BAGELEN, purworejo24.com – Isu gempa Megathrust belakangan ini marak dimedia sosial dan menjadi buah bibir dimasyarakat. Isu tersebut tentunya menjadi keresahan dan kekhawatiran utananya bagi warga yang tinggal di daerah Jawa bagian selatan, yang dekat dengan pantai dan disinyalir akan terdampak dengan adanya gempa Megathrust.
Menanggapi hal itu, Dosen Laboratorium Geofisika Departemen Fisika, FMIPA Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta, Ade Anggraini, meminta masyarakat agar tidak terlalu khawatir mengenai potensi gempa Megathrust yang diprediksi akan terjadi.
Ade juga menekankan bahwa yang terpenting adalah masyarakat harus mempersiapkan diri dengan baik menghadapi kemungkinan bencana yang terjadi.
“Pandangan saya sebagai Geofisikawan, kalau ditanya mengenai isu Megathrust yang akhir- akhir ini ada dimasyarakat sebetulnya ini bukan isu baru ya, jadi negara kita itu kan memang negara yang terletak dibatas lempeng namanya subduksi, bisa kita lihat dari barat Sumatra sampai dengan selatan Jawa, kemudian sampai Nusa Tenggara dan laut Banda, itu ada zona subduksi, nah disepanjang zona itu sebetulnya memungkinkan terjadinya gempa- gempa besar, yang kemudian dikenal sebagai gempa Megathrust kalau kekuatan gempa itu diatas 8 (magnitudo),” kata Ade Anggraini, kepada purworejo24.com, di Omah Bagelen Homestay milik Tut Wuri Trisilowati di Desa Krendetan, Kecamatan Bagelen, pada Kamis (12/9/2024)
Dari sudut pandang Ade sebagai ahli kebumian isu itu bukan sesuatu yang baru, hanya saja mungkin dengan zaman seperti saat ini dengan informasi yang mudah diakses, sehingga masyarakat mudah mengetahui dan mendengar adanya isu- isu itu.
“Nah kalau ditanya dari segi potensi jelas ada potensi Megathrust di negara kita yang sudah terbukti terjadi ditahun 2004, ketika ada gempa Aceh yang kekuatanya 9,1 (magnitudo). Kemudian kalau ditanya tentang isu Megathrust saat ini ya memang kita ada potensi itu. Hanya masalahnya dari segi teknologi maupun pemahaman ahli kebumian kita tidak tau persis kapan Megathrust itu akan terjadi, dimana tempat persisnya itu terjadi, itu yang kita tidak tau. Kita hanya tau ada zona atau daerah yang memang punya potensi itu dan patut kita waspadai, tapi kapan akan terjadi dan dimana tempatnya itu yang kita belum tau. Itu yang harus dipahami oleh masyarakat,” ucapnya.
Menurutnya, setelah mengetahui potensi itu namun tidak tau kapan itu terjadi dan tempat- tempatnya dimana, bukan berarti tidak bisa berbuat apa- apa, justru sebetulnya yang perlu di persiapkan adalah meningkatkan pengetahuan tentang potensi Megathrust itu apa.
“Potensi itu bukan berarti besok atau suatu saat pasti akan terjadi atau tidak tapi kita hanya tau bahwa disini mungkin bisa terjadi Megathrust, jadi kemungkinan itu ada. Nah sekarang kalau memang itu mungkin terjadi, seandainya itu terjadi, apa yang harus kita lakukan, yaitu masyarakat harus dipahamkan tentang itu. Jadi harus ada edukasinya, karena kalau tidak di edukasi yang ada kan hanya kepanikan, kejadian yang belum ada kita sudah panik duluan, nanti kalau terjadi malah tidak tau apa yang harus dilakukan,” ujarnya.
Megathrust, lanjutnya, sulit diketahui tanda- tandanya, jika akan ada Megathrust sebenarnya tidak ada atau tidak diketahui akan tanda- tanda kemunculannya, belum ada sesuatu yang bisa dijadikan pertanda yang mendahului terjadinya Megathrust.
