PURWODADI, purworejo24.com – Difable Person Organization (DPO) Dadi Mandiri Kecamatan Purwodadi, bekerjasama dengan Pemerintah Kecamatan Purwodadi dan Yakkum menggelar kegiatan peringatan Hari Disabilitas Internasional ke-31 tahun 2023 dan Hari Ibu ke-95 tahun 2023, di Pendopo Kecamatan Purwodadi, Purworejo, Jawa Tengah, pada Rabu (20/12/2023).
Kegiatan itu berlangsung meriah dengan diisi berbagai acara pentas seni dan talkshow, diantaranya penampilan seni tari Jaranan, penyampaian apresiasi dari Camat Purwodadi, Dwi Agung Nugraheni, kepada pendamping Disabilitas Purwodadi, Agus Wibowo, pemberian santunan hasil infak paguyuban para ibu Lurah kepada 4 Desa di Kecamatan Purwodadi, yakni Desa Gesing, Desa Purwodadi, Desa Sendangsari, dan Desa Gedangan, menyanyi tunggal oleh Yofa Tegar Cristian dengan judul lagu Ibu (Iwan Fals), penyampaian materi talk show oleh dr. Ika Endah Lestariningsih, SpKj. M.Kes dengan tema Perempuan Berdaya Indonesia Maju dan Shela Rahmanida (Yakkum) dengan tema Disabiliti Inklusi Developmen, dan diakhiri dengan Drama Musikalisasi oleh penyandang disabilitas.
Tak hanya itu, Peringatan HDI dan Hari Ibu itu juga diisi dengan pelatihan membatik dengan media wayang kayu, hasil karya Wijaya.craft (Rumah produksi kerajinan batik kayu di Desa Jenar Kidul), dengan pelatih atau pemandu pelatihan, yakni Wijaya (pemilik wijaya.craft) dengan mengangkat tema Sahabat Edukasi Inklusi.
Tampak hadir dalam kegiatan itu Muspika Purwodadi, kepala Puskesmas di Kecamatan Purwodadi, Kepala KUA Purwodadi, kepala desa dan ibu kepala desa, PKK Kecamatan Purwodadi, SLB Karya Bhakti Purworejo, tokoh masyarakat dan Disabilitas Kecamatan Purwodadi serta segenap tamu undangan.
Camat Purwodadi, Dwi Agung Nugraheni, mengatakan, kegiatan itu merupakan bentuk apresiasi terhadap DPO Kecamatan Purwodadi dan juga bentuk apresiasi kepada para ibu di Kecamatan Purwodadi yang diwakili para ketua tim penggerak PKK dalam rangka peringatan HDI dan Hari Ibu.
“Kegiatan ini merupakan ide bersama dan ini ada kegiatan mulai dari UMKM, lalu kegiatan pagelaran seni dari teman- teman difable dan juga ada kegiatan membatik wayang yang merupakan suatu kegiatan unggulan kami kedepan yaitu satu sisi sebagai sahabat edukasi inklusi dimana kita mengajak teman- teman difable dan SLB Karya Bhakti Boro Wetan untuk bergabung bersama kami dan juga banyak acara kegiatan penguatan mental untuk perempuan,” kata Dwi Agung Nugraheni, saat ditemui usai kegiatan.
Dwi Agung Nugraheni berharap karena pihaknya sudah berkomitmen bahwa Kecamatan Purwodadi merupakan kecamatan ramah disabilitas, diharapkan kedepannya desa- desa di Kecamatan Purwodadi bisa tumbuh menjadi desa- desa yang inklusi.
“Karena selama ini masih empat desa di Kecamatan Purwodadi yang inklusi dan kami ingin mengajak teman- teman di desa untuk membangun menjadi desa inklusi dan ini menjadi bentuk jejaring kami, mitra kerja kami kepada para lintas sektor dan juga teman- teman DPO. Harapanya juga kedepan lebih sinergi. Kami sudah menghimbau kepada desa- desa yang lain agar bisa menjadi desa inklusi, sehingga para difable di masing- masing desa bisa terakomodir kegiatanya, baik berupa pelatihan, pemberdayaan dan sebagainya,” jelasnya.
