Pertanian

BUMDes Cipta Mandiri Desa Guyangan Manfaatkan Air Sungai Bogowonto, 30 Hektare Sawah Tetap Produktif di Musim Kemarau

1
×

BUMDes Cipta Mandiri Desa Guyangan Manfaatkan Air Sungai Bogowonto, 30 Hektare Sawah Tetap Produktif di Musim Kemarau

Sebarkan artikel ini
Lokasi pengambilan air di sungai Bogowonto
Lokasi pengambilan air di sungai Bogowonto

PURWODADI, purworejo24.com — Musim kemarau tak menyurutkan upaya Pemerintah Desa Guyangan, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Purworejo, dalam menjaga ketahanan pangan. Melalui BUMDes Cipta Mandiri, air Sungai Bogowonto dimanfaatkan untuk mengairi puluhan hektare lahan pertanian milik warga.

Inovasi tersebut dilakukan dengan membangun sistem pengairan menggunakan pompa dan jaringan pipa dari titik pengambilan air di Sungai Bogowonto menuju area persawahan. Langkah ini memungkinkan lahan tetap ditanami padi meski pasokan air dari hujan sangat terbatas.

Direktur BUMDes Cipta Mandiri Guyangan, Djamaludin Ahmad, mengatakan program ketahanan pangan tersebut mulai dijalankan pada 2025 setelah desa memberikan penyertaan modal sekitar Rp131,37 juta melalui dana desa.

Menurutnya, karena Guyangan merupakan desa dengan karakteristik pertanian, BUMDes kemudian memilih sektor pengairan sebagai fokus utama program ketahanan pangan, khususnya untuk menghadapi musim tanam ketiga (MT3) atau musim kemarau.

“Logikanya sederhana, kalau kita ingin menanam padi, tentu membutuhkan air. Karena itu dana penyertaan kami fokuskan untuk pengairan,” kata Djamaludin, Rabu (7/10/2026).

Untuk membangun sistem tersebut, BUMDes membeli dua unit pompa atau sibel berukuran enam inci beserta jaringan pipa. Total investasi untuk pengadaan pompa dan pemasangan jaringan pengairan mencapai sekitar Rp57 juta.

Jaringan pipa yang dibangun memiliki panjang sekitar 300 meter dari titik pengambilan air hingga lokasi persawahan. Pipa tersebut dipasang dan dimodifikasi mengikuti kondisi medan agar air dapat dialirkan ke lahan pertanian.

Selain pengairan, BUMDes juga mengelola proses awal budidaya, mulai dari penyediaan bibit, pengolahan lahan hingga penanaman. Setelah tanaman padi ditanam, lahan dikembalikan kepada petani untuk dirawat hingga panen.

“Dari pembibitan sampai penanaman padi kita kelola oleh BUMDes. Setelah ditanam, baru kita serahkan kepada warga dengan konsekuensi warga mengganti biaya yang sudah dikeluarkan,” jelasnya.

Pada 2026, biaya yang disepakati untuk proses tersebut sebesar Rp750 ribu per iring untuk lahan biasa dan Rp850 ribu per iring untuk lahan bekas penggunaan kombain.

Djamaludin menegaskan, skema tersebut bukan semata-mata untuk mencari keuntungan BUMDes, melainkan untuk memastikan program pertanian dapat berjalan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Sementara untuk pengairan pada MT3, BUMDes tetap menanggung operasional hingga masa panen. Petani kemudian memberikan kontribusi sekitar Rp500 ribu per iring untuk biaya pengairan. Besaran tersebut dapat dievaluasi sesuai penggunaan token listrik.

“Target BUMDes bukan mencari keuntungan. Yang kami utamakan bagaimana masyarakat tetap bisa menanam dan bekerja pada musim kemarau,” ujarnya.

Program tersebut kini mencakup sekitar 30 hektare lahan dengan melibatkan sekitar 132 pemilik lahan. Cakupan tersebut masih dapat diperluas karena total lahan pertanian di wilayah Guyangan mencapai sekitar 52 hektare.

Djamaludin menyebut keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh BUMDes. Partisipasi petani juga menjadi faktor penting. Ketika terjadi saluran tersumbat, pipa putus, maupun gangguan pengairan, warga turut bergotong royong melakukan perbaikan.

Tantangan terbesar tahun ini adalah kondisi cuaca yang ekstrem serta serangan hama. Sejumlah hama seperti tikus, belalang dan sundep sempat menyerang tanaman. BUMDes kemudian berkoordinasi dengan sejumlah warga yang memiliki pengalaman di bidang pertanian untuk mencari solusi pengendalian hama.

“Alhamdulillah, hama bisa teratasi meskipun tidak seratus persen,” katanya.

Djamaludin berharap keberhasilan program tersebut dapat terus dikembangkan. Ke depan, BUMDes juga membuka peluang untuk mengintegrasikan pengelolaan hasil panen dengan Koperasi Desa Merah Putih sehingga tidak hanya produksi, tetapi juga pemasaran dapat dikelola secara lebih terstruktur.

Lokasi persawahan yang terairi air dari sungai Bogowonto
Lokasi persawahan yang terairi air dari sungai Bogowonto

Sementara itu, Kepala Desa Guyangan, Shidiq Hardjono, mengatakan pemerintah desa memberikan dukungan penuh terhadap pengembangan program tersebut. Menurutnya, keberadaan sistem pengairan membuat lahan yang sebelumnya berpotensi menganggur saat kemarau tetap dapat dimanfaatkan.

“Alhamdulillah, tanah sawah yang semestinya nganggur dan kering bisa dimanfaatkan. Masyarakat bisa bekerja dan mendapatkan panenan,” ujar Shidiq.

Ia mengatakan penyertaan modal pada 2025 telah memberikan pengalaman bagi BUMDes untuk mengembangkan program pada 2026, meski dihadapkan pada kondisi cuaca yang cukup ekstrem.

Shidiq berharap cakupan layanan pengairan BUMDes dapat terus diperluas hingga mendekati seluruh lahan pertanian desa. Untuk mencapai target tersebut, diperlukan penambahan infrastruktur, terutama jaringan pipa dan sarana pengairan.

“Kalau sekarang sekitar 30 hektare, harapan saya ke depan bisa mendekati 50 hektare. Kalau infrastrukturnya bisa ditambah, pelayanan kepada masyarakat juga bisa diperluas,” katanya.

Program BUMDes Cipta Mandiri Guyangan menunjukkan bahwa ketahanan pangan tidak selalu harus diwujudkan melalui lahan baru. Dengan inovasi pengairan, pengelolaan bersama dan gotong royong, lahan pertanian yang rawan kekeringan pun tetap dapat produktif dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. (P24/wid)


Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.