Bencana AlamLingkungan HidupPendidikan

Upaya Pengurangan Risiko Bencana, Ilmuwan Bertemu Siswa dan Guru di Purworejo

201
×

Upaya Pengurangan Risiko Bencana, Ilmuwan Bertemu Siswa dan Guru di Purworejo

Sebarkan artikel ini
Dr. Tuswadi sedang menyampaikan materi mitigasi kebencanaan
Dr. Tuswadi sedang menyampaikan materi mitigasi kebencanaan

 

PURWOREJO, purworejo24.com – Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI) bekerja sama dengan Waku Pro Research Centre Hijiyama University, Hiroshima, Jepang, serta SMP Negeri 22 Purworejo mengadakan kegiatan Scientist Goes to School atau Ilmuwan Bertemu Siswa dan Guru. Kegiatan tersebut dibingkai dalam acara yang bertajuk Seminar Pendidikan Kebencanaan.

Dalam kegiatan yang bertema “Optimalisasi Kapasitas Kepala Sekolah, Guru, dan Masyarakat dalam Pengurangan Risiko Bencana” tersebut, pakar ilmu kebencanan dari ALMI yaiti Dr Tuswadi dan Waku Pro Research Centre yaitu Dr Fujikawa Yoshinori berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan para kepala sekolah, guru, dan siswa di wilayah Purworejo, mengenai mitigasi bencana dan pengurangan risikonya.

Ilmuwan bidang pendidikan kebencanaan ALMI, yang juga pakar ilmu kebencanaan dari Universitas Hiroshima, Dr Tuswadi, mengatakan, Kabupaten Purworejo merupakan salah satu wilayah yang rawan bencana alam, seperti gempa bumi, tanah longsor, dan letusan Gunung Merapi.

Seminar Pendidikan Kebencanaan si SMPN 22 Purworejo, (28/2/2020)
Seminar Pendidikan Kebencanaan si SMPN 22 Purworejo, (28/2/2020)

Dalam kondisi bencana, anak-anak sekolah menjadi salah satu kelompok yang sangat rentan terkena dampak bencana. Hal ini harus ditanggulangi dengan pencegahan secara preventif salah satunya adalah seminar yang sedang ia lakukan bersama objek sasaran di Purworejo.

“Namun di sisi lain, kelompok tersebut memiliki potensi yang besar sebagai agent of information seputar usaha-usaha pengurangan risiko bencana, termasuk kepala sekolah dan gurunya,” ujar Tuswadi kepada purworejo24.com usai acara.

Oleh karena itu, lanjut dia, sekolah-sekolah wajib membangun dirinya menjadi lembaga pendidikan yang aman bencana melalui pendidikan kebencanaan secara berkesinambungan. Kepala Sekolah dan guru sebagai garda terdepan implementasi sekolah aman bencana, wajib ditingkatkan kapasitasnya.

“Kita undang Guru dari sekolah ini dan kepala sekolah se-Kecamatan Gebang, karena kita mengambil pokok-pokok yang nantinya dapat menyalurkan kembali ilmu yang telah ia dapatkan disini,” katanya.

Kegiatan Scientist Goes to School sendiri merupakan salah satu program ALMI, yang dilaksanakan sejak tahun 2016, dengan tujuan menginspirasi siswa dan guru yang hadir untuk terus menumbuhkan budaya dan perangai ilmiah dalam kehidupan sehari-hari.

“Perangai ilmiah atau scientific temper adalah proses berpikir yang menggunakan metode ilmiah, termasuk mempertanyakan, mengamati realitas fisik, menguji, membuat hipotesis, menganalisis, dan berkomunikasi,” katanya.

Sementara itu pakar kebencanaan dari Waku Pro Research Centre, Dr Fujikawa Yoshinori menyampaikan bahwa kondisi gegografis di Jepang dan Indonesia relatif sama. Maka dari itu ia lebih mudah paham akan karakteristik orang Indonesia.

“Ada 3 hal yang dapat mempercepat bagaimana penanganan bencana sebenarnya, yang pertama dari diri sendiri sadar bahwa bencana itu harus diakui bahwa itu dari sang kuasa. Yang kedua masyarakat sekitar bencana harus tanggap dengan tetangganya yang terkena bencana dan yang terakhir pemerintah sebagai salah satu elemen penting harus turut berperan aktif,” katanya. (P24-Bayu)


Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.