PURWOREJO, purworejo24.com – Sebuah momen reflektif dan sarat makna tersaji dalam Sarasehan Peringatan 200 Tahun Perang Jawa yang berlangsung di Rumah Budaya Tjokrodipo, Kali Kepuh, Sindurjan, Purworejo, pada Minggu (20/7/2025).
Acara ini menjadi ajang penting yang mempertemukan para intelektual, seniman, pegiat budaya, serta masyarakat umum dalam sebuah dialog mendalam mengenai salah satu babak paling menentukan dalam sejarah bangsa: Perang Jawa (1825–1830).
Dipandu secara apik oleh Mastri Imammusadin, S.H., sarasehan mengusung dua tema besar ‘Perang Jawa: Dilema Tjokronogoro” dan “Perang Jawa dari Sudut Pandang yang Lain: Novel Glonggong Karya Junaedi Setiyono’.
Sejumlah narasumber kredibel turut hadir, di antaranya Dr. Sudibyo, M.Hum., Bagas Pratyaksa Nuraga, dan Dr. Junaedi Setiyono, M.Pd., dengan Mahestya Andi Sanjaya serta Achmad Fajar Chalik sebagai moderator.
Dalam paparan reflektifnya, Dr. Sudibyo menekankan pentingnya sarasehan sebagai pengingat kolektif.
“Perang Jawa bukan sekadar kisah heroik, melainkan pergulatan batin dan politik. Sosok Tjokronogoro menghadirkan dilema antara kesetiaan pada kolonialisme dan tanggung jawab pada rakyat. Ini bukan hanya cerita masa lalu, tapi pelajaran tentang keberanian, etika, dan harga diri,” ungkapnya.
Apresiasi datang dari Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dinpursip) Kabupaten Purworejo, Stefanus Aan Isa Nugraha, yang menyebut kegiatan ini sebagai momentum penting untuk membumikan literasi sejarah.
“Kami bangga bisa mendukung acara ini. Inisiatif seperti ini memperkuat identitas lokal dan menanamkan kembali semangat kebangsaan pada generasi muda,” ujarnya.
Tak hanya diskusi, sarasehan juga disemarakkan dengan penampilan seni bertajuk ‘Perempuan Dipanegara’ sebuah manifestasi artistik yang memadukan musik, tari, dan teater oleh Titi Prabandari, Dedy Harnanto, Harpi Melati, dan Nungki Nur Cahyani. Karya seni rupa bertema ‘Perang Jawa’ dari Edi (komunitas PFA) juga menjadi bagian dari pameran ekspresif yang menggugah emosi penonton.
Dukungan penuh datang dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Purworejo, serta sejumlah komunitas budaya seperti Patra Padi, Lelana Indonesia, Teras SeniKu, dan Nildance.
Dengan antusiasme lintas generasi yang begitu terasa, Sarasehan 200 Tahun Perang Jawa membuktikan bahwa semangat perjuangan dan nilai-nilai sejarah tidak pernah usang. Justru, ia terus relevan—menjadi cermin masa kini, dan inspirasi untuk masa depan. (P24/wid)
Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.








