh dari jasad manusia yang tak seorang pun dapat mencegahnya.

“Kesebelas Pucung, manusia dipocong. Nang neng nang nong ndang-ndang gung, nangkene yo nang kono, ndang-ndang bali nang hiyang agung sebagai musik pengingat kehidupan manusia,” tandas Gus Muwafiq.

Sementara itu dalam acara tersebut Ganjar Pranowo mengingatkan pentingnya silaturahmi agar ukhuwah pertemanan, bermasyarakat dapat terjalin antara generasi muda dan generasi yang sudah menjadi panutan sehingga menciptakan masyarakat yang sejahtera.

“Kegiatan ini dapat menjadi salah satu sarana mempererat ikatan emosional kita, walaupun kita sebelumnya belum pernah ketemu sama sekali,” katanya. (P24-Bayu)


Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.