Kreatif, Warga Desa di Purworejo Ini Ciptakan Teknologi Kincir Air Atasi Kesulitan Air Bersih
Sebarkan artikel ini
Kincir air yang dibuat warga untuk mengatasi kesulitan air bersih di Desa Bleber Kecamatan Bener.
BENER, purworejo24.com – Letak wilayah Desa Bleber Kecamatan Bener Kabupaten Purworejo sebagian besar merupakan pegunungan, meski demikian beberapa tahun yang lalu warga sangat sulit untuk mendapatkan air bersih layak konsumsi. Hal ini mendorong warga Desa Bleber, khususnya Warga Dusun Sijugar harus bersikap kreatif untuk memenuhi kebutuhan air untuk digunakan sehari-hari.
Kepala Dusun Sijugar Fathan, menjelaskan setelah adanya masalah kekurangan air yang setiap tahun menghantui, maka warga berinisiatif mencari sumber mata air yang lebih besar yang sekiranya dapat mencukupi kebutuhan konsumsi air di wilayah Desa Bleber atau di wilayah Dusun Sijugar khususnya. Dari hasil penelusuran dan pencarian sumber mata air oleh warga, maka didapatlah sumber mata air tersebut yang terletak dekat dengan sungai, warga menyebutnya Kalidono (Sungai Kalidono).
“Yang menjadi permasalahan adalah lokasi sumber mata air ini sangatlah sulit di jangkau, karena berada di bawah tepi sungai, jalan menuju lokasipun sangatlah sulit, jarak dari rumah warga ke lokasi sekitar 500 meter, dengan melewati tebing curam,” katanya kepada purworejo24.com pada Minggu (21/02/2021).
Air bersih yang dihasilkan sangat jernih untuk digunakan kebutuhan warga sehari-hari.
Berawal dari sinilah seorang seorang pengelola air yang bernama Koyin (48), warga Sijugar RT 02 RW 02 Desa Bleber Kecamatan Bener, Purworejo bekerjasama dengan Pemerintah Desa Bleber berinisiatif membuat kincir air. Awal mula Koyin membuat kincir air yang sangat sederhana, bermodal dari kayu sisa-sisa bangunan dak, dan ember-ember yang kemudian dirakit agar mampu menampung dan menggerakkan kincir.
“Karena berbahan kayu, kincir yang dibuat tidaklah bertahan lama karena cepat rusak. Kemudian pada tahun 2013, dengan Modal Rp800.000, kincir dikembangkan menggunakan batangan besi yang dirakit menjadi penggerak,” katanya.
Teknologi kincir air tersebut sangatlah bermanfaat bagi warga desa karena letak geografis sumber mata air yang sulit dijangkau oleh warga. Ketinggian sumber mata air dan bak penampungan air yang dibuat warga berjarak sekitar 100 meter tingginya dan membutuhkan 180 pipa air untuk mengalirkan air ke bak penampungan.
Mustafid, Ketua Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Desa Bleber menjelaskan, pada tahun 2017 berkat teknologi tersebut Desa Bleber mendapat penganugrahan Kalpataru dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Purworejo, sebagai Desa Mandiri dengan Inovasi Kincir Air. Setelah adanya Program Dana Desa, warga meminta kepada pemerintah agar kincir air dapat dikembangkan dengan menggunakan Dana Desa.
“Kincir air diganti dengan dengan plat besi yang sesuai standar, agar tidak cepat rusak, dan ukuran diperbesar agar mampu memutar kincir lebih cepat, serta dibuat bak tampung air yang lebih besar,” katanya.
Tidak hanya untuk MCK saja air yang dihasilkan oleh kincir air tersebut juga merambah ke sektor yang lain seperti perikanan dan pertanian. Mustafid menambahkan kedepan pihaknya akan terus mengembangkan teknologi kincirnya, memperluas pemasaran, dan Pemanfaatan air untuk air minum isi ulang dalam kemasan.
“Pemanfaatan air untuk konsumsi, MCK, usaha pertanian dan prikanan, untuk pertanian masih menggunakan sistem yang hidroponik,” tandasnya. (P24-Bayu)