PURWOREJO, purworejo24.com – Perubahan karakter peserta didik yang semakin kritis, aktif, dan akrab dengan teknologi menjadi tantangan baru bagi dunia pendidikan.
Menjawab tantangan tersebut, Madrasah Aliyah (MA) An-Nawawi Berjan, Kabupaten Purworejo, menggelar In House Training (IHT) bertema Manajemen Pengelolaan Kelas bagi Guru MA An-Nawawi Berjan Purworejo.
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, Kamis-Jumat (9-10 Juli 2026), ini menjadi bagian dari upaya madrasah meningkatkan kompetensi tenaga pendidik agar mampu menciptakan suasana belajar yang lebih efektif, adaptif, sekaligus menyenangkan bagi siswa.
Sebanyak 75 guru mata pelajaran dan guru bimbingan konseling (BK) mengikuti pelatihan tersebut. Selain itu, sembilan guru dari MI Unggulan An-Nawawi Kemiri juga bergabung sebagai peserta. Seluruh peserta dipersiapkan untuk mendukung proses pembelajaran di 36 rombongan belajar yang dimiliki MA An-Nawawi Berjan.
Pembukaan kegiatan dilakukan oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Purworejo, H. Mukhlis Abdillah, S.Ag., M.H. Acara tersebut juga dihadiri Pengawas Madrasah H. Ayub Heri Santoso, M.Pd., Ketua Yayasan An-Nawawi K.H.R. M. Maulana Alwi, S.H., beserta jajaran pengurus yayasan dan tamu undangan lainnya.
Ketua Panitia IHT, Khoirina Fikri Nugraheni, M.Pd.Gr., menjelaskan bahwa pelatihan tersebut merupakan agenda rutin tahunan yang selalu diselenggarakan menjelang dimulainya tahun ajaran baru. Namun, tema yang diangkat setiap tahun disesuaikan dengan kebutuhan paling mendesak di lingkungan madrasah.
“Tahun lalu kami mengangkat tema media pembelajaran. Sementara tahun ini kami memilih manajemen pengelolaan kelas karena melihat perkembangan karakter siswa yang semakin dinamis dan kritis. Guru perlu memiliki strategi yang tepat agar proses belajar mengajar tetap berjalan efektif,” ujarnya saat ditemui di sela-sela kegiatan, Jumat (10/7/2026).
Menurut Khoirina, penentuan tema pelatihan dilakukan berdasarkan hasil evaluasi dan analisis terhadap berbagai persoalan yang dihadapi guru di ruang kelas. Perubahan perilaku siswa menjadi salah satu perhatian utama karena menuntut pendekatan pembelajaran yang lebih fleksibel dibanding beberapa tahun sebelumnya.
Ia menilai guru tidak lagi cukup menguasai materi pelajaran, tetapi juga harus mampu membangun komunikasi yang baik, menyusun kontrak belajar sejak awal pertemuan, serta menciptakan lingkungan belajar yang mampu mendorong partisipasi aktif peserta didik.
“Anak-anak sekarang lebih berani menyampaikan pendapat dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Karena itu guru perlu memiliki kemampuan mengelola kelas agar interaksi belajar tetap positif dan tujuan pembelajaran dapat tercapai,” katanya.
Selama pelaksanaan IHT, peserta memperoleh materi selama 16 jam pelajaran yang disampaikan oleh dua Widyaiswara Balai Diklat Keagamaan (BDK) Semarang, yakni Samsul Falak, S.S., M.Pd., dan Achmad Subkhan, S.H.I., M.S.I.
Pada hari pertama, Samsul Falak membawakan materi bertajuk “Arsitektur Kelas Preventif”. Materi tersebut membahas berbagai strategi menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, mulai dari memahami psikologi perkembangan remaja berdasarkan teori Identity versus Role Confusion karya Erik Erikson, penyusunan kontrak belajar secara partisipatif, hingga pengaturan tata letak ruang kelas yang lebih fleksibel.
Guru juga dikenalkan dengan berbagai model penataan ruang, seperti U-Shape, Cluster, dan Double Aisle, yang dinilai mampu meningkatkan interaksi antara guru dan peserta didik selama proses pembelajaran berlangsung.
Selain itu, peserta mendapatkan pembekalan mengenai pemanfaatan teknologi digital dalam pembelajaran, termasuk penggunaan visual timer dan anchor activities untuk mengisi waktu transisi sehingga suasana kelas tetap terkendali dan fokus belajar siswa tidak mudah terpecah.
Sementara itu, pada hari kedua, Achmad Subkhan menyampaikan materi bertajuk “Manuver Responsif Taktis”.
Materi tersebut mengupas berbagai teknik menghadapi perilaku siswa di dalam kelas, mulai dari klasifikasi gangguan perilaku melalui matriks triase, pendekatan guru menggunakan kendali proksimitas dan pemanfaatan bahasa tubuh
“Selain itu ada jugateknik isyarat nonverbal saat melakukan koreksi, hingga penyelesaian konflik melalui pendekatan Segitiga Restitusi,” katanya.
Khoirina berharap seluruh ilmu yang diperoleh selama pelatihan tidak berhenti sebagai materi di ruang kelas pelatihan, tetapi benar-benar diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar sehari-hari.
“Harapannya seluruh guru dapat mengimplementasikan strategi yang telah dipelajari sehingga pembelajaran menjadi lebih adaptif, inklusif, dan mampu menjawab tantangan pendidikan di era sekarang. Guru tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga mampu membangun kelas yang nyaman, produktif, dan mendorong siswa berkembang secara optimal,” tuturnya. (P24-byu)
Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.









