PURWOREJO, purworejo24.com – Desa Sumberejo, Kecamatan Purwodadi menjadi titik yang ke 21 dari total 494 Desa se-Kabupaten Purworejo yang menjadi target program Gubuk Pintar mentransfer ilmu kepada masyarakat khususnya anak-anak di pelosok pedesaan. Program Gubuk Pintar pun semakin menemukan ruhnya, ketika harus tetap digulirkan di tengah pandemi Covid-19 yang belum juga usai. Tim Gubuk Pinter tetap turun ke desa-desa menularkan kemampuan penguasaan bahasa asing kepada anak-anak yang sejak awal kemunculan Covid-19 kehilangan kebiasaan tatap muka di sekolah.
Antusiasme anak-anak pun membuncah, mereka datang berjalan kaki, meniti sepeda ada juga yang diantar orang tuanya. Membawa buku dan pena, mereka duduk rapi setelah mengisi daftar hadir di aula Balai desa setempat. Raut wajah anak-anak yang penuh harapan itu memang seperti rindu belajar bersama. Melalui program ini, mereka mengaku mendapat kesempatan istimewa bertemu kawan, meski tidak satu kelas atau sekolahan. Mereka terlihat haus menimba ilmu.
Gayung bersambut, program Gubuk Pinter seolah lebih mudah diterima, menyeka kenyataan dunia pendidikan yang terdampak langsung pandemi. Selain keterbatasan jaringan internet, belajar sejarah daring atau via soon juga masih terasa asing bagi mereka. Tiba-tiba Gubuk Pintar datang, mengenalkan bahasa Inggris, Jerman, Jepang, Korea bahkan bahasa Arab dengan mentor atau guru yang sudah disiapkan oleh Gubuk Pintar.
Benar saja, belajar secara daring tetap kurang maksimal karena tidak ada interaksi langsung antara guru dan murid. Namun tatap muka di sekolah juga belum memungkinkan dilaksanakan saat ini. Program Gubuk Pintar mencoba datang ke desa-desa, dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat.
“Memang tidak seperti sebelumnya, kami berkoordinasi dengan pemerintah desa setempat, peserta kami batasi maksimal 50 orang,” ucap Penggagas Program Gubug Pintar, Budi Winarso S.Psi., M.H., kepada purworejo 24.com pada Selasa (24/08/2021)
Dijelaskan, tidak berubah dari awal dijalankan, program Gubug Pintar diberikan secara gratis. Kendati harus menggaji para mentor bahasa asing dalam mentransfer ilmu. Tidak hanya anak anak, di beberapa desa pesertanya juga remaja atau orang tua.
“Memang sebetulnya cukup berat menjalankan program ini di situasi pandemi, mengundang mereka ke satu titik agar hemat juga tidak memungkinkan, biarlah kami yang bergerak dan mereka tetap semangat dan senang belajar di desa masing-masing, kami juga membuka diri jika ada yang ingin bergabung menjalankan program ini,” jelasnya.
Menurutnya, penguasaan bahasa asing, khususnya bahasa Inggris sebagai bahasa internasional saat ini sudah menjadi kebutuhan. Tidak ke luar negeri pun penguasaan bahasa asing sangat dibutuhkan masyarakat, tanpa harus melupakan bahasa ibu atau daerah. Sebab, bisa jadi desa ini menjadi desa wisata yang bakal dikunjungi turis mancanegara selepas pandemi, karena lokasinya cukup dekat dengan bandara baru di Kulon progo.
Ditambahkan, pandemi Covid-19 berdampak hampir di seluruh sendi-sendi kehidupan, termasuk sektor pendidikan. Program Gubuk Pintar juga dihadirkan sebagai bentuk pendampingan para siswa di rumah.
“Kami ingin berbuat sesuatu yang berguna bagi masyarakat. Kamu sengaja turun langsung ke desa-desa dengan harapan masyarakat (siswa,red) tidak kehilangan semangat untuk belajar,” ujarnya.
Budi Winarso berharap, kegiatannya bisa mendapat dukungan dari berbagai pihak, pemerintah daerah juga sudah mukai melihat nilai positif dari program tersebut.
“Sekali lagi kami menerima dengan tangan terbuka siapa saja, pihak-pihak yang ingin bergabung dalam program ini, mungkin CSR perusahaan yang peduli dengan pendidikan generasi masa depan,” ucapnya.
Salah satu peserta, Silvia Permata Yunitasari, 11, mengungkapkan, ia tahu ada pelatihan bahasa Inggris di balai desa dari pengumuman pihak desa, ia mengaku ingin sekali belajar bahasa asing untuk menunjang cita-citanya.
“Saya senang anime dan saya ingin sekali tahu bahasanya, setelah tau mungkin saya akan lebih mudah menguasai bahasa asing, khususnya bahasa Inggris, Jepang atau Korea,” ungkapnya.
Peserta Lain, Putri Kumaladewi, 22, warga Sumberejo mengatakan hal senada, berdasarkan pengalaman banyak yang baru ngeh mempelajari bahasa asing saat kuliah, dengan kegiatan Gubuk Pintar ia merasa adik-adik lebih beruntung, minimal bisa mengenal bahasa asing sejak dini.
“Ini program bagus banget menurut saya, saya kuliah jurusan Kimia di UGM Jogjakarta, dan penguasaan bahasa asing khususnya Inggris sangat diutamakan, karena banyak literatur atau buku acuan berbahasa Inggris, saya juga ikut pelatihan ini karena memang menarik dan bermanfaat, apalagi ini kan gratis, kapan lagi ada kesempatan seperti ini, ” katanya. (P24-Bayu)
Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.








