PURWOREJO, purworejo24.com – Bupati Purworejo, Jawa Tengah, Hj Yuli Astuti SH bersama Ketua DPRD Kabupaten Purworejo sementara, Dion Agasi Setiabudi, melaunching Tari Jaran Bolong, yaitu sebuah tarian hasil karya putra-putri terbaik Purworejo yang menjadi simbol semangat dan keterbukaan hati masyarakat Purworejo.
Launching dilaksanakan dalam acara Resepsi Kenegaraan Kemerdekaan RI ke- 79 Kabupaten Purworejo, di Pendopo Kabupaten Purworejo, pada Jumat (23/8/2024).
Launching Tari Jaran Bolong ditandai dengan pemukulan gong dan penyerahan Jaran Bolong oleh bupati kepada salah satu seniman/ penari di Purworejo.
Acara Resepsi Kenegaraan Kemerdekaan RI itu dihadiri oleh Forkompimda, OPD, Pimpinan DPRD, BUMD, Kepala Sekolah dilingkungan dalam kota, perguruan tinggi, perintis kemeedekaan, veteran, tokoh agaman, tokoh masyarakat, pimpinan organisasi masyarakat, pimpinan partai politik, pewarta dan admin medsos di Purworejo.
Kabid Kebudayaan pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Purworejo, Dyah Woro Setyaningsih, menjelaskan, Karya Tari Jaran Bolong diciptakan berdasarkan Misi ketiga Bupati Purworejo, yakni meningkatkan daya saing pertumbuhan ekonomi daerah berbasis UMKM, perdagangan, industri serta potensi pariwisata dan seni budaya. Memiliki Program unggulan Tresno Budoyo atau Cintai Budaya yang mendukung pencapaian misi ke 3 yaitu daya saing ekonomi dalam hal pariwisata dan kebudayaan dengan tujuan untuk melestarikan kebudayaan khas yang memperkuat daya Tarik wisata di Kabupaten Purworejo, salah satunya kesenian tradisional Jaran Bolong.
Tari Jaran Bolong terdiri dari 2 suku kata, yaitu Jaran atau Kuda dan bolong atau berlubang. Kuda adalah simbol semangat dan Bolong adalah simbol keterbukaan hati masyarakat Purworejo.
Tari Jaran Bolong menggunakan properti Jaran atau kuda yang terbuat dari anyaman bambu, stilisasi dari bentuk hewan Kuda. Bentuk properti kuda pada Tari Jaran Bolong memiliki kekhasan tersendiri yaitu arah kepala kuda yang dibuat lurus kedepan sebagai simbol masyarakat Purworejo yang selalu bersemangat untuk maju dan berkembang ke depannya.
“Bentuk tersebut merupakan paduan dari properti Kuda yang digunakan pada Kesenian Incling yang arah kepalanya mendongak ke atas atau disebut onclong dan properti Kuda Kepang yang kepalanya menunduk. Adapun kekhasan yang lainnya adalah pelana Kuda yang dibuat bolong atau berlubang lebar sebagai simbol keterbukaan masyarakat Purworejo pada perkembangan jaman dan pengaruh budaya luar terutama wilayah perbatasan yaitu Kabupaten Kebumen di sisi barat, Wonosobo di sisi Barat Laut dan utara, Magelang di sisi utara dan Kabupaten Kulonprogo di sisi timur. Keterbukaan atau bolong ini melahirkan keragaman seni dan budaya, namun tetap memiliki ciri dan kekhasan tersendiri,” jelas Woro.
Selain kekhasan properti Kuda, Tari Jaran Bolong memiliki kekhasan lain berupa penggunaan properti topeng Penthul dan Jèlèh. Penthul dan Jèlèh adalah tokoh gecul/lucu yang berperan sebagai penyebar informasi dan penghibur, gambaran nyata masyarakat Purworejo yang mampu beradaptasi dalam kondisi apapun, rendah hati dan terbuka pada dunia luar.
Adapun busana Tari Jaran Bolong mencirikan kekhasan wilayah yang berbasis pertanian yaitu celana dan baju hitam serta ikat kepala. Dominasi warna hitam sebagai simbol kekuatan dan kebijaksanaan, sedangkan ornamen merah putih sebagai simbol gula kelapa, keberanian dan kesucian.
