LiterasiOpiniPendidikanSosial

Satukan Sekolah dan Desa Kaliglagah, Penggerak Literasi Buktikan Belajar Tak Berhenti di Ruang Kelas

19
×

Satukan Sekolah dan Desa Kaliglagah, Penggerak Literasi Buktikan Belajar Tak Berhenti di Ruang Kelas

Sebarkan artikel ini
Gerakan Literasi Sekolah SD Kaliglagah
Gerakan Literasi Sekolah SD Kaliglagah

KEMIRI, purworejo24.com – Menjadikan siswa akrab dengan bacaan sering kali terbentur kendala, mulai dari keterbatasan buku hingga kurangnya ketertarikan belajar. Namun, SMP Negeri 41 Purworejo menjadikannya sebagai tantangan untuk berbenah.

Kini, setiap pagi sekolah ini dipenuhi aktivitas membaca yang membawa energi baru ke dalam kelas. Di halaman sekolah, beberapa siswa duduk berkelompok dengan buku bacaan di tangan, sementara yang lain memilih membaca di teras kelas dengan penuh keseriusan. Bel berbunyi tanda masuk belum terdengar, tetapi mereka sudah larut dalam aktivitas membaca selama 20 menit yang kini menjadi rutinitas. Guru-guru berkeliling memastikan siswa benar-benar menikmati proses literasi, bukan sekadar menggugurkan kewajiban.

Program ini merupakan bagian dari Gerakan Literasi Sekolah yang digalakkan sejak dua tahun terakhir. Kehadirannya menjadi angin segar bagi dunia pendidikan di Purworejo. Tradisi literasi tersebut kini telah tumbuh menjadi identitas sekolah yang membanggakan.

Gerakan literasi ini tidak hadir begitu saja, melainkan lahir dari keresahan para pendidik ketika melihat rapor pendidikan tahun 2022. Saat itu capaian literasi dan numerasi siswa masih jauh dari harapan, bahkan dominan berwarna merah dalam laporan resmi. Kondisi itu memicu langkah cepat dewan guru dan kepala sekolah untuk duduk bersama dan merumuskan strategi perbaikan. Dari hasil musyawarah tersebut, literasi dipilih sebagai prioritas karena diyakini menjadi kunci utama peningkatan kualitas pendidikan.

“Kami prihatin ketika hasil rapor menunjukkan kelemahan di bidang literasi. Sejak itu, kami sepakat menjadikan literasi sebagai fokus utama perbaikan,” ungkap Tri Purnomo, M.Pd., kepala Sekolah SMP Negeri 41 dan penggerak Tim Literasi Sekolah.

Harapan pun digantungkan pada perubahan budaya belajar yang lebih kuat. Dengan landasan itu, sekolah pun mulai menata diri.

Awalnya, pelaksanaan literasi di pagi hari tidak serta merta mendapat sambutan positif dari siswa. Banyak di antara mereka yang membaca sambil lalu, bahkan ada yang mengantuk ketika membuka halaman buku. Namun guru-guru tidak menyerah begitu saja, mereka memberi pendampingan secara konsisten.

Untuk menambah semangat, sekolah membentuk Duta Literasi yang dipilih dari siswa berdasarkan minat dan seleksi tertentu. Para Duta Literasi ini diberi peran membacakan cerita, mendongeng, hingga memberikan motivasi kepada teman-temannya. Kehadiran mereka menambah warna baru dalam gerakan literasi di sekolah. Perlahan namun pasti, suasana mulai berubah dan siswa pun terlibat lebih aktif.

Selain pembiasaan membaca, variasi kegiatan literasi juga dirancang untuk menumbuhkan daya kritis siswa. Mereka tidak hanya diminta membaca, tetapi juga membuat laporan bacaan sederhana yang kemudian dipresentasikan. Diskusi kecil pun kerap digelar untuk menguji pemahaman terhadap isi teks. Dengan cara ini, anak-anak tidak hanya membaca tetapi juga berlatih menafsirkan, menganalisis, dan menyampaikan pendapat secara kritis.

Melalui diskusi yang terarah, siswa belajar saling menghargai pendapat teman dan mengasah kemampuan berargumentasi. Aktivitas ini sekaligus memperkuat rasa percaya diri mereka dalam berbicara. Akhirnya, literasi menjadi pintu masuk menuju kemampuan berpikir kritis yang diharapkan.

Upaya literasi di sekolah kemudian diperkuat dengan langkah besar lain, yaitu revitalisasi perpustakaan. Perpustakaan sekolah yang semula sepi kini disulap menjadi ruang yang lebih ramah dan nyaman. Rak-rak buku ditata ulang, koleksi diperbarui, dan sudut baca khusus anak-anak ditambahkan. Nama baru pun disematkan yaitu Graha Widya Pustaka.