Untuk bisa menjadi desa inklusi, pihaknya juga sudah mendorong untuk desa, yakni penggunaan anggaran desa yang bisa dijadikan sebagai sarana untuk pemberdayaan terhadap para disabilitas yang ada di masing- masing desa.
“Karena memang melalui dana desa itu bisa dicover untuk kegiatan- kegiatan pemberdayaan para difable, seperti di desa inklusi yang sudah terbentuk, disana ada pelatihan lele, ada pelatihan batik jumputan, dan lain sebagainya. Semua bisa masuk disitu dan ikut mendampingi teman- teman,” ujarnya.
Dwi Agung juga berharap kepada pemerintah desa, bukan hanya di Kecamatan Purwodadi saja, namun juga di seluruh Kabupaten Purworejo, untuk bersama- sama mengembangkan desa inklusi karena Purworejo merupakan kabupaten yang ramah disabilitas.
“Dan tentunya didukung dari akar bawah, yaitu dari desa, dimana desa bisa mengakomodir semua kebutuhan temen- temen mulai dari sarpras, juga terkait dengan pelatihan dan pemberdayaan dan harapanya mereka bukan hanya obyek tetapi subyek atau pelaku disemua lini untuk kegiatan dimasyarakat,” harapnya.
Ketua DPO Dadi Mandiri Kecamatan Purwodadi, Daliyo, menyebut saat ini DPO Dadi Mandiri memiliki 35 orang sebagai anggota aktif DPO, dan mereka mendapatkan pendampingan dari tim pendamping. Mereka juga melakukan kegiatan berupa pertemuan rutin di setiap hari Sabtu minggu kedua setiap bulannya.
“Kami disetiap pertemuan rutin juga didampingi oleh petugas dari Puskesmas untuk melakukan cek kesehatan, karena bagi kami disabilitas sangat rentan dengan kesehatan yaitu mudah sakit dan dengan pemeriksaan rutin bisa terkontrol kesehatanya,” katanya.
Daliyo berharap kedepan disabilitas di disetiap desa di Kecamatan Purwodadi bisa memperhatikan para disabilitas, memperdayakan para difable yang ada layaknya orang- orang yang normal. Karena menurutnya para difable juga memiliki hak yang sama dengan orang- orang yang normal.
“Kami bekerjasama dengan pihak kecamatan dan Yakkum, yang sudah memberi program dari desa- desa demi kami seperti Desa Kebonsari, Purwodadi, Bragolan dan tambah lagi replikasi desa yang ingin menjadi desa inklusi yaitu desa Sidoarjo dan Keduren,” jelasnya.
Sementara itu pendamping masyarakat dari Pusat Rehablitasi Yakkum Yogyakarta, Shela Rahmanida, mengatakan, dari materi talk show yang telah disampaikan diharapkan tidak ada lagi stigma terhadap disabilitas dan juga para pendampingnya.
“Jadi tidak ada lagi istilah yang digunakan seperti cacat, gila, bodoh, tapi kita menjadi satu dalam istilah kami yaitu difable, kita fokus kepada kemampuan yang berbeda yaitu misal bodoh dengan sebutan disabilitas intelektual,” katanya.
Menurutnya saat ini sudah banyak perkembangan terkait dengan perhatian terhadap para disabilitas. Jika dulunya disabilitas hanya disembunyikan tidak mendapatkan akses fasilitas umum, misal kesulitan kursi roda naik, lalu tidak diikutkan dalam Musrembangdes, tapi saat ini sudah banyak yang sadar dari pemangku kebijakan maupun organisasi – organisasi masyarakat, sehingga sekarang banyak disabilitas yang sudah dilibatkan.
“Tapi inipun belum menyeluruh, mungkin kami masih butuh bantuan dari segala stekholder, dari berbagai lintas sektor untuk bersama- sama menciptakan Purwodadi yang lebih inklusif, tidak ada lagi yang ditinggalkan dari disabilitas maupun kelompok- kelompok rentan. Harapanya Purwodadi bisa lebih inklusif, menyertakan setiap kelompok rentan dalam pembangunanya dalam setiap diskusinya, menyertakan mereka, tidak ada lagi yang ditinggalkan,” pungkasnya. (P24/wid)
Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.








