Pendidikan

100 Pelajar Purworejo Deklarasikan “Aku Peduli, Sekolah Harmoni”, Perkuat Gerakan Sekolah Ramah Anak dan Bebas Bullying

1
×

100 Pelajar Purworejo Deklarasikan “Aku Peduli, Sekolah Harmoni”, Perkuat Gerakan Sekolah Ramah Anak dan Bebas Bullying

Sebarkan artikel ini
Saat deklarasi
Saat deklarasi

PURWOREJO, purworejo24.com – Komitmen mewujudkan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, inklusif, dan bebas dari perundungan terus diperkuat di Kabupaten Purworejo.

Sebanyak 100 perwakilan siswa SMA, SMK, dan MA sederajat dari berbagai sekolah mendeklarasikan gerakan “Aku Peduli, Sekolah Harmoni: Menjadi Pelopor Budaya Peduli, Saling Menghargai, dan Bertumbuh Bersama” dalam Workshop Interaktif yang berlangsung di Aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Purworejo, Kamis (30/7/2026).

Deklarasi tersebut menjadi puncak kegiatan yang diselenggarakan Pawirosastro Foundation for Law, Justice, and Society Empowerment bekerja sama dengan Paguyuban Muda Ganesha (PMG) Alumni SMA Negeri 1 Purworejo, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Purworejo, serta didukung Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak DPPPAPMD Kabupaten Purworejo.

Kegiatan yang digelar dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional 2026 itu bertujuan membangun kesadaran generasi muda bahwa setiap siswa memiliki peran penting dalam menciptakan budaya sekolah yang saling menghormati, peduli, dan bebas dari segala bentuk kekerasan.

Di tengah meningkatnya perhatian terhadap kasus perundungan di lingkungan pendidikan, para peserta dibekali pengetahuan sekaligus keterampilan agar mampu menjadi agen perubahan di sekolah masing-masing. Mereka didorong untuk berani membangun budaya saling menghargai, mendukung teman yang membutuhkan, serta menjadi bagian dari solusi ketika terjadi permasalahan.

Wakil Ketua Paguyuban Muda Ganesha, Hermawan Wahyu Utomo, S.T., M.Si., menegaskan bahwa persoalan bullying merupakan tanggung jawab bersama yang harus diselesaikan melalui kolaborasi berbagai pihak.

“Bullying merupakan persoalan bersama yang membutuhkan kolaborasi antara sekolah, keluarga, pemerintah, organisasi masyarakat, dan terutama para siswa sebagai bagian dari solusi. Kami berharap peserta workshop ini mampu menjadi pelopor yang menghidupkan budaya saling peduli di sekolah masing-masing,” ujarnya.

Senada dengan itu, Direktur Eksekutif Pawirosastro Foundation, Eka Puspasari, S.Sos., mengatakan perubahan budaya sekolah harus dimulai dari kesadaran setiap peserta didik.

“Sekolah yang aman, ramah, dan harmonis lahir dari budaya saling peduli. Melalui workshop ini kami ingin mengajak seluruh siswa di Purworejo untuk saling menghargai, saling mendukung, dan tumbuh bersama demi terciptanya lingkungan belajar yang nyaman bagi setiap anak,” ungkapnya.

Workshop tidak hanya menghadirkan materi teoritis, tetapi juga pembelajaran yang aplikatif. Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak DPPPAPMD Kabupaten Purworejo, Henny Safaryuni Tataningsih, S.H., M.A.P., memberikan pemahaman mengenai berbagai bentuk bullying, dampaknya terhadap perkembangan anak, hingga mekanisme pelaporan dan penanganan yang tepat.

Suasana diskusi berlangsung interaktif. Para siswa saling berbagi pengalaman mengenai bentuk-bentuk perundungan yang masih dijumpai di lingkungan sekolah, sekaligus belajar bagaimana memberikan dukungan kepada korban dan melaporkan kasus sesuai prosedur yang berlaku.

Untuk memperkuat pemahaman, peserta dibagi ke dalam sepuluh kelompok dan diajak menganalisis berbagai studi kasus yang menggambarkan persoalan nyata di lingkungan sekolah maupun keluarga.

Dengan pendampingan fasilitator dari Pawirosastro Foundation, Paguyuban Muda Ganesha, serta Forum Komunikasi Anak Kabupaten Purworejo (FORKARE), mereka belajar mengidentifikasi akar persoalan, memahami berbagai sudut pandang, menyusun solusi, hingga mempresentasikan hasil diskusi.

Seluruh rangkaian kegiatan dipandu oleh Mastri Imammusadin, S.H., Manajer Program Pawirosastro Foundation, sehingga suasana belajar berlangsung dinamis, partisipatif, dan mendorong keberanian peserta menyampaikan gagasan.

Pada sesi penutup, peserta mengikuti refleksi bersama Abdul Wahab, S.Pd.I., M.Pd.I. (Kak Awe), pemerhati anak sekaligus pendongeng nasional. Melalui pendekatan yang hangat dan inspiratif, peserta diajak memahami bahwa empati, kepedulian, dan penghargaan terhadap sesama merupakan fondasi utama dalam membangun sekolah yang damai dan ramah anak.

Sebagai simbol komitmen, seluruh peserta menerima PIN Pelopor Budaya Peduli, yang menandai kesiapan mereka menjadi agen perubahan di lingkungan sekolah masing-masing. Gerakan ini juga tidak berhenti pada workshop semata, tetapi akan dilanjutkan melalui program pendampingan dan monitoring selama enam bulan agar nilai-nilai yang telah dipelajari benar-benar diterapkan dalam kehidupan sekolah.

Puncak kegiatan ditandai dengan pembacaan dan penandatanganan Deklarasi “Aku Peduli, Sekolah Harmoni”. Dalam deklarasi tersebut, seluruh peserta berkomitmen menjadi pelopor budaya saling peduli, menolak segala bentuk bullying, kekerasan, diskriminasi, dan intoleransi, serta berani mengambil langkah yang tepat ketika menemukan tindakan kekerasan terhadap sesama.

Gerakan ini diharapkan menjadi tonggak lahirnya budaya sekolah yang semakin aman, inklusif, dan ramah anak di Kabupaten Purworejo. Dengan melibatkan siswa sebagai pelopor, upaya pencegahan perundungan tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah atau pemerintah, tetapi tumbuh menjadi gerakan bersama yang memperkuat karakter, empati, dan kepedulian antarsesama.

Melalui semangat “Aku Peduli, Sekolah Harmoni”, diharapkan lahir generasi muda Purworejo yang tidak hanya berprestasi secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat, menghargai keberagaman, menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, serta mampu menciptakan lingkungan belajar yang aman dan menyenangkan bagi seluruh peserta didik. (P24/wid)


Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.