Seni Budaya

Ratusan Penghayat Kapribaden Gelar Pahargyan Agung di Trirejo Purworejo

91
×

Ratusan Penghayat Kapribaden Gelar Pahargyan Agung di Trirejo Purworejo

Sebarkan artikel ini
Kirab Agung menuju makam Romo Semono
Kirab Agung menuju makam Romo Semono

LOANO, purworejo24.com – Ratusan penghayat kepercayaan Kapribaden Romo Semono Sastrohadidjojo berkumpul di Desa Trirejo, Kecamatan Loano, Purworejo, pada Jumat (14/11/2025), untuk mengikuti rangkaian Pahargyan Agung Tumuruning Wahyu Eko Buwono.

Acara tahunan ini dihadiri para pengikut dari berbagai daerah, seperti Bali, Jawa Timur, Jakarta, hingga Palembang.

Ritual utama berupa Kirab Agung menuju makam Romo Semono menjadi puncak kegiatan, yang kemudian dilanjutkan dengan Pagelaran Wayang Kulit sebagai bentuk penghormatan kepada pendiri ajaran Kapribaden tersebut.

Budayawan Purworejo, Sudarto, menjelaskan bahwa Romo Semono adalah tokoh spiritual kelahiran sekitar 1900 dan wafat pada 1981.

Semasa hidup, ia juga pernah berdinas sebagai anggota TNI Angkatan Laut berpangkat Letnan KKO. Makamnya berada di Desa Trirejo, yang kini menjadi pusat kegiatan penghayat Kapribaden.

Kirab ini merupakan wujud penghormatan kepada Romo Semono. Tradisi ini rutin dilakukan setiap 14 November, bertepatan dengan saat Romo Semono menerima wahyu Eko Buwono di Perak, Surabaya pada 14 November 1955,” jelas Sudarto.

Wahyu tersebut berisi ajaran Kalimah Panca Kunci Asmo Mijjil Paweling Singkir yang mengarah pada laku menuju Kasampurnan Manunggal Kinantenan Sarwa Mijil, atau dikenal sebagai Kapribaden. Inti ajaran adalah pemahaman bahwa untuk mengenal Tuhan Yang Maha Esa, seseorang harus terlebih dahulu mengenal jati dirinya sebagai manusia.

Menurut berbagai catatan, Romo Semono mulai menjalankan laku spiritual sejak usia 14 tahun dalam upaya memahami hakikat penciptaan. Ajarannya kemudian tersebar ke berbagai daerah di Jawa dan luar pulau.

Salah satu penghayat asal Bali, Nengah Sumarto, mengatakan bahwa ajaran Romo Semono menjadi pedoman bagi banyak orang dalam menemukan jati diri.

Ajaran ini merupakan tuntunan panca ghaib. Di Bali, penganutnya sudah ribuan. Kami datang setiap tahun ke Trirejo untuk mengikuti kirab dan menghormati makam Romo Semono,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Desa Trirejo, Andi Prasetyawan, menyampaikan bahwa pemerintah desa terus mendukung penyelenggaraan kegiatan ini karena selain sebagai bagian dari kebebasan berkepercayaan, acara tersebut juga merupakan tradisi budaya yang harus dijaga.

Warga Trirejo selalu menyambut hangat para tamu. Mereka bahkan menginap di rumah-rumah warga tanpa harus mencari hotel,” kata Andi.

Ia juga menambahkan bahwa Karangtaruna Manunggal Mudo setiap tahun terlibat aktif sebagai pengawal kirab. Selain memiliki nilai spiritual dan budaya, kegiatan ini turut mendorong pertumbuhan UMKM serta ekonomi masyarakat setempat.

Puncak acara Kirab Agung selalu ditutup dengan doa bersama, memohon keselamatan dan kemakmuran bagi para penghayat Kapribaden, warga Trirejo, serta seluruh masyarakat Indonesia,” pungkasnya. (P24/wid)


Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.