PURWOREJO, purworejo24.com – Universitas Muhammadiyah Purworejo (UMPWR) memasuki usia ke-62 dengan semangat untuk terus bertumbuh, menghadapi perubahan zaman, sekaligus memberikan dampak yang lebih luas bagi masyarakat.
Pesan tersebut mengemuka dalam pidato ilmiah Milad ke-62 UMPWR yang disampaikan Anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Sofyan Dedy Ardyanto, di Auditorium Kasman Singodimedjo UMPWR, Kamis (24/9/2026).
Mengangkat semangat “Tumbuh, Tangguh, dan Berpengaruh”, Sofyan mengatakan ketiga kata tersebut bukan sekadar slogan, melainkan menggambarkan proses yang harus dijalani individu maupun sebuah organisasi agar mampu bertahan dan memberikan manfaat.
Menurutnya, kunci penting dari tiga konsep tersebut justru terletak pada kata “tangguh”. Sebab, pertumbuhan tanpa ketangguhan berisiko membuat seseorang maupun organisasi tidak mampu bertahan menghadapi perubahan dan tantangan.
“Banyak individu tumbuh, organisasi tumbuh, tapi kemudian cepat layu, layu sebelum berkembang. Dia tidak akan bisa membawa pengaruh, membawa dampak kalau dia tidak tangguh,” kata Sofyan.
Ia kemudian mengaitkan ketangguhan dengan konsep grit yang dikembangkan psikolog Angela Duckworth, yakni kegigihan yang disertai semangat jangka panjang. Menurut Sofyan, kegigihan tidak cukup jika hanya berlangsung sesaat.
“Tangguh adalah kombinasi antara gigih dan semangat jangka panjang. Orang boleh gigih, tapi kalau gigihnya cuma sebentar, dia belum bisa dikatakan tangguh,” ujarnya.
Untuk menggambarkan pentingnya kemampuan beradaptasi, Sofyan menggunakan filosofi rotan. Ia menyebut rotan mampu melengkung ketika menghadapi tekanan, tetapi tidak mudah patah dan dapat kembali ke bentuknya.
Ia mengatakan, individu maupun organisasi tidak bisa menghadapi zaman dengan pola pikir yang sepenuhnya sama seperti beberapa dekade sebelumnya.
“Kalau kau mau survival, kalau kau mau bertahan dan berkembang, maka kau harus senantiasa mengikuti spirit zaman, state of mind zaman. Kau tidak bisa hidup dengan konsep tahun ’50-an untuk hidup di tahun 2020-an,” tuturnya.
Menurut dia, kemampuan beradaptasi bukan berarti kehilangan prinsip. Justru prinsip harus tetap dijaga, sementara cara menghadapi perubahan dapat disesuaikan dengan perkembangan zaman.
“Kalau boleh saya mau mengumpamakan seperti UMP ini, seperti Muhammadiyah ini, ini seperti rotan. Seperti rotan, dia bisa melengkung tanpa patah,” katanya.
Dalam konteks tersebut, Sofyan memberikan apresiasi terhadap Muhammadiyah yang menurutnya telah menunjukkan ketangguhan dalam perjalanan panjang membangun pendidikan dan sumber daya manusia.
Setelah tumbuh dan tangguh, Sofyan menilai tahap berikutnya adalah bagaimana keberadaan seseorang maupun institusi mampu memberikan pengaruh atau dampak bagi lingkungan.
Ia mengangkat filosofi Jawa “ngadeg melu memayu hayuning bawana”, yang dimaknainya sebagai upaya untuk turut memberikan kebaikan bagi kehidupan.
Konsep tersebut, kata dia, dapat dimulai dari bawana alit, yakni keluarga, kemudian bawana madya, yakni masyarakat, hingga bawana ageng, yakni bangsa dan negara.
“Bagi saya, puncak dari konsep membawa pengaruh adalah bisa ngadeg melu memayu hayuning bawana,” ujarnya.
Sofyan kemudian mengaitkan filosofi tersebut dengan perjalanan UMPWR. Ia menyebut perjalanan kampus yang bermula dari IKIP Muhammadiyah Magelang Cabang Purworejo pada 1964, kemudian menjadi FKIP Muhammadiyah Purworejo pada 1983, hingga bertransformasi menjadi Universitas Muhammadiyah Purworejo pada 1999.
Menurutnya, perjalanan tersebut menunjukkan proses pertumbuhan sekaligus ketangguhan sebuah institusi pendidikan dalam menghadapi perubahan.
