KALIGESING, purworejo24.com – Harga kambing Peranakan Etawa (PE) di Kabupaten Purworejo, khususnya wilayah Kaligesing, saat ini mengalami penurunan signifikan akibat melemahnya permintaan pasar.
Kondisi tersebut dirasakan langsung oleh para peternak, termasuk Ketua Kelompok Tani Wira Mandiri sekaligus pemilik perusahaan ternak Gunung Kelir Unggul Cipta Mandiri, Toto Sugiharto, warga Desa Donorejo, Kecamatan Kaligesing.
Toto menjelaskan, lesunya harga kambing Etawa dipengaruhi oleh rendahnya daya beli masyarakat yang diduga berkaitan dengan kondisi ekonomi global maupun nasional.
Selain itu, produksi kambing di tingkat petani relatif melimpah, sementara jumlah peminat justru menurun.
“Permintaan pasar turun, sementara petani cukup mudah memproduksi kambing. Akibatnya harga ikut jatuh. Kondisi ini mirip dengan yang terjadi pada 2009 hingga 2011 lalu,” ujarnya, pada Rabu (11/2/2026).
Ia memaparkan, penurunan harga terlihat jelas pada kambing calon induk maupun anakan. Jika beberapa tahun lalu calon induk usia 8–9 bulan bisa dijual dengan harga minimal Rp3,5 juta per ekor, saat ini harga tersebut turun menjadi sekitar Rp2 juta.
Sementara itu, anakan usia satu bulan yang sebelumnya bisa mencapai Rp1,5–2 juta, kini dijual di bawah Rp1 juta per ekor.
Menurut Toto, kondisi ini menjadi peluang bagi calon investor baru, namun justru menjadi tantangan berat bagi peternak yang sudah berjalan.
“Bagi yang ingin investasi, ini saat yang tepat. Tapi bagi peternak yang sudah jalan, harus menahan diri dan tidak melakukan ekspansi dulu,” katanya.
Ia menambahkan, penurunan pasar mulai terasa sejak akhir 2024 hingga awal 2025 dan belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan hingga kini.
Jumlah ternak kambing yang dipeliharanya pun menurun drastis. Saat ini, populasi kambing di kandangnya sekitar 150 ekor, jauh berkurang dibandingkan periode 2019–2022 yang mencapai lebih dari 500 ekor.
Untuk tetap bertahan, Toto menerapkan strategi diversifikasi usaha. Ia memanfaatkan keuntungan dari usaha ternak ayam petelur untuk menopang biaya pakan dan operasional peternakan kambing melalui skema subsidi silang.
“Kami tetap mempertahankan kambing Etawa agar tetap eksis. Breeding tetap jalan, pakan masih tersedia, tapi sambil menggali potensi peternakan lain,” jelasnya.
Meski demikian, Toto optimistis kondisi pasar akan kembali pulih seiring membaiknya perekonomian. Ia meyakini hukum pasar akan berlaku, di mana saat kebutuhan meningkat, harga pun akan kembali naik.
Saat ini, segmen kambing hobi seperti untuk kontes dan pameran masih bertahan dengan harga yang relatif stabil dan bahkan tergolong tinggi.
Sebaliknya, kambing pedaging dan produksi susu justru mengalami penurunan harga paling signifikan.
“Kalau ekonomi sudah membaik dan kebutuhan masyarakat kembali meningkat, konsumsi daging kambing pasti naik lagi. Saat itu harga kambing Etawa akan kembali menggeliat,” pungkasnya. (P24/wid)
Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.







