Seni Budaya

Tarik Minat Generasi Milenial Berbahasa Jawa, Penyair Jakarta Luncurkan Buku Geguritan di Purworejo

416
×

Tarik Minat Generasi Milenial Berbahasa Jawa, Penyair Jakarta Luncurkan Buku Geguritan di Purworejo

Sebarkan artikel ini
Kepayakan geguritan Ngayawara.
Kepayakan geguritan Ngayawara.

PURWOREJO, purworejo24.com – Seorang penyair asal Salatiga yang berdomisili di Jakarta meluncurkan buku antologi puisi jawa atau geguritan di Purworejo. Selain untuk menarik generasi milenial agar mau menggunakan dan melestarikan bahasa Jawa, penulisan buku ini juga bertujuan memacu mereka mencintai produk lokal daerahnya yaitu bahasa Jawa.

Aula Panti Wiloso Adi Yuswo, yang berada di jalan Urip Sumoharjo, Purworejo  bangunan yang merawat puluhan orang-orang lanjut usia ini menjadi saksi peluncuran karya sastra dari seorang penyair ternama dari Jakarta, Na Dhien. Acara yang berlangsung Selasa Malam (10/12/2019) tersebut menggandeng Kelompok Peminat Seni Sastra (Kopisisa) Purworejo, dan dihadiri oleh Seniman terkemuka Sosiawan Leak dari Solo, Agung Pranoto dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, sejumlah sastrawan Purworejo serta puluhan peminat seni di Purworejo.

Na Dhien mengatakan Ngayawara merupakan buku Guritan Piniji atau dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai Buku Antologi Puisi Bahasa Jawa. Buku antologi puisi tersebut diluncurkan dengan segmentasi pada anak-anak dan remaja dengan tujuan untuk melestarikan bahasa Jawa.

“Ini menjadi salah satu pemantik dari sekian cara yang saya gunakan, dengan Ngayawara ini yang memang benar-benar buku ini saya khususkan untuk anak-anak remaja khususnya anak SMP dan SMA,” ucapnya kepada purworejo24.com usai acara.

Na Dhien menambahkan bahwa apa yang ia lakukan ini sebagai upaya untuk membangun kembali semangat berbahasa jawa dalam kalangan pemuda. Ia melihat akhir-akhir ini banyak pemuda khususnya sudah mulai melupakan budaya daerah salah satunya adalah bahasa Jawa.

“Bisa juga digunakan referensi para guru, bahwa ini salah satu cara kreatifitas dalam pembelajaran memperkenalkan bahasa Jawa, istilahnya memperkenalkan ya, karena anak-anak hari ini cenderung sudah melupakan akar budaya dan melupakan bahasa (Jawa),” tambahnya.

Buku antologi puisi Ngayawara ini ia tulis kurang lebih selama 2 tahun dan berisi sebanyak 72 judul puisi. Sebelumnya ia juga telah menulis buku sastra yang berbahasa Jawa seperti bukunya yang berjudul Ngabekti.

“Untuk buku yang berbahasa Jawa ini buku saya yang kedua. Secara keseluruhan buku saya ada lima untuk buku yang bersifat tunggal, tapi yang digarap bersama sudah ada beberapa juga,” ucapnya

Ia berharap dengan diluncurkannya antologi bahasa Jawa tersebut dapat memacu kaum milenial untuk mencintai produk lokal daerahnya yaitu bahasa Jawa yang mulai terkikis hari ini.

“Semoga buku ini menjadi manfaat dan menjadi salah satu titik awal dimana generasi milenial itu belajar atau mempertahankan kembali budaya jawa khususnya bahasa Jawa,” katanya.

Sementara itu Ketua Kopisisa, Soekoso DM yang juga penggiat sastra kawakan di Purworejo mengapresiasi kegiatan tersebut yang mengangkat produk lokal khususnya bahasa jawa.

“Sebagaimana dicanangkan akhir-akhir ini oleh sastrawan ditingkat nasional, biasanya ada istilah Globalisasi namun hari ini dibalik yaitu Go-lokalisasi, artinya adalah kekuatan lokal yang diangkat menjadi tingkat internasional. Seperti novelnya pak Ahmad Tobari yang berjudul Ronggeng Dukuh Paruk kekuatan lokal yang akhirnya menginternasional,” tandasnya. (P24-Byu)


Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.