KUTOARJO, purworejo24.com — Ribuan jamaah dari berbagai wilayah memadati Desa Karangrejo, Kecamatan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo, pada Minggu (20/7/2025), dalam rangka pengajian akbar memperingati Haul KH Bakri ke-48 dan KH Fathoni ke-28.
Acara tahunan ini berlangsung khidmat dan penuh semangat religi, dimulai sejak pagi hingga menjelang sore hari.
Pengajian tersebut menghadirkan dua ulama kondang, yakni Gus Qosim Thoifur, pengasuh Pondok Pesantren Daarutauhid, Wironatan, Kecamatan Butuh, Purworejo, serta KH Mustofa Al Kifli, S.HI, dari Pondok Pesantren Darunnajah, Kepil, Wonosobo.
Keduanya menyampaikan tausiyah yang menggugah, menekankan pentingnya istiqamah dalam beribadah serta mempererat tali silaturahmi umat.
KH Saiful Anam, putra keempat dari KH Fathoni, menjelaskan bahwa haul ini bukan hanya sebagai bentuk penghormatan kepada para ulama terdahulu, namun juga sebagai media dakwah untuk menyemarakkan ajaran Islam di tengah masyarakat.
“Alhamdulillah, dari pukul 08.00 WIB hingga sekitar pukul 13.20 WIB acara berlangsung lancar tanpa hambatan, dan dihadiri lebih dari 3.000 jamaah dari berbagai daerah,” ungkap KH Saiful Anam.
Haul ini menjadi tradisi tahunan yang terus dilestarikan oleh warga setempat. Dalam penuturannya, KH Saiful Anam menceritakan bahwa KH Bakri—yang merupakan kakeknya—bukanlah penduduk asli Karangrejo. Beliau berasal dari Wonotulus, Purworejo, dan dahulu pernah merantau hingga ke Singapura.
Atas permintaan masyarakat, beliau akhirnya menetap di Karangrejo sebagai sesepuh dan tokoh awal yang membuka dan membangun desa tersebut.
Selain sebagai momentum spiritual, haul ini juga merefleksikan sejarah panjang pendidikan Islam di Karangrejo. Dulu, pesantren di sana masih berupa bangunan panggung dari kayu. Kini, telah berkembang menjadi bangunan permanen bertingkat, yang menaungi sekitar 10 santri putri dari daerah seperti Munggangsari Kecamatan Brumo.
Pesantren ini dikenal dengan pendidikan dasar fiqih dan bahasa Arab, serta program tanfidzul Qur’an yang dimulai dari juz 30.
Pesantren yang dulu dikenal sebagai Al-Bakriyah kini berganti nama menjadi Tanfidzul Quran, dengan fokus utama mencetak para penghafal Al-Qur’an sejak usia dini.
“Harapannya, dengan haul ini, masyarakat semakin religius, lebih taat kepada Allah SWT, menjauhi larangan-Nya, dan semoga kegiatan ini terus langgeng hingga akhir hayat,” tutup KH Saiful Anam penuh haru.
Dengan semangat keislaman dan kebersamaan yang terus terjaga, Karangrejo tak hanya menjadi tempat peringatan haul, tetapi juga pusat syiar Islam yang terus bertumbuh di tengah perkembangan zaman. (P24/wid)
Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.