“Perpustakaan adalah jantung literasi sekolah. Siswa butuh ruang yang nyaman dan koleksi yang relevan,” ujar salah satu pengelola perpustakaan.

Perubahan fisik perpustakaan terbukti meningkatkan minat siswa untuk datang dan meminjam buku. Kini, perpustakaan bukan lagi ruang sunyi, melainkan tempat penuh interaksi positif.

Revitalisasi perpustakaan tidak hanya berhenti pada penataan ruang. Sekolah juga mengajukan izin resmi ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta akreditasi ke Perpusnas. Hasilnya cukup membanggakan, karena untuk pertama kalinya perpustakaan sekolah memperoleh nilai “Baik”. Pencapaian itu menjadi bukti bahwa manajemen perpustakaan telah berjalan ke arah yang lebih profesional.

Dengan dukungan dana BOS dan partisipasi orang tua, fasilitas semakin lengkap. Bahkan layanan perpustakaan kini tidak hanya diperuntukkan bagi siswa, tetapi juga dibuka untuk masyarakat sekitar. Perpustakaan benar-benar menjadi pusat belajar bersama. Hal ini sekaligus memperluas jangkauan gerakan literasi.

Langkah paling menarik adalah kolaborasi antara sekolah dengan Desa Kaliglagah. Melalui kerjasama ini, dibentuklah Komunitas Membaca yang berpusat di balai desa. Desa menyediakan ruang baca sederhana, sementara sekolah membantu dengan koleksi buku dan tenaga pendampingan.

“Kami senang bisa bekerja sama dengan sekolah. Anak-anak di desa kini punya akses bacaan yang lebih luas,” ujar Kepala Desa Kaliglagah.

Kerjasama ini sekaligus menegaskan bahwa literasi bukan hanya urusan sekolah, melainkan juga tanggung jawab masyarakat. Kolaborasi itu membuat semangat membaca tumbuh lebih merata.

Suasana di balai desa ketika komunitas membaca berlangsung terasa hangat dan akrab. Anak-anak duduk lesehan sambil membuka buku cerita, sementara beberapa siswa SMPN 41 yang menjadi Duta Literasi mendampingi. Guru-guru pun hadir secara bergantian, memberikan motivasi dan bimbingan.

Tidak hanya siswa sekolah, anak-anak usia dini di desa pun ikut meramaikan kegiatan ini. Interaksi antar generasi terjadi secara alami melalui kegiatan membaca bersama. Balai desa yang biasanya lengang kini berubah menjadi ruang belajar kolektif. Inilah wajah baru sinergi antara pendidikan formal dan masyarakat.

Perubahan nyata dari gerakan literasi ini bisa dilihat dari data rapor pendidikan. Pada tahun 2023, persentase siswa yang mencapai kompetensi minimum literasi naik signifikan hingga 82,22%. Angka itu jauh lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya yang hanya sekitar 47%. Bahkan pada 2024, capaian terus meningkat hingga hampir menyentuh 89%.

Tidak hanya literasi, kemampuan numerasi siswa juga naik drastis dengan skor Baik 88,64%. Data ini menunjukkan keberhasilan strategi yang diterapkan sekolah. Literasi bervariasi dan revitalisasi perpustakaan terbukti memberi dampak positif. Dampak gerakan literasi juga terasa di ruang kelas. Guru matematika, misalnya, mengakui bahwa siswa kini lebih berani bertanya dan cepat memahami konsep.

“Kelas sekarang lebih hidup. Anak-anak sering mengaitkan soal dengan bacaan yang mereka baca, sehingga diskusi jadi lebih menarik,” ungkap salah satu guru.

Sebagai guru bahasa juga merasakan perubahan serupa, karena siswa mampu menulis lebih runtut dan kritis. Hal ini menunjukkan bahwa literasi memberikan pengaruh lintas mata pelajaran. Keberhasilan literasi di kelas menjadi bukti nyata bahwa budaya membaca sangat berpengaruh. Semangat belajar pun meningkat di berbagai aspek.

Orang tua siswa juga merasakan dampak dari gerakan ini. Beberapa di antara mereka mengaku anak-anak kini lebih rajin membaca di rumah. Ada pula yang bercerita, anaknya rutin meminjam buku dari perpustakaan desa.

“Dulu anak saya malas sekali membuka buku. Sekarang setiap malam dia pasti membaca, meski hanya beberapa halaman,” ujar seorang wali murid dengan bangga.