Iringan Tari Jaran Bolong adalah paduan dari berbagai musik pengiring kesenian tradisional Kuda Kepang di wilayah Kabupaten Purworejo. Bendhé Pongjir adalah alat musik sebagai representasi kesenian Kuda Kepang dari wilayah pegunungan dan angklung sebagai representasi Kesenian Kuda Kepang dari wilayah Purworejo yang berada di dataran rendah.
Alat musik Bendhé Pongjir dan Angklung yang menjadi dominasi iringan musik Tari Jaran Bolong dipadupadankan dengan alat musik pengiring Kesenian Rakyat khas Kabupaten Purworejo yaitu Dolalak, dengan harmonisasi jalinan musik yang diperkuat kendhang, kempul dan Gong.
Tari Jaran Bolong adalah produksi Pemerintah Kabupaten Purworejo melalui Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Purworejo.
“Yang menjadi kebanggan kita bersama, Karya Tari Jaran Bolong disusun murni oleh Putra-putri terbaik Purworejo. Tim pengkaji dari ISI Surakarta yang dalam penelitian awal melibatkan Mahasiswa ISI Surakarta yang merupakan putra daerah Purworejo. Adapun Narasumber adalah para sesepuh-sesepuh Purworejo, mantan Pamong Budaya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Purworejo yaitu ada Bapak Marwoto, Ibu F. Untariningsih, Bapak Wardoyo dan Bapak Eko Marsono dengan Koordinator yaitu Rianto Purnomo,” jelasnya.
Seksi Resepsi Kenegaraan, Ganis Pramudito, dalam laporannya mengatakan, resepsi kenegaraan dilaksanakan dengan tujuan untuk mengenang jasa para pahlawan nasional yang telah berkorban demi kejayaan bangsa dan negara dan sebagai sarana untuk menanamkan rasa cinta tanah air khususnya Purworejo, dengan mengenalkan sejarah perjalanan Kabupaten Purworejo khususnya kepada generasi muda.
“Merupakan ajang untuk mengingat kembali nilai- nilai kebangsaan, persatuan dan toleransi yang menjadi pondasi dari negara kita. Selain itu resepsi ini juga sebagai wujud terimakasih dan penghormatan kepada para pendiri atau Founding Father Kabupaten Purworejo dan dengan kemerdekaan bisa membangkitkan semangat baru bagi masyarakat Purworejo dalam berkarya sehingga terwujud cita- cita Purworejo Mulyo,” jelasnya.
Resepsi kenegaraan, lanjutnya, diisi dengan karawitan gabungan seniman Purworejo, tari Gambyong dari Sangar Mardika, paduan suara dari SMP Bruderan Purworejo, dan launching Tari Jaran Bolong.

Sementara itu bupati Purworejo, Hj Yuli Hastuti dalam sambutanya mengatakan, peringatan kemerdekaan memiliki makna yang sangat penting, terutama dalam konteks pembangunan yang sedang di jalankan di Kabupaten Purworejo. Seiring dengan semangat kemerdekaan, juga harus terus berkomitmen untuk membangun daerah menjadi lebih maju dan sejahtera.
“Kabupaten Purworejo dengan segala potensinya, memiliki peran penting dalam mendukung pembangunan nasional. Melalui berbagai program dan inisiatif yang telah kita jalankan, saya yakin kita mampu membawa Purworejo menuju kemajuan yang lebih baik. Namun, hal ini tidak akan tercapai tanpa dukungan dari seluruh elemen masyarakat. Oleh karena itu, saya mengajak kita semua untuk terus bersinergi, bekerja keras, dan bergotong royong demi mewujudkan Purworejo yang kita cita-citakan bersama,” kata bupati.
Dalam kesempatan itu, bupati juga mengajak untuk menjadikan peringatan kemerdakaan itu sebagai momentum untuk memperkuat persatuan, meneguhkan komitmen kebangsaan, dan melangkah maju dengan optimisme.
“Dengan kerja keras dan semangat yang tak kenal lelah, saya yakin dapat mengatasi berbagai tantangan yang ada, dan membawa Indonesia khususnya Kabupaten Purworejo, menuju masa depan yang lebih cerah,” ujarnya. (P24/wid)
Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.








