PURWOREJO, purworejo24.com – Upaya merawat jejak sejarah di Kabupaten Purworejo terus dilakukan. Salah satunya melalui pemugaran sejumlah makam yang teridentifikasi merupakan makam Belanda Hitam atau Londo Ireng di kompleks Makam Kerkhof Purworejo.
Perawatan makam tersebut dilakukan Yayasan Kampung Afrikan sebagai bagian dari upaya menjaga warisan sejarah sekaligus membantu keluarga keturunan Londo Ireng yang ingin menemukan dan merawat makam leluhurnya.
Pengurus Yayasan Kampung Afrikan, Samuel Cahyo Pranowo, mengatakan, gagasan tersebut bermula dari aktivitas Yayasan Kampung Afrikan dalam mengembangkan Galeri Sejarah Kampung Afrikan.
Galeri itu kemudian menarik perhatian sejumlah pengunjung dari Belanda yang datang ke Purworejo untuk menelusuri jejak keluarga dan leluhur mereka.
“Awalnya kami membuat Galeri Sejarah Kampung Afrikan. Banyak pengunjung dari Belanda datang untuk mencari leluhurnya atau keluarganya pada masa lalu. Mereka kemudian memberikan dokumen, yang kami sandingkan dengan dokumen dari Pemerintah Kabupaten Purworejo,” kata Cahyo, Sabtu (22/8/2026).
Dari penelusuran dokumen tersebut, sejumlah lokasi makam Londo Ireng berhasil diidentifikasi. Temuan itu kemudian mendorong pihak keluarga untuk mempertahankan makam leluhur mereka agar tetap dikenali oleh generasi berikutnya.
“Ketika ketemu makamnya, mereka ingin mempertahankan. Karena itu kami membantu merenovasi makam-makam tersebut,” ujarnya.
Saat ini, total terdapat tujuh makam yang menjadi bagian dari upaya perawatan tersebut.
Lima makam telah selesai diperbaiki, sedangkan dua makam lainnya masih dalam proses pengerjaan dan ditargetkan rampung dalam beberapa hari.
Menurut Cahyo, bentuk makam yang ditemukan setidaknya memiliki dua model, yakni berbentuk seperti menara dan model menyerupai peti.
Perbedaan bentuk tersebut diduga berkaitan dengan keluarga atau masa pembangunan masing-masing makam.
Beberapa makam yang telah diperbaiki antara lain berasal dari keluarga De Ruiter, Keijzer, Gerrit Artz, Land dan Beelt. Identifikasi makam dilakukan dengan mencocokkan dokumen sejarah, catatan keluarga, serta petunjuk lain yang masih tersisa di lokasi.
Salah satu makam, misalnya, dapat dikenali melalui dokumentasi lama yang dimiliki keluarga. Foto tersebut kemudian dicocokkan dengan kondisi lingkungan makam sehingga posisi makam dapat ditemukan.
Keberadaan makam-makam tersebut tidak dapat dilepaskan dari sejarah panjang masyarakat Afrika yang pernah menjadi bagian dari kehidupan Purworejo pada masa kolonial.
Dalam catatan sejarah yang dihimpun Yayasan Kampung Afrikan, setelah Perang Jawa 1825–1830, pemerintah kolonial Belanda mengalami kekurangan pasukan. Mulai 1831, orang-orang dari Afrika Barat, khususnya wilayah yang berkaitan dengan bekas Kerajaan Ashanti, direkrut untuk bergabung dengan Koninklijk Nederlands-Indisch Leger (KNIL).
Dalam periode 1831–1872, sekitar 3.080 orang Afrika direkrut dan ditempatkan di berbagai wilayah Hindia Belanda. Sebagian di antaranya ditempatkan di Purworejo yang kala itu dikenal sebagai wilayah Kedong Kebo.
Karena berkulit hitam tetapi mengenakan seragam Belanda, masyarakat setempat kemudian menyebut mereka sebagai Londo Ireng, yang secara harfiah berarti “Belanda Hitam”. Dalam bahasa Belanda mereka dikenal sebagai Zwarte Hollanders.
Keberadaan mereka kemudian berkembang menjadi bagian dari sejarah sosial Purworejo. Tidak sedikit di antara mereka yang menikah dengan perempuan lokal dan memiliki keturunan.
Salah satu contoh yang disebut Cahyo adalah Gerrit Artz, yang menikah dengan perempuan Jawa bernama Sarinem. Jejak keluarga tersebut bahkan masih dapat ditelusuri hingga generasi keturunannya yang kini berada di Belanda.