Perubahan kebiasaan ini menjadi kebahagiaan tersendiri bagi orang tua. Mereka merasa peran sekolah sangat membantu menanamkan kebiasaan positif. Dukungan orang tua pun semakin kuat untuk keberlanjutan program.

Selain meningkatkan akademik, literasi juga membentuk karakter siswa. Mereka belajar disiplin dengan waktu membaca, melatih rasa ingin tahu, dan menghargai perbedaan pendapat dalam diskusi. Semua itu merupakan fondasi penting bagi generasi muda untuk menghadapi masa depan.

Anak-anak yang terbiasa membaca cenderung lebih fokus, tenang, dan memiliki pandangan yang luas. Literasi pun akhirnya menjadi bekal bukan hanya untuk sekolah, tetapi juga untuk kehidupan. Karakter positif inilah yang menjadi nilai tambah dari gerakan literasi. Dengan begitu, literasi menyentuh aspek akademik sekaligus moral.

Meski demikian, tantangan tetap ada. Ketersediaan buku bacaan perlu terus diperbarui agar siswa tidak bosan. Fasilitas perpustakaan juga harus ditingkatkan, misalnya dengan penambahan akses digital. Selain itu, pendampingan dari guru dan Duta Literasi harus konsisten.

“Gerakan ini tidak boleh hanya semangat di awal, tapi harus berkesinambungan,” ujar Kepala Sekolah.

Tantangan lain adalah bagaimana menjaga minat baca siswa di era gawai dan media sosial. Namun pihak sekolah optimis, dengan kerjasama semua pihak, kendala itu bisa diatasi. Semangat kolektif menjadi kunci utama.

Keberhasilan SMPN 41 Purworejo bersama Desa Kaliglagah mulai menarik perhatian pihak lain. Beberapa sekolah di sekitar Purworejo datang berkunjung untuk belajar dan meniru praktik baik ini. Mereka ingin mengetahui bagaimana sekolah mampu mengubah budaya literasi dalam waktu relatif singkat.

“Kami ingin keberhasilan ini bisa menjadi inspirasi bagi sekolah lain. Literasi adalah kunci peradaban,” ujar Tri Purnomo penuh semangat.

Melalui kunjungan antar sekolah, semangat literasi semakin meluas. Dengan begitu, gerakan ini berpotensi menjadi model nasional. Harapannya, lebih banyak sekolah akan tergerak mengikuti jejak yang sama.

Dari sekolah ke desa, dari ruang kelas yang dipenuhi tawa anak-anak hingga balai desa yang menjadi pusat berkumpulnya warga, gerakan literasi ini terus bergulir tanpa mengenal lelah. Ia hadir bukan hanya sebagai program seremonial, melainkan sebagai denyut nadi yang menghidupkan kembali semangat belajar di tengah masyarakat.

Literasi bukan sekadar kegiatan membaca buku, melainkan sebuah gerakan yang menanamkan nilai, membangun kebiasaan, sekaligus mengikat ikatan sosial antara generasi muda dan masyarakat luas. Anak-anak yang sebelumnya hanya mengenal buku dari bangku sekolah kini bisa membacanya bersama keluarga, tetangga, dan bahkan menjadikannya bahan obrolan di warung kopi desa. Dari sinilah, literasi berubah menjadi jembatan yang menyatukan dunia pendidikan dengan kehidupan sosial masyarakat.

Kolaborasi antara sekolah dan desa menjadi bukti nyata bahwa pendidikan adalah urusan bersama, bukan hanya tanggung jawab guru di ruang kelas. Kehadiran perpustakaan desa, pojok baca, hingga program membaca bersama di balai desa menjadikan literasi sebagai bagian dari budaya hidup sehari-hari.

Membaca tidak lagi dianggap sebagai kewajiban yang membosankan, melainkan jendela besar yang terbuka lebar untuk melihat dunia, memahami tantangan zaman, sekaligus merancang masa depan. Setiap buku yang dibaca adalah langkah kecil menuju perubahan besar.

Dari desa kecil ini, sebuah gerakan tumbuh dan mengirim pesan kuat bahwa literasi mampu melahirkan generasi yang kritis sekaligus berkarakter. Semoga semangat literasi ini tidak berhenti pada satu daerah saja, tetapi terus tumbuh, menguat, dan menjalar seperti akar pohon yang menghidupi seluruh tanah air. Pesan sederhana namun penuh makna terus disuarakan: jadikan membaca sebagai kebiasaan, karena di dalamnya masa depan sedang dibangun, pengetahuan ditanamkan, dan harapan untuk bangsa yang lebih maju dipupuk setiap hari.

Tria Oktafiana (Guru Bahasa Indonesia di SMP Negeri 41 Purworejo)

 


Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.