RamadhanReligiSeni BudayaWisata

Menengok Wisata Religi Masjid An Nuur, Umpak Masjid Gunakan Yoni

697
×

Menengok Wisata Religi Masjid An Nuur, Umpak Masjid Gunakan Yoni

Sebarkan artikel ini
Masjid An Nuur Purworejo
Masjid An Nuur Purworejo

Purwodadi, purworejo24.com – Purworejo Jawa Tengah merupakan daerah yang mempunyai beberapa obyek wista religi yang menarik yang tidak ditemui di daerah lain. Diantaranya adalah memiliki beberapa masjid kuno yang unik. Salah satunya adalah Masjid An Nuur yang terletak di Desa Purwodadi, RT 03/ RW 02, Kecamatan Purwodadi. Masjid yang termasuk benda cagar budaya tersebut dibangun pada awal abad 20. Masjid An Nuur memiliki keistimewaan tersendiri karena dibangun dengan gaya Hindu-Islam. Perpaduan dua budaya itu diyakini sebagai bentuk akulturasi saat itu.

Sebagai bangunan cagar budaya yang dilindungi, keaslian bentuk masjid tetap dipertahankan kendati sudah dilakukan beberapa kali perbaikan, termasuk 4 buah yoni yang terbuat dari batu dan menjadi umpak atau dasar soko guru/tiang utama masjid yang menjadi salah satu ciri khas masjid An Nuur. Lingga-yoni sendiri adalah simbol/lambang kesuburan pada masa perkembangan agama Hindu di waktu lalu. Batu berbentuk Lingga dan yoni pada jaman dulu merupakan sarana pemujaan dan banyak ditemukan di wilayah Purworejo. Konon penempatan batu berbentuk yoni sebagai dasar soko guru merupakan upaya ulama jaman dulu untuk menarik perhatian masyarakat jaman dulu yang masih belum memeluk agama Islam agar mau masuk masjid dan menyembah Allah SWT.

“Yang beda dengan masjid lain karena di sini terdapat yoni yang merupakan salah satu simbol dari agama Hindu, dan sampai sekarang masih dijadikan dasar pada soko guru. Soko gurunya juga masih asli dari dulu,” kata takmir masjid, Ngateman (58) sambil menunjuk yoni yang dimaksud, rabu (15/5/2019).

Umpak Yoni Masjid An Nuur Purworejo
Umpak Yoni Masjid An Nuur Purworejo

Bangunan masjid An Nuur identik dengan bangunan model Jawa dengan empat tiang dari kayu. Di dekat pengimaman, terdapat mimbar yang terbuat dari kayu jati seperti halnya masjid-masjid bergaya arsitektur lama. Keistimewaan lainnya, masjid yang berumur lebih dari seabad ini memiliki bedug yang dibuat dari pohon yang sama dengan bedug di Masjid Agung Purworejo. Hanya saja, bedug di Masjid An Nuur ini menggunakan kayu bagian ujung pohon sehingga lebih kecil dari bedug di masjid agung yang menggunakan kayu bagian pangkal dan dipercaya merupakan bedug terbesar di dunia.

“Selain itu, seluruh temboknya dari ruang utama sampai serambi juga masih asli bangunan dulu. Terus ada mimbar dan daun pintu juga asli, ada sumur tua juga peninggalan jaman dulu yang airnya tidak pernah kering walaupun musim kemarau. Bahkan penduduk sekitar kalau kehabisan air ambilnya di sini. Tapi sumurnya sekarang ditutup pakai semen dan ambil airnya pakai pompa air,” lanjutnya.

Seementara itu menurut Ketua Tim Ahli Cagar Budaya Purworejo Eko Riyanto, penggunaan yoni dalam masjid menjadi salah satu daya pikat penyebaran Islam di Purworejo. Kentalnya pengaruh Hindu waktu itu membuat para penyebar Islam kemudian mengakulturasi kebudayaan Hindu dengan Islam.

“Yoni yang berada di dalam masjid di wilayah Purworejo ketika itu sebagai salah satu bukti awal penyebaran ajaran Islam yang mana masyarakat umumnya sudah memeluk agama Hindu. Upaya ulama menyebarkan Islam dengan cara salah satu budaya hindu dibawa masuk dalam masjid itu adalah strategi penyebarannya. Mungkin saking kuatnya ajaran hindu di wilayah selatan Purworejo saat itu,” ucap Eko. (rex)


Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.