PURWOREJO, purworejo24.com – Rois ‘Ali Idarah Aliyyah Jam’iyyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyah (JATMAN), KH Achmad Chalwani Nawawi menegaskan bahwa Pangeran Diponegoro dan KH Hasyim Asy’ari adalah seorang santri sekaligus penganut tarekat.
Hal tersebut disampaikannya saat memberikan taushiyah dalam Pelantikan dan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I Idarah Aliyyah JATMAN Masa Khidmah 2025–2030 yang digelar di Pondok Pesantren An-Nawawi, Berjan, Kabupaten Purworejo, Senin (7/7/2025).
Dalam kesempatan tersebut, KH Chalwani mengungkap bahwa pendiri Nahdlatul Ulama (NU) yakni KH Hasyim Asy’ari adalah penganut tarekat. Beliau menganut Tarekat Qodiriyah wa Naqsabandiyah (TQN).
“Mbah Hasyim itu juga tarekat, beliau talqin tarekat Qodiriyah wa Naqsabandiyah kepada KH Mahfudz Termas Pacitan Jawa Timur. Jadi pendiri NU ini, tarekat, ya kalau sudah tau penduri NU tarekat, maaf koq ada pengurus NU yang belum tarekat,” kata KH Achmad Chalwani disambut tepuk tangan ribuan kyai dan ulama.
KH Achmad Chalwani menambahkan, KH Hasyim Asy’ari adalah muridnya KH Mahfudz Termas. Kebetulan kakak perempuan KH Mahfudz menikah dengan KH Zaid Tirip, Desa Ngrendeng, Gebang Purworejo.
“Satu kampung dengan tempat kelahiran almarhum Jendral Ahmad Yani,” kata Pengasuh Ponpes An-Nawawi Berjan Purworejo ini.
Selain, pendiri NU, mantan Presiden RI K.H. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur juga sebagai penganut tarekat. Gus Dur juga mengamalkan Tarekat Qodiriyah wa Naqsabandiyah.
“Gus Dur tahun 1983 talqin baiat Tarekat Qodiriyah wa Naqsabandiyah kepada KH. Sonhaji, Jimbun Sruweng Kebumen. Maka penggemar Gusdur, sudah pakaibkaos ada gambarnya Gus Dur dan masuk tarekat ini sempurna,” kata KH Achmad Chalwani.
KH Achmad Chalwani menyebut pada zaman pra kemerdekaan, orang yang paling berani menantang penjajah Belanda adalah satri tarekat. Ada santri tarekat yang mashur perang melawan Belanda hingga Belanda mengalami kebangkrutan.
Beliau menyebut, santri tersebut adalah Pangeran Diponegoro. Diponegoro tidak hanya dikenal sebagai pahlawan nasional dan panglima perang yang ditakuti kolonial Belanda, namun juga merupakan santri yang mendalami ilmu-ilmu agama dan mengamalkan ajaran tarekat.
“Yang paling berani menantang Belanda adalah santri yang sudah tarekat. Ada santri lahir di Desa Tegalrejo, Yogyakarta, santri tadi bernama Ontowiryo (nama kecil Pangeran Diponegoro,” kata KH Achmad Chalwani.
Pangeran Diponegoro mondok kepada KH Hasan Besari di Tegalsari, Jetis, Ponorogo. Ia juga mondok berguru dan belajar kitab Tafsir Jalalain dengan KH Baidlowi di Bagelen Purworejo.
“Ontowiryo belajar ilmu hikmah dari KH Nur Muhammad di Ngadiwongso, Salaman, Magelang. Beliau berguru tarekat kepada Kiai Taftazani di Kertosuro, apa tarekatnya ? Tarekat Syattariyah,” kata mantan anggota DPD RI ini.
“Adapun nama lengkapnya Kyai Haji Kanjeng Bendoro Raden Mas Ontowiryo Abdul Hamid Mustahar Herucokro Senopati Ing Alogo Sayyidin Pranotogomo Amirul Mukminin Khalifatullah Tanah Jawi Pangeran Diponegoro Pahlawan Goa Selarong,” kata KH Chalwani disambut tepuk tangan ribuan jemaah.
Diketahui selama Perang Jawa atau Perang Diponegoro (1825–1830), Pemerintah Hindia Belanda mengalami kerugian besar, baik secara materiil maupun moral. Lebih dari 14.000 tentara kolonial gugur dan keuangan negara jajahan itu kolaps akibat perang yang digerakkan seorang santri tarekat.
Ada 3 peninggalan Pangeran Diponegoro, yang pertama adalah Al-Quran, yang kedua adalah tasbih dan yang ketiga adalah kitab Fatkhul Qorib.
“Kenapa Al-Qur’an karena beliau seorang muslim, yang kedua tasbih, karena beliau ahli dzikir bahkan tarekat. Profesor Salim Said guru besar ilmu pertahanan di Jakarta mengatakan Diponegoro tokoh tarekat. Yang ketiga kitab Fatkhul Qorib kitab Mahdzab Syafii maka Diponegoro Bermahdzab Syafii,” kata KH Achmad Chalwani. (P24-bayu)
Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.








