PURWOREJO, Purworejo24.com– tengah derasnya arus digitalisasi yang merambah hingga pelosok negeri, Desa Krandegan di Kabupaten Purworejo tak ingin tertinggal.
Di bawah kepemimpinan Kepala Desa Dwinanto desa ini mulai menapaki perjalanan panjang menuju Smart Village, sebuah konsep desa berbasis teknologi yang tidak hanya modern, tetapi tetap hangat, humanis, dan berpihak pada kebutuhan warga.
Perubahan ini bukan muncul begitu saja. Dari percakapan hangat yang terjadi antara Kades Dwinanto dan sejumlah pihak yang terlibat dalam pengembangan desa, terlihat betapa seriusnya ia menata fondasi desa digital yang menyentuh banyak aspek kehidupan.
Mulai dari pelayanan pemerintahan, ekonomi masyarakat, keamanan lingkungan, hingga pemberdayaan warga.
Inovasipun muncul dari pelayanan warga dengan menggunakan Artificial Inteligen (AI), website desa hingga penerapan tenaga surya untuk pertanian.
Dwinanto memiliki pandangan bahwa pelayanan publik yang baik harus dimulai dari sistem yang mudah diakses oleh masyarakat. Selain itu, pelayanan masyarakat saat ini harus berbasis digital agar memudahkan masyarakat.
“Smart Government itu tidak hanya soal teknologi. Ini soal memberikan kenyamanan dan kepastian bagi warga,” kata Dwinanto di kantornya pada Jumat (12/12/2025).
Melalui konsep Smart Government, Desa Krandegan sedang menyiapkan layanan administrasi online, sistem informasi kegiatan desa, keterbukaan anggaran, dan data pembangunan yang mudah dilihat warga. Untuk itu, Pemdes Krandegan membuat website desa.
Bahkan saat ini website tersebut menjadi rujukan informasi bagi warga. Website Desa Krandegan telah dikunjungi ratusan ribu kali. Website menampilkan informasi seputar desa yang banyak dilirik warga bahkan desa-desa lainnya.
“Kita sajikan informasinya terutama untuk warga. Kita juga mengupdate regulasi dari pusat untuk kita sajikan kepada desa yang lainnya,” kata Dwinanto
Selain itu Warga akan bisa mengurus kebutuhan administrasi tanpa harus mengantri dan tanpa birokrasi yang berbelit-belit. Desa juga punya inivasi chatbot AI yang siap digunakan 24 jam.
“Profil desa, statistik desa, semua akan bisa dilihat dengan sangat transparan bisa melalui website dan aplikasi chat boot,” tambahnya.
Langkah ini menjadi awal bagi terwujudnya pemerintahan desa yang modern namun tetap dekat dengan masyarakat.
Di sisi lain, geliat ekonomi lokal juga menjadi perhatian besar. Dwinanto memahami betul bahwa digitalisasi bukan hanya milik kota, tetapi desa pun berhak menikmatinya.
Melalui Smart Economic, ia merancang platform yang dapat menjadi “rumah digital” bagi pelaku usaha lokal: lapak desa, pasar jasa, toko online, sistem pembayaran daring, bahkan marketplace desa.
“Ke depan, produk-produk warga Krandegan bisa dipasarkan dengan lebih luas dan mudah,” tuturnya.
Tidak hanya membantu pelaku usaha, warga yang sebelumnya belum tersentuh dunia digital pun perlahan diajak mengenal sistem baru yang lebih menguntungkan dan memberdayakan.
Desa Krandegan juga tengah mengembangkan sistem keamanan dan mitigasi bencana berbasis teknologi.
Dwinanto menyebutkan, salah satu visi besarnya adalah menciptakan lingkungan yang mampu melindungi warganya 24 jam.
CCTV online, sistem peringatan dini banjir, Automatic Weather System, hingga tombol darurat (panic button) akan menjadi bagian dari Smart Environment.
“Termasuk pompa tenaga surya yang bisa bekerja membantu warga saat dibutuhkan,” katanya.
Konsep ini diharapkan menjadi tameng perlindungan bagi warga, mengingat risiko bencana alam yang sering kali datang tiba-tiba. Apalagi, Desa Krandegan rawan banjir karena dekat dengan sungai Dulang.
Namun, bagi Dwinanto, teknologi secanggih apa pun tidak akan berarti jika masyarakatnya tidak siap. Karena itu ia menyisipkan satu pilar penting dalam konsep desa digital: Smart Society.
Di sini, perhatian diberikan kepada warga yang membutuhkan akses informasi dan pembelajaran digital.
“Kami akan menyediakan wifi gratis, chatbot layanan desa, dan pelatihan digital untuk warga. Ini bukan hanya soal teknologi, tapi tentang membuka kesempatan baru bagi warga,” jelasnya.
Ia percaya bahwa literasi digital adalah kunci utama agar semua program smart village dapat berjalan dengan baik dan merata.
Untuk memastikan seluruh layanan digital bekerja secara optimal, Desa Krandegan juga tengah memperkuat infrastruktur dasarnya. Pembangunan PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) dan jaringan fiber optic milik desa menjadi fondasi kokoh bagi ekosistem digital yang sedang dirancang.
“Kalau infrastrukturnya kuat, semuanya akan berjalan lebih stabil,” ujar Dwinanto.
Infrastruktur ini diharapkan membuat Krandegan memiliki kemandirian energi sekaligus jaringan internet yang memadai untuk berbagai program digital.
Dwinanto tidak hanya berbicara tentang teknologi, tetapi juga tentang bagaimana teknologi bisa membuat hidup warga menjadi lebih mudah, aman, dan sejahtera.
“Insyaallah bisa, pelan-pelan kita wujudkan,” ucapnya dengan optimis. (P24-byu)
Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.