“Jadi isu Megathrust yang ditakutkan sebenarnya bukan Megathrustnya, tapi lebih ke bahaya baru yang mungkin dimunculkan ketika Megathrust itu terjadi yaitu Tsunami. Yang lebih ditakutkan adalah itu. Kalau misal dari sumber gempanya itu dilaut cukup jauh dari kita yang ada di daratan, ini seandainya terjadipun goncangan tidak terlalu kuat, kuat tetapi tidak sekuat kalau gempanya itu terjadi di daratan. Tapi gempa Megathrust yang terjadi dilaut itu memungkinkan membangkitkan Tsunami yang kemudian bisa mencapai pantai yang ada diselatan Jawa ini. Nah itu yang sesungguhnya ditakutkan,” tambahnya.
Disampaikan, yang perlu dipahami atau yang dilakukan oleh masyarakat yaitu harus mengetahui bahwa kita memang tinggal didaerah yang meniliki potensi terjadinya genpa besar. Genpa besar itu bisa menyebabkan suatu bahaya lain yaitu bisa menimbulkan Tsunami.
“Nah untuk itu seandainya nanti kita ada dipantai lalu merasakan ada goncangan yang cukup kuat, maka sebaiknya kita menjauh dari pantai, ketempat yang lebih aman, ketempat yang lebih tinggi. Atau misal saat kita berada dipantai, merasakan goncangan yang tidak terlalu kuat, tapi merasa goncangan agak lama, nah sebaiknya memang kita juga menjauh dari laut, ketempat yang lebih aman. Kemudian berusaha memastikan, misalnya mencari informasi dari BMKG, atau dari instansi lain, dan meyakinkan diri bahwa bahaya Tsunaminya atau efek dari gempa itu sudah lewat. Biasanya BMKG dan instansi terkait akan memberikan warning tentang bahaya itu. Hal lain tentunya kita harus belajar menyadari bahwa kita tinggal didaerah yang rawan bencana atau risiko bencana maka kita harus bisa menyiapkan diri, mengedukasi diri kita, kalau kita tidak siap kita akan sulit menyelamatkan diri ketika berhadapan dengan bahaya tersebut. Jadi kuncinya adalah edukasi diri, edukasi ke masyarakat,” jelasnya.
Ada beberapa program yang menurut Ade cukup baik dan sudah diterapkan di beberapa daerah lain, seperti membuat pelatihan yang melibatkan masyarakat langsung yaitu simulasi, dimana semua masyarakat diliibatkan, sehingga mereka tau harus pergi kemana, harus berkumpul dimana itu saat terjadi bencana.
“Dan simulasi dengan nelibatkan masyarakat dan unsur lain menurut saya wajib dilaksanakan secara rutin, minimal satu kali setahun dan tidak hanya di tingkat propinsi, kabupaten tapi sampai di kecamatan bahkan desa. Lalu tentang mitigasi bencana. Bahwa mitigasi itu ada dua, yaitu mitigasi fisik dan non fisik. Mitigasi fisik diantaranya membangun pemecah ombak, menanam pohon mangruve disepanjang pantai, dan itu biasanya memerlukan biaya besar dan artinya mitigasi fisik saja menurut saya itu tidak cukup, tapi harus dibarengi dengan mitigasi non fisik yang biasanya itu justru melibatkan banyak masyarakat, jadi ada pendidikan, meningkatkan pemahaman, ataupun kapasitas masyarakat, sehingga masyarakat itu ketika melihat pembaangunan mitigasi fisik mereka menjadi merasa memiliki, sehingga alih- alih untuk merusak mereka menjadi terbantu karena merasa memiliki. Misal tidak ada mitigasi fisik karena keterbatasan ekonomi daerah, maka yang utama adalah masyarakat harus tau, harus ngapain kalau misalnya terjadi Tsunami, dengan merasakan guncangan cukup kuat atau lama dan berada didekat pantai maka harus tau pergi kemana, dan menurut saya mitigasi non fisik inilah yang harus dikedepankan,” terangnya.
Dengan isu Megathrust yang beberapa waktu ini beredar dimasyarakat, Ade berharap isu itu bukan untuk membangkitkan kepanikan, tapi jusru untuk membangkitkan kewaspadaan dan menyadari bahwa kita memang tinggal dinegara yang memiliki potensi gempa Megathrust, maka tidak ada pilihan lain kecuali menyiapkan diri untuk selamat.
“Menyiapkan diri tidak hanya cukup dengan tindakan yang sifatnya fisik tapi juga dengan tindakan yang sifatnya edukatif, meningkatkan kewaspadaan diri, aktif mencari informasi, dengan informasi yang betul yang berasal dari instansi yang memang layak mengeluarkan informasi tersebut,” tandasnya. (P24/wid)
Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.








