Politik

Estri Utami Setyowati: Dari “Keadaan Darurat” ke Kursi Pimpinan DPRD, Perjuangkan Perempuan dan Anak

21
×

Estri Utami Setyowati: Dari “Keadaan Darurat” ke Kursi Pimpinan DPRD, Perjuangkan Perempuan dan Anak

Sebarkan artikel ini
Estri Utami Setyowati
Estri Utami Setyowati

PURWOREJO, purworejo24.com – Menjadi seorang politisi, terlebih menduduki kursi legislatif, tidak pernah terbayangkan sebelumnya oleh Estri Utami Setyowati.

Namun, arsitek lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) ini justru terjun ke dunia politik dalam situasi yang ia sebut sebagai “keadaan darurat”.

Estri dilantik sebagai anggota DPRD Kabupaten Purworejo pada 14 Agustus 2024 bersama 44 legislator lainnya.

Dalam perjalanan karier politiknya, ia kemudian dipercaya menjadi satu-satunya Wakil Ketua DPRD perempuan untuk periode 2024–2029.

Keputusan maju dalam Pemilihan Legislatif (Pileg) 2024 diambil Estri setelah sang suami, Yophi Prabowo, memilih tidak ikut kontestasi karena bersiap maju sebagai calon bupati.

Dari situlah, langkah politik Estri dimulai.

Sebagai legislator perempuan dan ibu dua anak, Estri menempatkan isu pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak sebagai fokus utama perjuangannya.

Ia aktif mendorong kebijakan anggaran yang lebih berpihak pada kebutuhan perempuan dan anak.

Saya fokus pada kebijakan anggaran untuk pemberdayaan perempuan dan anak, melalui pelatihan keterampilan, perlindungan perempuan, pengentasan kemiskinan, serta peningkatan kesejahteraan guru PAUD,” ujarnya, Selasa (21/4/2026).

Untuk memperkuat upaya tersebut, Estri juga memperjuangkan peningkatan belanja modal daerah, khususnya dalam pembangunan dan rehabilitasi ruang kelas di jenjang TK, SD, hingga SMP.

Selain itu, ia mendorong peningkatan tunjangan kinerja guru PAUD, pengembangan UMKM yang dikelola perempuan, serta pemberian beasiswa pendidikan.

Namun demikian, ia menilai alokasi belanja daerah di Kabupaten Purworejo saat ini belum sepenuhnya menyentuh kebutuhan perempuan dan anak.

Persentasenya masih sedikit, sekadar memenuhi standar minimal. Anggaran masih didominasi proyek fisik. Kegiatan pemberdayaan sering kali belum berdampak optimal, tidak berkelanjutan, dan kurang sinergi antar-OPD,” tegasnya.

Estri berharap ke depan kebijakan anggaran dapat lebih fokus, berkelanjutan, dan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat, terutama kelompok rentan.

Misalnya anggaran perlindungan perempuan, bantuan sosial untuk perempuan kepala keluarga, dukungan usaha khusus perempuan, hingga bantuan bagi anak putus sekolah,” tambahnya.

Lahir pada 9 September 1981 dan merupakan alumni SMAN 1 Yogyakarta, Estri juga memaknai Hari Kartini sebagai momentum penting untuk mengingat perjuangan perempuan Indonesia.

Menurutnya, semangat R.A. Kartini yang berani mendobrak tradisi telah membuka jalan bagi perempuan untuk berkembang hingga saat ini.

Kita harus bersyukur atas jalan yang sudah dibuka beliau. Rasa syukur itu kita wujudkan dengan terus mengasah diri dan menampilkan kualitas terbaik sebagai perempuan modern, tanpa melupakan peran dalam keluarga,” tuturnya.

Ia pun mengajak perempuan untuk terus belajar dan berani berkembang.

Perubahan terjadi karena kita mau belajar dan berjuang. Jadilah perempuan yang berani dan berdaya, jangan hanya fokus pada kecantikan fisik,” pesannya.

Di balik perannya sebagai pimpinan DPRD, Estri dikenal sebagai sosok sederhana dan dekat dengan masyarakat.

Ia tetap menjalani aktivitas sehari-hari seperti mengantar anak ke sekolah, berbelanja ke pasar, hingga berinteraksi langsung dengan warga.

Kalau ada waktu luang, saya masih antar-jemput anak, belanja ke pasar, atau sekadar mampir ke teman-teman yang jualan. Jadi jangan kaget kalau bertemu saya naik motor,” ungkapnya sambil tersenyum.

Keseharian tersebut menjadi cerminan bahwa di tengah tanggung jawab besar sebagai pejabat publik, Estri tetap menjaga kedekatan dengan keluarga dan masyarakat—sebuah nilai yang sejalan dengan semangat Kartini masa kini. (P24/wid)


Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.