EkonomiGaleriInspirasiKulinerPemerintahanSosialTeknologi

Peluncuran GARDU PENYINTAS Sebagai Upaya Mendorong Peran Disabilitas dalam Pembangunan Desa Inklusif

90
×

Peluncuran GARDU PENYINTAS Sebagai Upaya Mendorong Peran Disabilitas dalam Pembangunan Desa Inklusif

Sebarkan artikel ini
Wakil Bupati Purworejo, Yuli Hastuti, saat melakukan pemotongan tumpeng dalam acara Launching Gardu Penyintas (Gerai Produk Penyandang Disabilitas) dalam rangka HUT DPO Tunas Mandiri Kecamatan Banyuurip dan santunan anak yatim dhuafa, di pendopo Kecamatan Banyuurip, pada Kamis (26/10/2023)

BANYUURIP, purworejo24.com – Pusat Rehabilitasi YAKKUM bersama dengan Pemerintah Kecamatan Banyuurip, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, merayakan momentum Hari Ulang Tahun (HUT) Difable Person Organization (DPO) Tunas Mandiri Kecamatan Banyuurip ke – 9 dengan melakukan peluncuran Program Inovasi Kecamatan Banyuurip GARDU PENYINTAS (Gerai Produk Penyandang Disabilitas), di Pendopo Kecamatan Banyuurip, pada Kamis (26/10/2023).

HUT DPO Tunas Mandiri ditandai dengan pemotongan tumpeng dan peluncuran Program Inovasi Kecamatan Banyuurip GARDU PENYINTAS ditandai dengan pemotongan pita di pintu gerai oleh Wakil Bupati Purworejo, Yuli Hastuti ditemani Camat Banyuurip, Siswantoro Dwi Nugroho, dan YAKKUM.

Dalam kegiatan itu juga diisi dengan kegiatan talkshow dengan menghadirkan sejumlah nara sumber dan santunan anak yatim dan dhuafa. Acara HUT dan peluncuran Program Inovasi Kecamatan GARDU PENYINTAS juga menjadi semarak dengan dilantunkannya puisi dan menyanyi dari sejumlah warga penyandang disabilitas di Kecamatan Banyuurip dan Purworejo.

GARDU PENYINTAS menjadi salah satu upaya untuk mendorong peran difabel dalam pembangunan untuk menuju desa dan Kalurahan Inklusif.

Program GARDU PENYINTAS merupakan program yang dicanangkan untuk mendukung keberlanjutan produk- produk UMKM disabilitas terutama di Kecamatan Banyuurip. Acara itu juga mengundang semua Kepala Desa di Kecamatan Banyuurip untuk memastikan replikasi program tersebut di 24 desa melalui dukungan penganggaran desa.

Sebagai penguat komitmen dari kepala desa dibacakan juga Deklarasi Desa Ramah Disabilitas yang berfokus pada 7 point diantaranya pemutakhiran data setiap tahun menyusun penganggaran yang inklusif dan mengakomodir serta memastikan terwujudnya layanan yang aksesibel bagi kelompok disabilitas dan kelompok marjinal yang lain.

Selain Wakil Bupati Kabupaten Purworejo, turut hadir dalam kegiatan itu, Kepala Dinas Sosial, Pengendalian Penduduk dan Perlindungan Anak Kabupaten Purworejo, Zainudin, Program Manager Rehabilitasi Holistik Pusat Rehabilitasi YAKKUM, M. Aditya Setyawan, sejumlah perwakilan dinas terkait, Perwakilan dari KUI (kelompok usaha inklusi ), KDD (kelompok disabilitas Desa / Kelurahan) , Kelompok muda, Kader, Pemerintah Desa se- Kecamatan Banyuurip, Pelaku usaha Lokal, DPA, DPO, sejumlah anak yatim dan orang tua serta dhuafa.

“Kami mengapresiasi perayaan DPO Tunas Mandiri semoga dapat menjadi inspirasi bagi DPO yang lain untuk terus melakukan inovasi untuk pemberdayaan bagi penyandang disabilitas,” kata Kepala Dinas Sosial, Pengendalian Penduduk dan Perlindungan Anak, Zainudin.

Pihaknya juga mengapresiasi Camat Banyuurip yang memilih aksi perubahan yang akan dilakukan secara khusus bagi disabilitas di Banyuurip dengan nama GARDU PENYINTAS.

Zaenudin berharap dengan adanya program itu akan menjadi virus positif bagi daerah yang lain juga terutama bagi dinas lain untuk semakin meningkatkan dukungan usaha dan penganggaran bagi disabilitas secara lebih luas.

“Saya sungguh berharap program inovasi ini akan semakin memperkuat untuk mewujudkan Desa Inklusif, desa yang terbuka aksesnya baik sarana prasarana dan penganggaran, pelibatan penyandang disabilitas,” harapnya.

