Oleh: Azis Subekti, Anggota DPR RI Fraksi Gerindra
Ketika kota Hiroshima luluh lantak akibat bom atom pada 1945, dunia menyaksikan salah satu tragedi kemanusiaan terbesar dalam sejarah.
Namun di tengah kehancuran tersebut, Kaisar Jepang Hirohito justru mengajukan pertanyaan yang melampaui logika perang: bukan tentang sisa kekuatan militer atau persediaan logistik, melainkan tentang keberadaan para guru—berapa banyak yang masih hidup.
Pertanyaan itu menandai kesadaran fundamental bahwa masa depan bangsa tidak ditentukan oleh senjata atau kekuasaan, melainkan oleh manusia yang berilmu dan berkarakter. Dari titik nol pascaperang, Jepang memilih jalan sunyi namun menentukan: membangun kembali peradaban melalui pendidikan.
Pemerintah Jepang menempatkan sekolah sebagai pusat kebangkitan bangsa dan guru sebagai figur terhormat. Pendidikan diarahkan untuk membentuk disiplin, tanggung jawab, ketekunan, serta daya pikir kritis.
Hasilnya bukan hanya pemulihan ekonomi, tetapi transformasi kualitas sumber daya manusia. Jepang tumbuh menjadi bangsa dengan tingkat literasi tinggi, kemampuan inovasi kuat, dan etos kerja yang menjadi rujukan dunia.
Sejarah tersebut menunjukkan bahwa pendidikan tidak dibangun melalui janji jangka pendek, melainkan melalui konsistensi kebijakan dan keberlanjutan tindakan.
Jepang memastikan anak-anak memperoleh gizi yang cukup, sekolah hadir hingga ke komunitas paling dasar, serta akses pengetahuan terbuka luas. Investasi inilah yang menjadikan Jepang tangguh menghadapi krisis ekonomi, bencana alam, dan dinamika global yang terus berubah.
Cermin sejarah itu kini relevan bagi Indonesia. Dalam satu tahun terakhir, di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, pembangunan pendidikan mulai ditempatkan sebagai poros utama pembangunan nasional, bukan sekadar sektor pendukung. Program makan bergizi bagi anak sekolah, santri pesantren, ibu hamil, dan balita menjadi langkah strategis yang berpijak pada fakta ilmiah bahwa kecerdasan tidak dapat berkembang optimal tanpa pemenuhan gizi yang memadai.
Upaya tersebut diperkuat dengan perluasan akses pendidikan melalui peningkatan jumlah penerima beasiswa, sehingga pendidikan tidak lagi menjadi hak istimewa kelompok tertentu.
Perbaikan sekolah-sekolah rusak dipandang bukan hanya sebagai pembangunan fisik, tetapi juga pemulihan martabat ruang belajar. Di wilayah terpencil, pembangunan infrastruktur dasar dan akses jalan menegaskan kehadiran negara sebagai syarat utama hidupnya pendidikan.
Selain itu, pengembangan sekolah rakyat berasrama gratis membuka peluang nyata bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu untuk keluar dari lingkaran kemiskinan struktural.
Pembangunan sekolah unggulan dan perluasan SMA berstandar nasional berkualitas disiapkan untuk mencetak generasi pemimpin masa depan yang berdisiplin, berkarakter, dan memiliki daya saing akademik. Pada jenjang pendidikan tinggi, kerja sama dengan universitas-universitas terkemuka di Inggris menjadi jalur transfer pengetahuan dan standar global langsung ke dalam negeri.
Rangkaian kebijakan tersebut menunjukkan bahwa pembangunan manusia mulai dijalankan sebagai kerja nyata, bukan sekadar narasi politik. Negara bekerja dari hulu: memastikan tubuh generasi muda sehat, pikiran terasah, dan lingkungan belajar layak. Namun pengalaman Jepang juga mengajarkan bahwa keberhasilan pendidikan tidak pernah berdiri sendiri.
Pendidikan hanya akan berhasil bila melibatkan seluruh elemen bangsa—guru yang berdedikasi, orang tua yang peduli, masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan, serta dunia usaha yang memberi ruang bagi tumbuhnya inovasi. Pemerintah dapat membuka jalan, tetapi akal budi hanya berkembang jika ditumbuhkan bersama.
Kesadaran kolektif inilah yang perlu terus digugah.
Tidak ada bangsa besar yang lahir tanpa kesediaan seluruh warganya untuk mendidik generasi penerus. Dari rumah, sekolah, pesantren, kampus, hingga ruang publik, inilah momentum bagi Indonesia untuk bangkit bersama—membangun akal budi, menajamkan kecerdasan, dan memastikan masa depan bangsa ditopang oleh manusia yang berpikir jernih, berkarakter kuat, dan bertanggung jawab terhadap negaranya.
Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.







