Ekonomi

Batik Purworejo Angkat Kearifan Lokal, 15 UMKM Terus Kembangkan Motif Khas Daerah

26
×

Batik Purworejo Angkat Kearifan Lokal, 15 UMKM Terus Kembangkan Motif Khas Daerah

Sebarkan artikel ini
Rimi Ani, S.E., M.M. bersama, Supriyanto Ari Widodo SIP
Rimi Ani, S.E., M.M. bersama, Supriyanto Ari Widodo SIP

PURWOREJO, purworejo24.com – Batik Purworejo terus menunjukkan eksistensinya dengan mengangkat kekayaan alam, budaya, dan kearifan lokal sebagai identitas daerah. Beragam motif khas, mulai dari durian, manggis, geblek, clorot hingga kesenian Dolalak, menjadi ciri tersendiri yang membedakan batik Purworejo dengan batik dari daerah lain.

Di balik perkembangan tersebut, terdapat sekitar 15 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) batik yang turut menggerakkan industri batik lokal. Mereka tidak hanya mempertahankan tradisi membatik, tetapi juga berinovasi menciptakan desain dan motif yang sesuai dengan perkembangan zaman.

Kepala Bidang Koperasi dan Usaha Mikro Dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan (DinKUKMP) Kabupaten Purworejo, Rimi Anik, S.E., M.M., mengatakan, sejumlah UMKM batik di Purworejo terus mengembangkan produk dengan karakteristik masing-masing.

Beberapa di antaranya adalah Rafba Batik, Dewa Loano, Arimbi, Ngasto Tirto, Wirasatya, Ganung, Hesti Kemiri, Srikandi Keki, Totok, Naraya, Ganjar Batik, Jasid Bustomi, Sundari/Ekoprin, serta Sunggi Lastra Guyangan Handayani. Selain itu, terdapat pula perajin batik Ciprat Loano dan Tridadi Loano.

Menurut Rimi, batik Purworejo memiliki motif khas yang mencerminkan identitas daerah. Salah satunya adalah Batik Keprajan yang kerap dikenakan sebagai pakaian dinas pada Kamis minggu pertama.

“Purworejo memiliki batik khas, salah satunya Batik Keprajan. Motifnya juga mengangkat potensi lokal, seperti  Kawungmanggis alias Gunungan Wora-wari Bang dan berbagai kekayaan daerah lainnya,” ungkap Rimi, Jumat (2/10/2026).

Ia menjelaskan, produk batik Purworejo juga pernah ditampilkan dalam berbagai kegiatan, termasuk karnaval. Kegiatan tersebut menjadi salah satu sarana untuk memperkenalkan batik lokal kepada masyarakat luas.

Selain promosi, Pemkab Purworejo melalui DinKUKMP juga mendorong peningkatan kapasitas para perajin, baik dari sisi produksi maupun pengembangan inovasi.

Salah satunya melalui pelatihan bertajuk Inovasi Batik Printing Malam untuk Mempercepat Produksi Tanpa Kehilangan Karakteristik Batik yang diselenggarakan pada 19 September 2026 di Arpusda Kutoarjo

Pelatihan tersebut diharapkan dapat membantu para perajin meningkatkan efisiensi produksi sekaligus mempertahankan ciri khas batik yang dihasilkan.

Sementara itu, Penata Layanan Operasional sekaligus Konsultan Bidang Produksi UPT Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) KUMKM Kabupaten Purworejo, Supriyanto Ari Widodo, S.IP., menjelaskan bahwa keunikan batik Purworejo terletak pada kemampuannya mengangkat potensi alam dan budaya setempat menjadi motif kain.

“Para pengrajin batik di Purworejo kebanyakan membuat identitas dengan kearifan lokal berupa visualisasi hasil bumi Purworejo. Di antaranya motif durian, manggis, kue clorot, bedug, kambing etawa, geblek, dan sebagainya,” jelas Supriyanto.

Menurutnya, motif tersebut bukan sekadar hiasan, melainkan juga menjadi identitas yang memudahkan masyarakat mengenali batik asal Purworejo.

Selain kekayaan alam, unsur budaya juga menjadi inspirasi. Salah satunya kesenian Dolalak yang divisualisasikan dalam motif batik. Bahkan, sejumlah perajin mengombinasikan motif Dolalak dengan gambar buah-buahan sehingga menghasilkan desain yang lebih beragam.