Wakil Bupati Purworejo, Yuli Hastuti juga menyampaikan apresiasi program GARDU PENYINTAS yang telah diinisiasi dan menyampaikan selamat ulang tahun kepada DPO Tunas Mandiri Kecamatan Banyuurip.

“Pandangan bahwa disabilitas menjadi beban harus sudah mulai dihapuskan karena seringkali potensi mereka justru melebihi kita. Menjadi bunda disabilitas menjadi kebanggaan bagi saya dan saya siap untuk menjembatani bersama dengan dinas-dinas terkait,” kata Yuli.

M. Aditya Setiawan selaku Program Manager Rehabilitasi Holistik Pusat Rehabilitasi YAKKUM, mengatakan, saat ini pihaknya sedang melaksanakan pendampingan program Desa Inklusif di Kecamatan Banyuurip yang merupakan program prioritas dari Kementrian Desa.

“Pastinya hal ini tidak bisa kami lakukan sendiri, kerjasama dan dukungan dari semua pihak terutama dari semua Kepala Desa untuk replikasi Desa Inklusif menjadi hal utama. Kami sangat bangga dengan perkembangan DPO Tunas Mandiri yang telah menjadi DPO yang sangat berdaya dan mandiri,” katanya.

Melalui pelucuran GARDU DISABILITAS, pihaknya berharap, dapat menjadi awalan inovasi lain dan dapat menginspirasi wilayah lain untuk melakukan upaya pemberdayaan disabilitas.

“Kami juga mengharap dukungan dari semua desa untuk mereplikasi pendekatan desa inklusif yang saat ini sudah diawali dengan 3 desa, yakni Desa Malangrjo, Candi Ngasinan dan Tegal Kuning,” harapnya.

Disampaikan, Pusat Rehabilitasi YAKKUM melalui Proyek Desa Inklusi yang didukung oleh SeeYou Foundation dan PAFID telah mendampingi Desa Inklusi di 52 Desa wilayah Kabupaten Purworejo. Proyek itu bertujuan untuk menguatkan tata kelola desa yang Inklusif, meningkatkan kebijakan yang inklusif, serta meningkatkan peran masyarakat dan kelompok marginal.

“Pusat Rehabilitasi YAKKUM adalah sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat di Yogyakarta yang mempunyai mandat untuk mendukung orang-orang penyandang disabilitas untuk memenuhi hak-hak mereka dengan membangun masyarakat yang inklusif melalui layanan yang berkualitas, terjangkau dan terpadu,” jelasnya.

Sementara itu, Camat Banyuurip, Siswantoro Dwi Nugroho, mengatakan Gerai GARDU DISABILITAS, dibuat merupakan bagian dari rencana aksi dirinya terkait dengan pelatihan kepemimpinam administrator dan para Difable dan difokuskan dalam membuat gerai.

“Ini kami buat khusus untuk masyarakat Difable di Banyuurip, kedepan akan diupayakan untuk membangun warung UMKM Kecamatan Banyuurip, jadi nanti bergabung UMKM Banyuurip dan Difable Banyuurip, dan itu monggo jika yang lain ingin memasukkan barang nanti bisa kita fasilitasi,” katanya.

Dirinya melihat para Difable di Banyuurip memiliki potensi untuk produksi, meskipun dengan barang mereka yang dipandang jelek kemasanya tapi enak rasanya.

“Sehingga kemarin kita fasilitasi pelatihan produksi, pelatihan kemasan produksi sekaligus penerbitan nomor induk berusaha (NIB), dan sekarang mereka produknya sudah mulai menarik dengan label dan kemasan yang sudah bagus,” lanjutnya.

Disebutkan ada sekitar 20 produk yang dipajang di gerai GARDU DISABILITAS itu. Barang itu di produksi oleh 15- 20 Difable di Kecamatan Banyuurip.

“Pihak kecamatan hanya sebagai sarana promosi saja termasuk kami sudah membuat aplikasi sehingga ketika orang datang bisa langsung men-scan kode aplikasi itu, maka mereka akan melihat produk- produk yang dibuat dalam katalog itu. Dan mereka ketika pesan dan kirim, maka akan langsung berhubungan dengan salah satu orang yang menjadi koordinator di Difable,” jelasnya

Tak hanya membuat gerai GARDU DISABILITAS, rencananya pihak kecamatan juga akan membangun komitmen bersama pemilik toko tradisional yang ada diwilayah Banyuurip, sehingga barang mereka tidak hanya di pajanh di gerai saja namun produk mereka akan ada dipajang di rak – rak di toko klontong yang ada diwilayah Banyuurip.

“Harapan kedepan ini teraplikasi sampai dengan desa. Pemerintah sudah hadir menjadi alat bantu bagi mereka, tinggal masyarakat harus mendukung kita semua, tentu pemerintah bekerja sendiri tidak bisa, ini butuh dukungan masyarakat, dengan masyarakat membeli produk- produk dari difable ini sehingga mereka bisa memproduksi lagi, bersemangat dan bisa lebih besar lagi usahanya,” pungkasnya. (P24/Wid)


Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.