PURWOREJO, purworejo24.com – Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Purworejo, Yudhie Agung Prihatno, menyatakan pihaknya hingga kini belum menerima informasi resmi terkait wacana penerapan pembelajaran daring secara luas di tengah situasi global saat ini.
Hal tersebut disampaikan Yudhie usai mengikuti acara halal bihalal bersama keluarga besar Disdikbud Purworejo di kantor dinas setempat, Rabu (25/3/2026).
Ia menjelaskan bahwa informasi yang beredar sejauh ini masih sebatas kabar dari media sosial dan percakapan informal.
“Secara resmi kami belum menerima informasi tersebut. Memang ada beberapa informasi dari media sosial maupun rekan-rekan, namun masih dalam tahap wacana,” ujarnya.
Menurut Yudhie, dunia pendidikan tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga mencakup pembentukan karakter peserta didik. Ia menilai, pembelajaran daring memiliki kelebihan dari sisi kepraktisan dan pemanfaatan teknologi, namun juga memiliki sejumlah keterbatasan, terutama dalam membangun interaksi dan pengawasan.
“Anak-anak usia SD dan SMP berada pada fase perkembangan yang kompleks dan membutuhkan perhatian menyeluruh. Interaksi langsung antara guru dan siswa sangat penting untuk pembentukan karakter. Jika pembelajaran dilakukan secara daring, pengawasan dan komunikasi tidak bisa optimal,” jelasnya.
Ia menambahkan, dalam praktiknya pembelajaran daring juga menghadapi berbagai kendala, seperti keterbatasan jaringan internet serta kurangnya pengawasan dari orang tua. Kondisi tersebut berpotensi membuat proses belajar tidak berjalan maksimal.
“Secara teknis, kita juga masih menghadapi kendala jaringan. Bahkan dalam kegiatan daring tingkat pusat sekalipun, gangguan masih sering terjadi. Ini tentu berbeda dengan pembelajaran tatap muka,” imbuhnya.
Oleh karena itu, Disdikbud Purworejo berharap pemerintah dapat mempertimbangkan berbagai aspek secara komprehensif sebelum mengambil kebijakan terkait metode pembelajaran. Meski demikian, pihaknya menyatakan siap mengikuti keputusan yang nantinya ditetapkan.
“Kami siap melaksanakan kebijakan apa pun, baik daring maupun luring. Namun, jika diminta memberikan masukan, kami lebih memilih pembelajaran tatap muka karena dinilai lebih efektif,” tegas Yudhie.
Saat ini, Disdikbud Purworejo tetap fokus mempersiapkan kegiatan belajar mengajar secara langsung yang dijadwalkan dimulai kembali pada 30 Maret 2026. Jika nantinya ada kebijakan pembelajaran daring, pihaknya akan menyiapkan sarana dan prasarana pendukung secara optimal, termasuk memperkuat komunikasi antara guru, siswa, dan orang tua.
“Peran orang tua sangat penting dalam mendampingi anak saat pembelajaran daring agar proses pendidikan tetap berjalan baik,” tambahnya.
Sementara itu, berdasarkan informasi yang beredar di sejumlah media, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno menegaskan bahwa pembelajaran siswa diutamakan tetap dilaksanakan secara luring di tengah situasi krisis global.
Keputusan tersebut merupakan hasil koordinasi dengan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah serta Menteri Agama. Pratikno menekankan pentingnya menjaga kualitas pembelajaran agar tidak terjadi learning loss.
Arahan tersebut disampaikan dalam rapat internal Kemenko PMK pada Senin (23/3/2026), sekaligus menindaklanjuti arahan Presiden agar kondisi krisis global dimanfaatkan sebagai momentum percepatan transformasi nasional, termasuk di sektor pendidikan. (P24/wid)
Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.








