Kesehatan

Deteksi Secara Dini, Kaki Pengkor atau Congenital Talipes Equinovarus (CTEV) Dapat Disembuhkan

165
×

Deteksi Secara Dini, Kaki Pengkor atau Congenital Talipes Equinovarus (CTEV) Dapat Disembuhkan

Sebarkan artikel ini
Suasana pelatihan Deteksi Dini d Rujukan Kaki Pengkor (CTEV/Clubfoot) bagi Tenaga Kesehatan di Kabupaten Purworejo, pada Jumat (26/1/2024).
Suasana pelatihan Deteksi Dini d Rujukan Kaki Pengkor (CTEV/Clubfoot) bagi Tenaga Kesehatan di Kabupaten Purworejo, pada Jumat (26/1/2024).

PURWOREJO, purworejo24.com – Sebagai langkah proaktif dalam mendukung edukasi kesehatan dan penguatan kapasitas Layanan Primer, Pusat Rehabilitasi YAKKUM bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Purworejo dan RS Panti Waluyo Purworejo mengadakan Pelatihan Deteksi Dini dan Rujukan CTEV/Clubfoot bagi tenaga kesehatan (dokter dan bidan) di puskesmas dan rumah sakit se-Kabupaten Purworejo, di Gedung Aula Dinas Kesehatan Purworejo, pada Jumat (26/1/2024).

Pelatihan dibuka oleh Plh Sekda Purworejo Drs Bambang Susilo, dan dihadiri oleh Dokter fungsional dan bidan koordinator 27 Puskesmas, Dokter umum/bidan 12 Rumah Sakit, Dokter orthopedi RSUD Dr. Tjitrowardojo Purworejo dan RSUD R.A.A Tjokronegoro, serta Tim klinik RS Panti Waluyo Purworejo.

Pelatihan itu digelar juga sejalan dan mendukung strategi global “Run Free 2030” yang bertujuan untuk menangani 70% anak yang lahir dengan kondisi CTEV/clubfoot di seluruh dunia.

Sejumlah nara sumber dihadirkan untuk memberikan materi, diantaranya dr. Ainun Naim, Sp.OT tentang Deteksi Dini Clubfoot/CTEV dan petugas Dinas Kesehatan tentang Alur rujukan clubfoot/CTEV.

Pelatihan Deteksi Dini dan Rujukan Clubfoot/CTEV ini diharapkan dapat menguatkan upaya deteksi dan intervensi dini Clubfoot/CTEV di wilayah Kabupaten Purworejo dan memperkuat kerja sama antara puskesmas dan rumah sakit dalam penanganan CTEV.

Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Penanganan Clubfoot yang dijalankan oleh Pusat Rehabilitasi YAKKUM dengan dukungan MiracleFeet. Program ini mendorong layanan terpadu untuk clubfoot, penguatan metode Ponseti (non-bedah) dan penyediaan alat bantu sepatu koreksi (brace) untuk menciptakan masa depan yang lebih cerah bagi anak-anak dengan kondisi kaki pengkor (clubfoot/CTEV) di Indonesia,” kata penanggungjawab program penanganan clubfoot dari Miracle Feet, Silvia Laurent.

Piloting program itu diselenggarakan melalui kerja sama dengan rumah sakit YAKKUM di 3 provinsi, yakni Jawa Tengah, D.I Yogyakarta dan Lampung. Pada tahun 2023, program merambah ke Kabupaten Purworejo melalui kerja sama dengan RS Panti Waluyo untuk memperluas manfaat program.

Tujuan dari pelatihan ini adalah untuk mendukung upaya deteksi dan intervensi dini Clubfoot/CTEV di Kabupaten Purworejo,” ujarnya.

Di Purworejo, lanjutnya, sampai saat ini ada lima pasien yang dibantu secara intens karena mereka harus sering berganti sepatu sesuai dengan pertumbuhannya. Syaratnya, pasien sudah mendapatkan penanganan termasuk operasi dan gips dan memperoleh rujukan dari Rumah Sakit Panti Waluyo sebagai mitra.

Silvia berharap Miracle Feet dapat mengentaskan minimal 70% anak-anak clubfoot, termasuk di Purworejo.

dokter spesialis orthopedi RS Panti Waluyo Purworejo, dr Ainun Naim, Sp. OT, mengatakan, kaki pengkor atau Congenital Talipes Equinovarus (CTEV) merupakan suatu kelainan bawaan yang penyebabnya tidak diketahui secara pasti. Kaki pengkor bisa ditangani dengan mudah. Apabila terdeteksi secara dini dan keluarga mau memeriksakan secara rutin maka kaki akan kembali normal. Gejala kaki pengkor bisa dideteksi sejak masih dalam kandungan, yakni saat memasuki tri semester kedua atau bulan keenam. Yaitu saat pembentukan organ tubuh termasuk kaki.

Setelah lahir atau maksimal berusia satu tahun dilakukan penanganan secara rutin setiap minggu di-gips dan pakai sepatu khusus sampai usia empat tahun. Pada empat bulan pertama sepatu dipakai fullday. Setelah itu cukup pada saat siang atau malam saat istirahat atau tidur,” paparnya.

Bila rutin periksa maka kaki bengkok akan sembuh. Meski begitu mereka yang berusia di atas satu tahun juga tetap bisa ditangani, tapi kendalanya anak akan susah jongkok.

Padahal kalau orang Indonesia kan senengnya jongkok, lain dengan orang luar negeri senengnya duduk,” imbuhnya.

Selain itu bagi mereka yang sudah dewasa tetap bisa ditangani tetapi koreksinya tidak hanya otot, melainkan juga tulangnya yang harus dibentuk kembali.

Sementara itu, Kabid Pelayanan Kesehatan Masyarakat Dinkes, dr. Budi Susanti menjelaskan, rasio penderita clubfoot terjadi satu hingga dua kasus setiap 1.000 kelahiran.

Jadi kalau rata-rata kelahiran di Purworejo setahun ada 8.000 sampai 9.000, ya ada sekitar 10 bayi penderita clubfoot,” ungkap dr. Santi.

Dengan deteksi dini, bayi clubfoot dapat langsung ditangani sehingga pada saat usianya empat tahun bisa normal berjalan seperti anak-anak lainnya. Mereka di-gips dan diberi sepatu khusus.

Kalau yang operasi dan pemasangan gips ter-cover BPJS, tapi kalau sepatunya ini dibantu dari badan amal Miracle Feet yang menangani masalah fisik,” imbuhnya.

Santi berharap melalui pelatihan ini nantinya jumlah disabilitas di Purworejo sekitar 7.000 orang tidak bertambah. Mereka berasal dari berbagai usia dengan penyebab yang beragam. (P24/wid)


Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.