Jejak kehidupan komunitas Londo Ireng juga masih dapat ditelusuri di Kampung Afrikan.
Berdasarkan dokumen sejarah yang dihimpun yayasan, pada 1859 pemerintah kolonial menyediakan lahan khusus bagi masyarakat Afrika tersebut.
Penyediaan lahan itu berkaitan dengan Keputusan Gubernemen tertanggal 30 Agustus 1859 Nomor 25. Lahan tersebut digunakan untuk tempat tinggal sekaligus kegiatan bertani dan berkebun.
Pada masa lalu, kawasan tersebut dihuni puluhan keluarga. Cahyo menyebut berdasarkan peta kuno, terdapat sekitar 26 keluarga beserta lahan lainnya.
Kehidupan komunitas tersebut berlangsung hingga masa pendudukan Jepang. Setelah itu, sebagian besar keluarga berpindah, termasuk ke Bandung. Pada dekade berikutnya, sebagian keturunan mereka kemudian berpindah dan menetap di Belanda.
Kini, jejak fisik kawasan tersebut semakin terbatas. Cahyo menyebut masih ada sekitar tujuh rumah yang relatif mempertahankan bentuk lamanya, meskipun kepemilikannya kini merupakan milik pribadi.
Karena itu, keberadaan Galeri Sejarah Kampung Afrikan dinilai penting sebagai ruang edukasi untuk memperkenalkan sejarah tersebut kepada masyarakat.

Selain Kampung Afrikan, kompleks Kerkhof Purworejo juga menjadi bagian penting dalam upaya penelusuran sejarah.
Cahyo menjelaskan, berdasarkan informasi yang mereka himpun, dahulu terdapat sejumlah kompleks pemakaman Eropa di wilayah Purworejo. Saat ini, sebagian jejaknya telah hilang atau sulit ditelusuri karena kondisi makam yang tidak lagi utuh.
Di Kerkhof Purworejo, penelusuran relatif lebih memungkinkan karena pembagian blok makam masih dapat dikenali. Kompleks tersebut terbagi dalam enam bagian, yakni 1A, 1B, 2A, 2B, 3A, dan 3B.
Kondisi tersebut menjadi modal penting untuk melakukan pencocokan antara makam yang ada di lapangan dengan dokumen sejarah maupun arsip keluarga.
Menurut Cahyo, pemugaran bukan sekadar memperbaiki bangunan makam. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga informasi sejarah agar tidak terputus.
“Harapan kami bisa membantu orang-orang yang datang untuk mencari makam atau latar keluarganya. Pelacakannya memang tidak mudah, sehingga kami mencoba menghubungkan dokumen pemerintah Purworejo dengan dokumen dari Belanda,” jelasnya.
Kunjungan keturunan Londo Ireng dari Belanda ke Purworejo masih berlangsung. Bahkan pada 2 Agustus 2026, terdapat kunjungan dari Belanda untuk menelusuri jejak leluhur mereka.
Selain keluarga, kawasan Kampung Afrikan dan Kerkhof juga mulai menarik perhatian pengunjung internasional. Sebelumnya, akademisi dari Jepang juga datang untuk melihat peninggalan yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat Belanda Hitam di Purworejo.
Cahyo menilai, setiap kunjungan sering membawa cerita dan informasi baru. Karena itu, pihaknya berupaya mengembangkan Galeri Sejarah Kampung Afrikan sebagai tempat bertukar informasi sekaligus ruang edukasi sejarah.
“Setiap yang datang selalu membawa cerita baru. Ada yang datang menemukan makam keluarganya, ada juga organisasi dari Belanda yang memberikan masukan dan dukungan,” tuturnya.
Ia berharap upaya merawat makam dan peninggalan sejarah tersebut dapat terus berlanjut dengan dukungan berbagai pihak.
Bagi Cahyo, merawat makam Belanda Hitam bukan semata-mata mempertahankan bangunan lama. Di balik setiap makam terdapat nama, keluarga, perjalanan hidup, serta bagian dari sejarah Purworejo yang pernah membentuk kehidupan masyarakat setempat.
Dengan demikian, pemugaran makam di Kerkhof diharapkan tidak berhenti pada perbaikan fisik, tetapi juga menjadi pintu untuk menghidupkan kembali ingatan sejarah, memperkuat literasi sejarah lokal, serta membuka ruang bagi generasi muda untuk memahami keberagaman perjalanan masyarakat Purworejo.
Sejarah Londo Ireng pun tidak sekadar menjadi cerita masa lalu, tetapi dapat terus dipelajari, didokumentasikan, dan diwariskan kepada generasi mendatang. (P24/wid)
Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.