Untuk mendorong kreativitas perajin, UPT PLUT KUMKM secara berkala memfasilitasi pelatihan desain dan pengembangan motif. Upaya tersebut bertujuan agar para pelaku UMKM mampu menghasilkan batik kontemporer yang dapat dipadukan dengan berbagai produk fesyen.

Tidak hanya berfokus pada produksi, pengembangan batik Purworejo juga diarahkan pada perluasan pemasaran. UPT PLUT KUMKM turut memfasilitasi kemitraan antara pelaku UMKM dengan sejumlah pihak, termasuk hotel.

Supriyanto menyebutkan, beberapa produk UMKM Purworejo, termasuk batik, telah memperoleh kesempatan untuk dipasarkan melalui kerja sama dengan sejumlah hotel, seperti Morazen dan Novotel.

“Beberapa produk UMKM sudah kami mitrakan dengan sejumlah pihak atau offtaker. Di antaranya Hotel Morazen dan Novotel. Produk-produk tersebut sudah dipajang di hotel sehingga membuka peluang pemasaran yang lebih luas,” terangnya.

Selain melalui kemitraan, promosi batik juga dilakukan dengan mengikuti berbagai pameran dan ekspo. Melalui kegiatan tersebut, para perajin berkesempatan memperkenalkan produk sekaligus menjangkau konsumen dari luar daerah.

Dari sisi produksi, batik Purworejo memiliki beragam teknik, mulai dari batik tulis hingga batik cap. Setiap teknik memiliki karakteristik dan tingkat pengerjaan yang berbeda sehingga menghasilkan produk dengan variasi harga.

Untuk batik tulis, misalnya, produk yang digunakan sebagai seragam harian di lingkungan UPT PLUT KUMKM Purworejo dibanderol sekitar Rp200.000 hingga Rp250.000 per potong.

Namun, harga batik sangat bergantung pada teknik pembuatan, tingkat kerumitan motif, dan kualitas bahan. Bahkan, batik dengan pengerjaan khusus dapat memiliki harga Rp500.000 hingga lebih dari Rp1 juta.

Supriyanto menegaskan, harga batik Purworejo masih memiliki beragam pilihan sehingga dapat dijangkau oleh berbagai kalangan masyarakat.

Momentum Hari Batik Nasional yang diperingati setiap 2 Oktober menjadi pengingat pentingnya melestarikan batik sebagai warisan budaya Indonesia sekaligus menggerakkan perekonomian pelaku UMKM.

Supriyanto berharap masyarakat semakin mencintai dan bangga mengenakan batik, khususnya batik produksi perajin lokal Purworejo.

“Harapan kami, melalui Hari Batik Nasional ini, masyarakat kembali menguri-uri budaya asli Indonesia, yaitu batik. Semakin sering masyarakat menggunakan batik, semakin besar pula peluang para pelaku UMKM, khususnya perajin batik, untuk berkembang dan meningkatkan omzet,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, perajin, dan masyarakat dalam menjaga keberlangsungan industri batik lokal.
Dukungan pemerintah diwujudkan melalui pendampingan, fasilitasi peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pengembangan produksi, inovasi desain, hingga pembukaan peluang kemitraan pemasaran.

Ke depan, para perajin diharapkan terus berinovasi dengan menciptakan motif dan desain baru yang tidak hanya mempertahankan kekhasan lokal, tetapi juga mampu menjawab kebutuhan pasar.

Di sisi lain, masyarakat diharapkan turut berperan dengan memilih dan menggunakan produk batik buatan perajin lokal.

“Kami berharap para pelaku UMKM terus meningkatkan kreativitas dan kemampuan membaca potensi pasar. Masyarakat juga diharapkan mencintai dan menggunakan produk asli Purworejo, sehingga bersama-sama kita bisa memperkenalkan identitas daerah melalui batik,” harapnya.

Semangat tersebut sejalan dengan slogan yang diusung untuk mendorong kecintaan terhadap produk lokal, yakni ‘Tresno Purworejo, Larisi Purworejo’. Dengan demikian, batik tidak hanya menjadi warisan budaya yang perlu dilestarikan, tetapi juga berpotensi menjadi penggerak ekonomi dan identitas kebanggaan masyarakat Purworejo. (P24/wid)


Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.