PURWOREJO, purworejo24.com – Pembangunan boleh memiliki batas waktu, tetapi kebersamaan yang tumbuh di dalamnya tidak selalu berakhir ketika pekerjaan selesai. Begitulah suasana yang mulai terasa di Desa Watuduwur, Kecamatan Bruno, Kabupaten Purworejo, menjelang berakhirnya pelaksanaan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Reguler ke-129 Kodim 0708/Purworejo.
Memasuki hari-hari terakhir pelaksanaan TMMD, Senin (10/8/2026), suasana haru mulai menyelimuti warga dan anggota Satgas. Selama kurang lebih satu bulan, prajurit TNI dan masyarakat tidak hanya bertemu di lokasi pembangunan, tetapi juga berbagi cerita, makan bersama, bercanda, hingga saling membantu dalam berbagai aktivitas sehari-hari.
Kedekatan itu tumbuh secara alami dari rutinitas yang dilakukan bersama. Di sela-sela pengerjaan sasaran fisik, warga dan anggota Satgas kerap duduk bersama melepas lelah. Percakapan sederhana dan canda di tengah pekerjaan perlahan membangun ikatan kekeluargaan.
Kini, ketika waktu penutupan TMMD semakin dekat, kebiasaan tersebut harus segera berakhir. Prajurit yang selama sebulan hadir di tengah-tengah masyarakat akan kembali melanjutkan tugas di satuannya masing-masing.
Bagi warga Watuduwur, perpisahan itu bukan perkara mudah.
Sugiono, salah satu warga Desa Watuduwur, mengaku senang sekaligus merasa berat dengan berakhirnya program TMMD. Menurutnya, selama sebulan keberadaan Satgas telah menjadi bagian dari keseharian masyarakat.
“Selama satu bulan ini kami sudah seperti keluarga. Hampir setiap hari bertemu, bekerja bersama, makan bersama, dan saling bercanda. Jadi kalau nanti Bapak-Bapak TNI kembali, pasti terasa sepi,” ujar Sugiono.
Menurut Sugiono, manfaat TMMD yang dirasakan masyarakat tidak hanya berupa pembangunan infrastruktur. Lebih dari itu, program tersebut menghadirkan pengalaman tentang pentingnya kebersamaan dan gotong royong dalam menyelesaikan persoalan di desa.
“Kami sangat berterima kasih kepada TNI. Banyak sekali yang sudah dilakukan untuk desa kami. Semoga hubungan baik ini tidak berhenti meskipun TMMD sudah selesai,” katanya.
Ia juga berharap hasil pembangunan yang telah dikerjakan bersama dapat dijaga dan dimanfaatkan masyarakat dalam jangka panjang.
“Kalau bisa jangan dilupakan kami di sini. Kami juga tidak akan melupakan Bapak-Bapak TNI yang sudah bekerja bersama kami,” ungkapnya.
Bagi Satgas TMMD, Desa Watuduwur pun bukan lagi sekadar lokasi penugasan. Selama hampir satu bulan, desa tersebut menjadi ruang bertemunya prajurit dengan masyarakat dalam semangat gotong royong.
Di sana, pembangunan jalan dan sasaran fisik lainnya memang menjadi pekerjaan utama. Namun, di balik pembangunan tersebut tumbuh sesuatu yang tidak dapat diukur dengan angka, yakni rasa saling percaya, kepedulian, dan persaudaraan.
Ketika TMMD Reguler ke-129 resmi ditutup pada 13 Agustus 2026 nanti, pekerjaan fisik mungkin telah selesai dan Satgas akan meninggalkan Desa Watuduwur. Namun, bagi warga dan prajurit yang selama sebulan bekerja bersama, cerita tentang kebersamaan itu akan menjadi bagian yang tetap dikenang.
TMMD pun meninggalkan pesan sederhana: membangun desa bukan hanya tentang membangun jalan dan fasilitas, tetapi juga tentang membangun kedekatan, kepedulian, serta semangat gotong royong antara TNI dan rakyat.
Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.