“Kampus ini sudah tumbuh! Kampus ini juga telah membuktikan dirinya sebagai kampus yang tangguh, bertahan dan terus melakukan adaptasi regulasi dari masa ke masa,” katanya.
Ia juga menilai UMPWR telah memberikan pengaruh melalui alumni yang tersebar di berbagai bidang, mulai dari pendidikan, pemerintahan hingga industri.
Dalam pidatonya, Sofyan juga menekankan pentingnya membangun hubungan dan kolaborasi di tengah perbedaan latar belakang maupun pilihan politik.
Ia mencontohkan komunikasinya dengan sesama anggota DPR RI dari daerah pemilihan yang sama, termasuk Bramantyo dari Partai Demokrat. Menurutnya, perbedaan partai tidak seharusnya menjadi penghalang untuk bekerja sama.
“Karena kita tidak boleh kemudian bertengkar hanya karena berbeda warna baju seragam. Justru saya dan Mas Bram ini saling sering koordinasi dan melengkapi,” ungkapnya.
Ia menyebut semangat tersebut sebagai “silih mewangi”, yakni saling memberikan manfaat dan menguatkan, bukan saling menjatuhkan.
“Indah kalau negara ini isinya para tokohnya, para cendekiawannya ini saling silih mewangi, bukan saling menghujat satu sama lain,” katanya.
Sementara itu, Anggota Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. H. Sutrisno, M.Ag., mengatakan momentum Milad ke-62 dapat menjadi sarana evaluasi sekaligus refleksi bagi UMPWR.
Ia menyebut berbagai paparan dalam rangkaian Milad, termasuk evaluasi dan pemaparan perkembangan kampus, dapat menjadi bahan untuk menentukan langkah pengembangan UMPWR ke depan.
“Jadi setelah sekian banyak rangkaian tadi, dalam bentuk kesyukuran dengan data demi data dari seluruh komponen, seluruh elemen disampaikan oleh Pak Rektor relatif lengkap datanya, dokumennya, progresnya kelihatan,” kata Sutrisno.
Menurutnya, dari proses tersebut telah terlihat berbagai hal yang perlu dilakukan dalam jangka pendek, menengah, maupun panjang.
Sutrisno mendorong pimpinan UMPWR untuk terus memperkuat komunikasi dengan Majelis Diktilitbang, perguruan tinggi Muhammadiyah-‘Aisyiyah (PTMA), serta berbagai mitra strategis dalam rangka pengembangan kampus.
Ia juga menyoroti pentingnya persiapan menuju akreditasi institusi unggul. Menurutnya, UMPWR telah memiliki sejumlah modal, antara lain perkembangan akreditasi program studi, sumber daya manusia, tata kelola, sarana prasarana, serta perkembangan pendapatan non-SPP.
“Ini saya kira menjadi kekuatan yang sangat bagus. Mungkin ini juga perlu dielaborasi lebih detail, sehingga nanti ketika menyiapkan untuk akreditasi, terutama untuk institusi, saya kira ini menjadi keunggulan tersendiri,” jelasnya.
Selain akreditasi institusi, Sutrisno mendorong UMPWR menyiapkan pembukaan program studi baru yang sesuai dengan kebutuhan dan minat masyarakat Purworejo serta wilayah sekitarnya.
Menurutnya, pembukaan program studi baru menjadi salah satu strategi yang dapat mendukung peningkatan jumlah mahasiswa baru, sekaligus memperkuat posisi perguruan tinggi dalam menghadapi perubahan kebutuhan pendidikan.
“Tidak bisa bekerja sendirian. Sebagaimana yang sudah berjalan selama ini, Universitas Muhammadiyah Purworejo ini kan sudah lama bersama-sama dengan UMS, bersama-sama dengan UMY. Ini barangkali bisa diintensifkan lagi,” katanya.
Ia berharap kolaborasi dengan PTMA, pemerintah daerah, mitra kerja, serta berbagai pemangku kepentingan dapat terus diperkuat.
Dengan semangat “Tumbuh, Tangguh, dan Berpengaruh”, Milad ke-62 UMPWR tidak hanya menjadi momentum perayaan perjalanan panjang kampus, tetapi juga refleksi untuk menyiapkan langkah pengembangan pada masa mendatang.
“Selamat ulang tahun Universitas Muhammadiyah Purworejo yang ke-62. Tumbuh, Tangguh, Berpengaruh,” pungkas Sofyan. (P24/wid)
Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.









