Transportasi

Stasiun Kutowinangun, Jejak Sejarah Perkeretaapian yang Kini Layani 17 Perjalanan Kereta per Hari

1
×

Stasiun Kutowinangun, Jejak Sejarah Perkeretaapian yang Kini Layani 17 Perjalanan Kereta per Hari

Sebarkan artikel ini
Stasiun Kutowinangun
Stasiun Kutowinangun

KEBUMEN, purworejo24.com – Stasiun Kutowinangun di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, tak sekadar menjadi tempat naik dan turun penumpang. Stasiun yang telah beroperasi sejak 20 Juli 1887 ini menyimpan jejak panjang sejarah perkeretaapian di wilayah selatan Jawa sekaligus terus berperan penting dalam mendukung mobilitas masyarakat hingga saat ini.

Berada di bawah pengelolaan PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 5 Purwokerto, Stasiun Kutowinangun melayani 17 perjalanan kereta api setiap hari. Layanan tersebut memberikan pilihan perjalanan bagi masyarakat menuju berbagai kota, mulai dari Jakarta, Bandung, Surabaya, hingga Banyuwangi.

Manager Humas KAI Daop 5 Purwokerto, M. As’ad Habibuddin, mengatakan keberadaan stasiun ini memiliki arti penting dalam menunjang konektivitas masyarakat, khususnya di wilayah Kebumen dan sekitarnya.

“Keberadaan Stasiun Kutowinangun memiliki arti penting dalam mendukung konektivitas masyarakat, khususnya di wilayah Kebumen dan sekitarnya. Dengan layanan kereta api yang tersedia setiap hari, masyarakat memiliki alternatif transportasi yang aman, nyaman, dan efisien untuk menjangkau berbagai kota,” ujar As’ad.

Stasiun Kutowinangun merupakan bagian dari perkembangan jaringan perkeretaapian di jalur selatan Jawa. Stasiun ini mulai beroperasi pada 20 Juli 1887, seiring pembangunan jalur kereta api yang menghubungkan Kutoarjo dengan Kroya.

Pada masa itu, kereta api tidak hanya berfungsi sebagai sarana transportasi penumpang, tetapi juga mendukung pergerakan barang dan aktivitas perekonomian masyarakat.

Kawasan sekitar stasiun juga pernah berkaitan dengan aktivitas industri gula. Sejumlah percabangan jalur kereta api dimanfaatkan untuk mendukung pengangkutan hasil produksi pabrik gula di sekitarnya. Namun, seiring perubahan sistem transportasi dan perkembangan industri, jalur-jalur tersebut tidak lagi beroperasi.

Perjalanan panjang tersebut menjadi bagian dari sejarah Stasiun Kutowinangun, yang hingga kini tetap menjalankan perannya di tengah perkembangan teknologi dan kebutuhan transportasi masyarakat.

Seiring perkembangan zaman, infrastruktur Stasiun Kutowinangun turut mengalami modernisasi. Pengoperasian jalur ganda lintas selatan pada 2019 menjadi salah satu tonggak penting dalam peningkatan kapasitas prasarana perkeretaapian.

Saat ini, stasiun tersebut memiliki empat jalur kereta api dengan dukungan sistem persinyalan elektrik untuk menunjang keselamatan dan efisiensi operasional perjalanan kereta api.

Dari sisi pelayanan, jumlah penumpang yang menggunakan Stasiun Kutowinangun juga menunjukkan tren peningkatan.

Pada 2025, rata-rata volume penumpang yang berangkat dan datang melalui stasiun tersebut tercatat sebanyak 3.958 penumpang per bulan. Sementara itu, hingga September 2026, rata-rata volume penumpang bulanan meningkat menjadi 4.377 penumpang.

Angka tersebut menunjukkan kenaikan sekitar 10 persen dibandingkan rata-rata bulanan pada 2025.

Peningkatan ini menjadi salah satu indikator berkembangnya kebutuhan masyarakat terhadap transportasi kereta api. Untuk menjawab kebutuhan tersebut, KAI terus berupaya meningkatkan kualitas fasilitas stasiun, kemudahan akses informasi perjalanan, serta penerapan budaya keselamatan dalam setiap aktivitas operasional.

“Kami mengapresiasi kepercayaan masyarakat yang terus menjadikan kereta api sebagai pilihan transportasi. Peningkatan kualitas layanan akan terus dilakukan agar perjalanan pelanggan semakin nyaman dan kebutuhan mobilitas masyarakat dapat terlayani dengan baik,” tambah As’ad.

Selain menjadi penunjang mobilitas masyarakat, Stasiun Kutowinangun juga berpotensi mendukung pengembangan pariwisata lokal di Kabupaten Kebumen.

Sejumlah destinasi di sekitarnya dapat menjadi pilihan bagi masyarakat yang ingin melanjutkan perjalanan dengan tujuan rekreasi.

Jlegi Fun River (JFR), misalnya, menawarkan wisata air dengan suasana alam yang dapat menjadi alternatif kegiatan bersama keluarga. Bagi pengunjung yang tertarik pada wisata pertanian, Elio Farm dapat menjadi pilihan untuk merasakan pengalaman memetik melon secara langsung.

Sementara itu, Alun-alun Kutowinangun bisa menjadi tempat bersantai sekaligus menikmati suasana pusat aktivitas masyarakat setempat.

Keberadaan destinasi tersebut membuka peluang untuk menghubungkan layanan transportasi publik dengan aktivitas wisata dan perekonomian lokal. Meski demikian, pelanggan perlu merencanakan perjalanan lanjutan serta memastikan ketersediaan transportasi dari stasiun menuju lokasi wisata.

“Kami berharap layanan kereta api dapat menjadi bagian dari perjalanan masyarakat untuk mengenal potensi daerah, termasuk destinasi wisata di Kebumen dan sekitarnya. Dengan memanfaatkan transportasi publik, masyarakat dapat merencanakan perjalanan secara lebih praktis sekaligus mendukung perkembangan ekonomi dan pariwisata lokal,” tutup As’ad.

Dengan rekam jejak sejarah sejak abad ke-19, dukungan infrastruktur yang terus berkembang, serta pertumbuhan jumlah penumpang, Stasiun Kutowinangun menjadi salah satu simpul transportasi yang berperan dalam menghubungkan masyarakat dan mendukung aktivitas ekonomi di Kabupaten Kebumen.

Keberadaannya memperlihatkan bahwa stasiun bersejarah tidak hanya menjadi saksi perjalanan masa lalu, tetapi juga tetap relevan dalam menjawab kebutuhan mobilitas masyarakat masa kini.

 


Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.