Seni Budaya

Parade Puisi Parodi Demokrasi Warnai Hari Puisi Indonesia di Purworejo

74
×

Parade Puisi Parodi Demokrasi Warnai Hari Puisi Indonesia di Purworejo

Sebarkan artikel ini
Foto bersama usai acara
Foto bersama usai acara

PURWOREJO, purworejo24.com – Memperingati Hari Puisi Indonesia (HPI) 2025, Kelompok Peminat Seni Sastra (Kopisisa) Kabupaten Purworejo menggelar pagelaran sastra bertajuk Parade Puisi Parodi Demokrasi, Minggu (27/7/2025).

Acara berlangsung meriah di ruang terbuka Taman Wisata Heroes Park, Desa Kedungsari, Kecamatan/Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.

Kegiatan ini menghadirkan sejumlah tokoh dan pegiat sastra lintas generasi, mulai dari sastrawan senior seperti Soekoso DM, Maskun Artha, Junaedi Setiyono, hingga wajah-wajah muda berbakat seperti Permata Asta Fridatama.

Mereka membacakan puisi karya pribadi yang telah dihimpun Kopisisa dalam sebuah antologi puisi khusus.

Soekoso DM, salah satu tokoh sastra senior sekaligus inisiator acara, menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap sastra, khususnya puisi.

“Ada sekitar 20 sastrawan yang hadir dan tampil. Mereka membacakan puisi karya sendiri yang kami himpun dalam buku antologi. Ini bentuk penghormatan kami terhadap Hari Puisi Indonesia yang jatuh pada 26 Juli,” ujar Soekoso.

Meski hanya dipersiapkan dalam waktu singkat, yakni 10 hari, acara berjalan lancar dan menyita perhatian pengunjung taman yang menikmati akhir pekan.

Menurut Soekoso, kehadiran sastrawan lintas generasi menjadi nilai lebih dalam gelaran ini.

Sebagai penampil pamungkas, Soekoso membacakan puisi berjudul Ketika Wayang Jadi Dalang, yang terinspirasi dari keresahan dalang senior Ki Sutarko Hadiwacono.

Puisi tersebut menggambarkan perubahan nilai dalam pementasan seni tradisional yang kini kerap dibumbui hiburan dangdut dan jauh dari pakem aslinya.

Puisi ini saya tulis sebagai respons terhadap keresahan Ki Sutarko yang memilih tetap mementaskan wayang sesuai pakem, meski ditanggapi sinis oleh sebagian penonton,” tuturnya.

Lebih jauh, tema Parodi Demokrasi diangkat sebagai bentuk refleksi terhadap kondisi sosial-politik saat ini, di mana manusia digambarkan “sak karepe dewe” (semau sendiri), bak wayang yang berubah peran menjadi dalang.

Salah satu penampil termuda, Permata Asta Fridatama (15), siswi SMA Negeri 1 Purworejo, turut ambil bagian dalam parade puisi.

Ia membacakan puisi berjudul Maafkan Aku, Penghakiman Gadis Pendosa, yang mengangkat suara dan keresahan perempuan Indonesia.

Saya sangat antusias. Senang bisa belajar dan tampil bersama para sastrawan hebat. Melalui puisi ini, saya ingin menyuarakan bahwa perempuan juga berhak didengar dan punya ruang di negeri ini,” ujarnya.

Pagelaran ini diharapkan menjadi agenda tahunan yang mampu mewadahi kreativitas dan apresiasi sastra di Kabupaten Purworejo.

Selain itu, Kopisisa telah merencanakan berbagai kegiatan sastra lain seperti diskusi buku, pelatihan menulis, serta cipta dan baca puisi yang akan digelar pada bulan-bulan mendatang. (P24/wid)


Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.