Pendidikan

Lokalatih Budaya, Pesilat Purworejo Diajari Gunakan Toya dan Golok sebagai Alat untuk Menolong Sesama

231
×

Lokalatih Budaya, Pesilat Purworejo Diajari Gunakan Toya dan Golok sebagai Alat untuk Menolong Sesama

Sebarkan artikel ini
Pesilat di Purworejo dikenalkan senjata toya dan golok untuk dijadikan alat menolong sesama
Pesilat di Purworejo dikenalkan senjata toya dan golok untuk dijadikan alat menolong sesama

PURWOREJO, purworejo24.com – DPC Forum Keluarga Paranormal dan Penyembuh Alternatif Indonesia (FKPPAI) Kabupaten Purworejo kerja bareng dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kabupaten Purworejo menggelar kegiatan Lokalatih atau Pelatihan Budaya dalam Dunia Persilatan, di Heroes Park Purworejo, pada Sabtu (29/6/2024).

Kegiatan dengan mengangkat tema Lokalatih Berbudaya Membentuk Karakter Bangsa itu diikuti oleh ratusan pesilat dari sejumlah pedepokan budaya silat yang ada di Kabupaten Purworejo.

Diawali dengan upacara dan peragaan gerak jurus sesuai dengan cirikhas masing- masing padepokan silat, lokalatih itu juga diisi dengan pengenalan senjata toya dan golok dengan segala manfaatnya, serta pengenalan dan tutorial penggunaan ikat kepala tradisional yang dipandu oleh Ki Jaka Pranolo dari Padepokan Satria Bagelen Bertaji, yang juga sebagai pengurus DPC FKPPAI Kabupaten Purworejo.

Hari ini kita mengadakan kegiatan budaya dimana kegiatan kita ini dibackup oleh Dindikbud Kabupaten Purworejo melalui Bidang Kebudayaan. Kita mengadakan sebuah gerak bentuk budaya sebagai cirikhas organisasi kita sendiri yaitu yang bergerak dalam bidang budaya, dimana kita berkomitmen untuk mengembangkan budaya, memasyarakatkan budaya, membudayakan budaya, yang tentunya lebih berbudaya,” kata Ki Joko Pranolo, saat ditemui disela kegiatan Lokalatih.

Dalam kegiatan itu, FKPPAI melibatkan atau menggandeng pesilat dari pengurus Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kabupaten Purworejo, namun karena keterbatasan, dari 24 perguruan yang ada dan aktif di IPSI Purworejo, hanya beberapa padepokan yang diundang dan ikut, itupun yang berada tak jauh dari Heroes Park yang menjadi lokasi kegiatan. Meski demikian pesilat yang datang lebih dari kuota yang direncanakan.

Banyak teman- teman pesilat yang menghubungi kami bahwasanya ingin ikut dalam kegiatan ini, tapi karena keterbatasan, dan mohon maaf semoga lain waktu kita bisa bersama lagi untuk membuat sebuah agenda kegiatan budaya yang lebih besar tentunya, lebih kompak dan bermanfaat,” lanjutnya.

Terkait dengan tema yang diusung yaitu berbudaya untuk karakter bangsa, adalah sesuai dengan karakter yang diusung oleh bangsa Indonesia, yaitu sebuah bangsa yang besar adalah bangsa yang mempunyai budaya yang kuat.

Kalau leluhur Jawa kita yaitu rum kuncoroning bongso dumenung ono ing budoyo, jadi harum dan besarnya nama sebuah bangsa itu tergantung dari bagaimana kebudayaannya itu sendiri. Dan disini kenapa audienya mengambil temen- temen pesilat, karena pesilat ini sangat komplek, multi dan lengkap, pesilat itu pesertanya ada yang dari siswa SD, SMP, SMA dan SMK sederajat, ada juga yang dewasa, yang mana bisa kita jadikan medan untuk memberikan sebuah edukasi, kita belajar bareng, artinya, bukan dari kami yang sebagai organisasi berbudaya itu lebih berbudaya atau lebih pinter itu tidak, nanun kita belajar bersama, karena pesilat sendiri itu sudah membawa karakter budaya, dimana didalam pencak silat itu mengandung 4 unsur yang mungkin bisa dibedakan dari bela diri lain, ada unsur seninya, unsur budayanya, ada unsur olahraganya, dan unsur bela diri juga spiritual. Bisa dikatakan kita sangat sambung dan bisa mendapatkan cemistri,” ujarnya.

Dalam Lokalatih itu, mereka dikenalkan dengan senjata yang biasa digunakan oleh pencak silat yaitu senjata toya dan golok. Senjata itu sengaja dikenalkan karena dimungkinkan banyak pesilat yang belum memahami bahwa toya dan golok menjadi senjata paling utama, khususnya bagi para pesilat yang ada di kebudayaan Jawa, namun bukan hanya sebagai senjata semata, toya dan golok bisa dimanfaatkan untuk hal lain untuk kemanusian.

Isi perihal bahwasanya senjata toya dan golok tidak hanya untuk gerak yang bisa berefek untuk melukai, namun bisa digunakan untuk membantu kepada suatu hal yang sifatnya kepada kemanusiaan. Senjata toyak dan golok yang digunakan pesilat bisa kita lipatgandakan kemanfaatanya, kita gunakan senjata tersebut untuk hal- hal bersifat kemanusiaan, seperti untuk pertolongan pertama gawat darurat yaitu ketika melihat sekitar kita baik sesama pesilat ataupun masyarakat yang terjadi kecelakaan, dimana lokasinya cukup jauh, jauh dari medis untuk pertolongan pertama tentunya pesilat bisa bergerak, ketika membawa toya atau golok untuk memberikan sebuah pertolongan,” jelasnya.

Adapun pengenalan dan tutorial penggunaan ikat kepala tradisional diberikan untuk memberikan pemahaman bahwa sebelum terjadinya blangkon adalah ikat kepala tradisional. Tutorial diberikan agar peserta bisa membuat atau memasang ikat kepala sendiri dengan kain.

Itu yang perlu kita tanamkan karena dipencak silat itu sendiri ada yang namanya solo kreatif atau kreasi, itu diwajibkan menggunakan senjata tradisional, jadi tentunya asesorisnya, kelengkapan, bajunya juga tradisional, akan lebih nilai penjiwaan ketika mungkin menggunakan ikat tradisional bukan yang kemajuan, nah itu yang mau kita tekankan, bukan berarti kita melarang modernisasi itu tidak, tapi jangan sampai kita meninggalkan budaya yang telah diwariskan oleh leluhur,” terangnya.

Menurutnya, di zaman modern ini silat sekarang lebih dipakai oleh pemerintah untuk prestasi tanding, namun sebenarnya sesuai unsurnya pencak silat itu ada 4 unsur yaitu budaya, olahrga untuk faktor kesehatan, lalu unsur beladiri dan unsur spiritual.

Kedepan diharapkan pesilat betul- betul siap menghadapi segala macam hal, suatu hal yang ada dimasyarakat, artinya siap bermasyarakat, dimanapun, kapanpun dengan siapapun, jadi tidak hanya pesilat meraih prestasinya saja tapi pesilat bisa bermanfaat untuk siapapun, dimanapun berada,” harapnya. (P24/wid)


Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.