Seni Budaya

Festival Gejog Lesung di Pituruh Bangkitkan Seni Tradisi, 15 Kelompok Tampilkan Kekayaan Budaya Lokal

1
×

Festival Gejog Lesung di Pituruh Bangkitkan Seni Tradisi, 15 Kelompok Tampilkan Kekayaan Budaya Lokal

Sebarkan artikel ini
Bupati membuka festival gejug lesung di Desa Tersidilor
Bupati membuka festival gejug lesung di Desa Tersidilor

 

PITURUH, purworejo24.com– Upaya menghidupkan kembali seni tradisi peninggalan leluhur diwujudkan melalui Festival Gejog Lesung Tahun 2026 di Lapangan Desa Tersidilor, Kecamatan Pituruh, Kabupaten Purworejo, Sabtu (7/11/2026). Mengusung tema “Melestarikan Tradisi Membangun Identitas Budaya Lokal”, festival ini diikuti sekitar 15 kelompok seni dari berbagai wilayah di Kabupaten Purworejo.

Festival yang dibuka secara resmi oleh Bupati Purworejo, Hj Yuli Hastuti SH, tersebut menjadi momentum kebangkitan kesenian gejog lesung yang mulai jarang dijumpai di tengah perkembangan teknologi dan modernisasi pertanian.

Dalam sambutannya, Bupati Yuli Hastuti mengapresiasi panitia penyelenggara, pemerintah desa, para pelaku seni, serta masyarakat Desa Tersidilor yang telah berkomitmen menjaga dan melestarikan warisan budaya leluhur.

Menurutnya, gejog lesung bukan sekadar kesenian tradisional, melainkan bagian dari identitas dan kekayaan budaya masyarakat yang mengandung nilai kebersamaan, kekompakan, serta gotong royong.

“Saya berharap Festival Gejog Lesung ini tidak hanya menjadi hiburan masyarakat, tetapi juga menjadi sarana memperkenalkan budaya lokal, mengembangkan kreativitas para pelaku seni, serta memperkuat daya tarik wisata budaya Kabupaten Purworejo,” ungkapnya.

Bupati juga mengajak masyarakat menjaga kerukunan menjelang Pilkades Serentak 2027. Perbedaan pilihan, menurutnya, merupakan hal yang wajar dan tidak boleh merusak persaudaraan maupun persatuan masyarakat.

Sementara itu, Ketua Umum Festival Gejog Lesung, H Shokhibul Untung S.Sos, yang juga anggota DPRD Kabupaten Purworejo dari Fraksi PKB, menjelaskan bahwa penyelenggaraan festival berawal dari aspirasi masyarakat Kecamatan Pituruh yang menginginkan adanya kegiatan budaya sebagai ruang ekspresi sekaligus hiburan masyarakat.

Gagasan tersebut kemudian berkembang setelah pihaknya menggali potensi kesenian lokal yang masih bertahan di tengah masyarakat. Gejog lesung dipilih karena merupakan kesenian warisan leluhur yang perlu dihidupkan kembali.

“Awalnya dari aspirasi masyarakat. Mereka ingin Pituruh juga memiliki event budaya. Setelah kita gali, ternyata masih ada kelompok gejog lesung. Akhirnya kita sepakat mengadakan festival untuk menghidupkan kembali kesenian yang hampir punah,” jelasnya.

Ia menyebutkan, festival perdana ini diikuti 15 kelompok. Meski pendaftaran telah ditutup, masih terdapat kelompok lain yang berminat mengikuti kegiatan tersebut. Bahkan, sekitar 35 kelompok sempat masuk dalam pendataan awal, tetapi tidak semuanya siap berpartisipasi karena keterbatasan waktu dan biaya persiapan.

Penilaian peserta meliputi kekompakan, keseragaman kostum, kualitas suara tabuhan, serta kreativitas dan variasi penampilan.

Festival tersebut juga dirancang berlangsung selama dua hari dengan melibatkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) setempat. Kehadiran pengunjung diharapkan memberikan peluang ekonomi bagi pedagang yang membuka lapak di sekitar lokasi kegiatan.

Shokhibul berharap festival dapat diselenggarakan secara rutin setiap tahun dengan dukungan lebih luas, termasuk dari pemerintah daerah melalui perangkat daerah terkait.

“Alhamdulillah masyarakat menyambut baik dan meriah. Banyak warga, termasuk para sesepuh, yang senang karena kesenian yang dahulu akrab dengan kehidupan mereka kembali ditampilkan. Harapan kami, semangat ini bisa membangkitkan kembali gejog lesung seperti zaman dahulu,” katanya.

Ia mengenang, dahulu suara gejog lesung kerap terdengar ketika masyarakat akan menggelar hajatan maupun memasuki musim panen. Meski pekerjaan menumbuk padi kini telah banyak digantikan mesin, menurutnya, gejog lesung tetap harus dipertahankan sebagai seni budaya.

Terpisah, Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Dinporapar) Kabupaten Purworejo, Bangun Erlangga Ibrahim S.STP MM, menyampaikan apresiasi atas inisiatif masyarakat dalam menyelenggarakan festival tersebut.

Menurutnya, kolaborasi masyarakat, komunitas seni, dan pemerintah menjadi salah satu kunci dalam menjaga keberlangsungan kesenian tradisional sekaligus mengembangkan potensi wisata budaya.

Ia menilai, penyelenggaraan event tidak harus selalu dimulai oleh pemerintah. Komunitas dan kelompok masyarakat justru diharapkan semakin aktif menggagas kegiatan yang berangkat dari potensi serta karakter budaya masing-masing wilayah.

“Harapan kami, event seperti ini bisa terus berkembang dan ke depan menjadi salah satu daya tarik wisata sekaligus masuk dalam kalender event Kabupaten Purworejo,” ujarnya.

Bangun menambahkan, festival juga menjadi ruang aktualisasi bagi para seniman dan budayawan, sekaligus sarana mengenalkan kekayaan seni tradisi kepada generasi muda.

Dengan penyelenggaraan yang berkelanjutan, ia berharap jumlah peserta tidak hanya berkembang di Kecamatan Pituruh dan sekitarnya, tetapi juga menjangkau seluruh wilayah Purworejo hingga tingkat regional.

Ke depan, Festival Gejog Lesung diharapkan dapat dikolaborasikan dengan berbagai aktivitas ekonomi kreatif dan potensi wisata setempat sehingga mampu mendatangkan wisatawan sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Festival perdana ini menjadi pengingat bahwa kemajuan zaman tidak harus menghapus tradisi. Justru melalui kreativitas dan keterlibatan generasi penerus, warisan budaya leluhur dapat terus hidup, berkembang, dan menjadi kebanggaan masyarakat Purworejo. (P24/wid)


Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.