PURWOREJO, purworejo24.com – Pusat Riset Agroindustri Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), berkolaborasi bersama Komisi VII DPR RI, menggelar kegiatan pelatihan teknologi pengolahan ikan, di aula pertemuan Al Faham Baledono, Purworejo, Jawa Tengah, pada Kamis (3/8/2023).
Pelatihan itu dilaksanakan dengan tujuan mengenalkan dan mengajarkan kepada masyarakat tentang teknologi pengolahan ikan agar menjadi produk olahan ikan bernilai tinggi.
Dimana Indonesia, kaya akan potensi sumber daya perikanan, karena memiliki area perairan yang luas. Ikan, mempunyai nilai gizi dan protein bermutu tinggi, sumber lemak istimewa, omega-3, vitamin, serta mineral.
Pelatihan itu diikuti oleh sekitar 200 orang warga Nahdliyin atau NU dan masyarakat umum di Kabupaten Purworejo.
Tak hanya bersifat teori yang disampaikan oleh sejumlah narsum dari peneliti Pusat Riset Agroindustri Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), peserta juga diajak praktek dalam pembuatan teknologi pengolahan ikan. Dalam kesempatan itu warga diajari cara membuat olahan nuget yang baik dan sehat dari bahan utama ikan.
Hadir dalam pelatihan itu, anggota Komisi VII DPR RI, H Abdul Kadir Karding, S.Pi., M.Si, sejumlah tokoh dan ulama NU serta ratusan warga yang menjadi peserta pelatihan.
Kepala Pusat Ristek Teknologi dan Proses Pangan BRIN, Satrio Krido Wahono, mengatakan, pelatihan itu merupakan salah satu skema BRIN dalam mendesain misikan teknologi ke masyarakat. BRIN tidak cukup melakukan penelitian di laboratorium, dan di atas kertas saja, namun hasil risetnya juga harus bermanfaat bagi masyarakat, terutama untuk tujuan diversifikasi usaha, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Dengan karya invensi dan inovasinya, BRIN hadir di tengah masyarakat. Membangkitkan geliat usaha, berkontribusi bagi pembangunan, melalui peningkatan pendapatan masyarakat.
“Dan kebetulan khusus hari ini kolaborasi dengan anggota Komisi 7 DPR RI, H Abdul Kadir Karding, kegiatanya sendiri biasanya berupa pelatihan dan hari ini kegiatanya pelatihan pengolahan ikan,” katanya, saat ditemui disela kegiatan.
Tujuan pelatihan teknologi pengolahan ikan, lanjutnya, kegiatan pelatihan atau pemberdayaan itu sifatnya hanya mengenalkan teknologi, dan harapanya dengan teknologi itu bisa kearah ekonomi, dimana masyarakat bisa tau bagaimana mengolah ikan menjadi produk bernilai tinggi.
“Kalaupun tidak dikomersialkan atau dijual, paling tidak masyarakat tau bagaimana membuat olahan ikan yang sehat. Karena kalau kita beli olahan- olahan ikan dari luar, dari komersil atau toko/online, belum tentu keamanan pangan atau kesehatanya terjamin,” ujarnya.
Disampaikan, pelatihan itu dilaksanakan tidak hanya di Purworejo, namun juga di daerah lain, dengan berkolaborasi bersama Komisi VII DPR RI.
“Di tiap daerah ada kegiatan seperti ini, tapi pastinya temanya beda- beda. Karena aspirasi dari masyarakat yang dikumpulkan atau dikolaborasikan oleh komisi ditiap daerah, kebutuhan teknologi berbeda beda,” jelasnya.
Satrio berharap kedepan dengan pengenalan teknologi itu masyarakat bisa lebih berdaya, karena sebelumnya covid, kondisi saat itu cukup memukul, baik dari sisi ekonomi maupun dari sisi mobilitas masyarakat.
“Dengan adanya pelatihan ini harapanya masyarakat bisa lebih berdaya, bisa menciptakan produk produk inovasi baru, mengembangkan olahan ikan ini, sehingga perekonomian bisa berputar dengan adanya pengenalan produk lewat teknologi BRIN,” harapnya.
Sementara itu, anggota Komisi VII DPR RI, H Abdul Kadir Karding, S.Pi., M.Si, mengatakan, kegiatan yang dilakukan oleh BRIN itu bentuknya adalah pelatihan pengolahan ikan yang diolah dalam bentuk nuget, ekado (makanan khas Jepang), juga otak- otak.
“Sengaja memang oleh Komisi VII di dorong banyak pelatihan- pelatihan pemberdayaan, agar masyarakat memiliki skill, apalagi ditengah ekonomi seperti hari ini, orang kita dorong harus punya skill banyak, dengan skill itu lalu produknya bisa dijual, nanti kalau laku mereka bisa belajar cara mengemas produk yang baik, kemudian memasarkan secara elektronik atau online, lalu nanti diharapkan bisa menopang ekonomi keluarga mereka. Pengetahuan semacam ini penting, paling tidak kalau mereka bisa buat nuget sendiri itu kan urusan kesehatanya bisa mereka ukur, baik itu zat aditifnya, zat kiminya, dan lain sebagainya,” jelasnya.
Sebagai tindak lanjut, Komisi VII berencana masih akan memberikan banyak pelatihan kepada warga masyarakat. Bukan saja tentang pelatihan teknologi namun juga dengan pelatihan lainya.
“Memang ada banyak pelatihan, termasuk bagaimana mengemas sebuah produk yang bagus (packaging), kemudian pelatihan market online, cara menjual secara online, nanti akan kita coba berikan lagi,” ujarnya.
Karding berharap program pelatihan itu bisa bermanfaat diberikan kepada warga masyarakat. Selain memberikan peningkatan pengetahuan dan skill juga efektif bagi masyarakat.
“Efektif itu artinya hasilnya jelas, ada masyarakat yang berdaya, skill nya ada dan bisa mereka gunakan untuk menopang kehidupan sehari- hari untuk kebutuhan ekonomi mereka,” pungkasnya.(P24/Wid)
Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.







