PURWOREJO, purworejo24.com – RSUD dr. Tjitrowardojo Purworejo meluncurkan pelayanan Catheterization Laboratory (Cathlab) melalui dukungan Program SIHREN Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Kehadiran fasilitas tersebut menjadi langkah penting dalam memperkuat pelayanan jantung dan pembuluh darah sekaligus mendekatkan akses layanan kesehatan berteknologi tinggi kepada masyarakat.
Launching Cathlab berlangsung di aula pertemuan RSUD dr. Tjitrowardojo, Kamis (6/8/2026), dengan dihadiri unsur Pemerintah Kabupaten Purworejo, Kementerian Kesehatan, Dinas Kesehatan, BPJS Kesehatan, jajaran rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan jejaring, serta tenaga medis dan kesehatan.
Direktur RSUD dr. Tjitrowardojo, dr. Tolkha Amaruddin, Sp.T.H.T.B.K.L., M.Kes., mengatakan, kehadiran Cathlab bukan sekadar penambahan peralatan kesehatan berteknologi tinggi. Lebih dari itu, fasilitas tersebut merupakan bagian dari upaya meningkatkan kualitas, kecepatan, keamanan, dan keterjangkauan pelayanan jantung bagi masyarakat Purworejo dan wilayah sekitarnya.
“Cathlab bukan sekadar menghadirkan teknologi canggih. Cathlab menghadirkan harapan, mempercepat pertolongan, mendekatkan pelayanan, dan menyelamatkan kehidupan,” ujarnya.
Menurutnya, penyakit jantung dan pembuluh darah masih menjadi persoalan kesehatan yang membutuhkan perhatian serius. Terlebih pada kondisi kegawatdaruratan jantung, kecepatan penanganan menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan keselamatan dan kondisi pasien.
Selama ini, masyarakat Purworejo yang membutuhkan pemeriksaan atau tindakan jantung tertentu masih berpotensi harus dirujuk ke fasilitas kesehatan di luar daerah. Kondisi tersebut dapat menambah waktu perjalanan, biaya, serta risiko keterlambatan dalam memperoleh pelayanan.
Dengan tersedianya Cathlab di RSUD dr. Tjitrowardojo, pelayanan terkait jantung diharapkan dapat dilakukan lebih dekat dengan masyarakat.
Salah satu pemanfaatan Cathlab adalah untuk angiografi koroner, yakni pemeriksaan untuk membantu dokter mengetahui kondisi pembuluh darah jantung, termasuk adanya penyempitan atau penyumbatan.
Pengembangan menuju tindakan intervensi kardiovaskular akan dilakukan secara bertahap dengan memperhatikan kesiapan sumber daya manusia, perizinan, standar pelayanan, serta kewenangan klinis.
Dr. Tolkha menegaskan, keberadaan alat berteknologi tinggi harus diikuti kesiapan tenaga kesehatan, tata kelola klinis, keselamatan pasien, pemeliharaan peralatan, ketersediaan bahan medis, sistem rujukan, serta pembiayaan yang berkelanjutan.
Karena itu, RSUD dr. Tjitrowardojo menyiapkan tenaga medis, keperawatan, radiologi, dan tenaga kesehatan lainnya melalui pendidikan dan pelatihan, kredensialing, serta pengembangan profesional berkelanjutan.
Pelayanan Cathlab juga akan dijalankan dengan mengedepankan standar profesi, standar prosedur operasional, keselamatan pasien, pencegahan dan pengendalian infeksi, serta aspek keselamatan radiasi.
Selain itu, rumah sakit akan memperkuat sistem pelayanan jantung yang terintegrasi, mulai dari pasien datang ke instalasi gawat darurat, pemeriksaan penunjang, tindakan di Cathlab, perawatan, hingga rehabilitasi dan pengendalian faktor risiko.
Jejaring rujukan dengan puskesmas, rumah sakit, Dinas Kesehatan, layanan kegawatdaruratan, dan fasilitas kesehatan di Purworejo maupun daerah sekitar juga akan diperkuat.
“Kami berkomitmen melakukan evaluasi mutu pelayanan secara berkelanjutan, termasuk waktu respons, keselamatan tindakan, hasil klinis, kepuasan pasien, serta efektivitas dan efisiensi pelayanan,” katanya.
Di sisi lain, RSUD dr. Tjitrowardojo berharap pelayanan Cathlab dapat segera memperoleh persetujuan kerja sama dan penjaminan dari BPJS Kesehatan, setelah seluruh persyaratan dan proses yang diperlukan terpenuhi.
Menurut dr. Tolkha, integrasi dengan sistem penjaminan JKN sangat penting agar akses masyarakat terhadap layanan jantung berteknologi tinggi tidak terhambat oleh persoalan kemampuan ekonomi.
Pihak rumah sakit pun berharap dukungan dan fasilitasi dari Kementerian Kesehatan, Pemerintah Kabupaten Purworejo, Dinas Kesehatan, dan BPJS Kesehatan dapat memperlancar proses kredensialing serta pemenuhan persyaratan pelayanan.
“Keberhasilan Program SIHREN tidak hanya diukur dari terpasangnya peralatan, tetapi dari berapa banyak pasien yang dapat ditolong, berapa banyak rujukan keluar daerah yang dapat dikurangi, serta berapa banyak keluarga yang memperoleh pelayanan lebih cepat dan lebih dekat,” tegasnya.
Ia menambahkan, launching Cathlab bukanlah akhir, melainkan awal dari tanggung jawab untuk memastikan layanan dapat berjalan secara konsisten, aman, bermutu, mudah diakses, dan berkelanjutan.
RSUD dr. Tjitrowardojo juga menargetkan kehadiran Cathlab menjadi bagian dari transformasi rumah sakit menuju pusat rujukan yang semakin kuat di wilayah Jawa Tengah bagian selatan.
“Teknologi boleh semakin modern, tetapi sentuhan kemanusiaan tidak boleh hilang. Di balik setiap pemeriksaan dan tindakan terdapat seorang pasien yang sedang berharap, sebuah keluarga yang sedang berdoa, dan sebuah kehidupan yang harus kita perjuangkan bersama,” ungkapnya.
Dengan hadirnya Cathlab, RSUD dr. Tjitrowardojo berharap akses pelayanan jantung masyarakat Purworejo dan wilayah sekitar semakin dekat, sekaligus memperkuat sistem rujukan dan meningkatkan kemampuan daerah dalam menangani kebutuhan pelayanan kardiovaskular.
Peluncuran tersebut sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, rumah sakit, BPJS Kesehatan, tenaga kesehatan, dan fasilitas pelayanan kesehatan jejaring dalam menghadirkan layanan jantung yang profesional, aman, bermutu, dan berorientasi pada keselamatan pasien. (P24/wid)
Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.









