Politik

PKB Purworejo Tampung Aspirasi Masyarakat, Mayoritas Tolak Wacana 5 Hari Sekolah

228
×

PKB Purworejo Tampung Aspirasi Masyarakat, Mayoritas Tolak Wacana 5 Hari Sekolah

Sebarkan artikel ini
Ketua DPC PKB Kabupaten Purworejo, H. Fran Suharmaji,
Ketua DPC PKB Kabupaten Purworejo, H. Fran Suharmaji,

PURWOREJO, purworejo24.com – Wacana penerapan lima hari sekolah untuk jenjang TK, SD, dan SMP di Kabupaten Purworejo mendapat sorotan dari Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kabupaten Purworejo.

Ketua DPC PKB Kabupaten Purworejo, H. Fran Suharmaji, menyatakan bahwa berdasarkan hasil reses anggota dewan, mayoritas masyarakat menolak wacana tersebut, terutama karena kekhawatiran akan terganggunya kegiatan pendidikan keagamaan non-formal seperti Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ).

Fran menegaskan, meski aspirasi penolakan dari masyarakat sangat kuat, pihaknya belum mengambil keputusan final. Sikap resmi partai akan selaras dengan arahan dari Dewan Pimpinan Pusat (DPP) dan Dewan Pimpinan Wilayah (DPW), serta tidak akan terlepas dari pandangan keluarga besar Nahdliyin.

Keputusan kami pasti tidak lepas dari DPP, tidak lepas dari kepentingan masyarakat secara umum, dan juga kami pasti tidak jauh-jauh dari Nahdliyin. Kami akan memperhatikan porsi yang lebih besar, ikut Nahdliyin,” ujar Fran Suharmaji, saat ditemui dikantor DPC PKB Pirworejo, pada Jumat (11/7/2025).

Lebih lanjut, ia mengaku bahwa DPC PKB belum pernah menerima penjelasan teknis yang komprehensif mengenai wacana tersebut. Ketidakjelasan mengenai jam pulang sekolah hingga detail teknis lainnya membuat partai belum bisa menentukan sikap secara penuh.

Kami belum tahu persis yang namanya 5 hari sekolah itu bagaimana, misal jamnya sampai jam berapa, ataupun kriteria apapun lainnya kita belum tahu. Tapi dari hasil reses di semua titik, usulan dari masyarakat adalah menolak,” jelasnya.

Fran juga berpendapat bahwa survei yang idealnya dilakukan untuk mengukur penerimaan kebijakan ini seharusnya menyasar langsung kepada masyarakat luas, bukan hanya kepada para guru.

Alasan utama penolakan dari masyarakat, menurut Fran, adalah kekhawatiran terhadap nasib pendidikan agama sore hari. Ia menekankan bahwa TPQ dan TPA merupakan fondasi yang sangat penting dalam pembentukan karakter dan akhlak anak.

Prinsipnya, jangan sampai mengganggu aktivitas non-formal keagamaan umat. Pendidikan keagamaan seperti TPQ dan TPA itu sangat penting sekali sebagai pondasi dasar. Kalau keagamaannya kuat, maka akhlaknya, perbuatannya, dan sikapnya pasti juga akan baik,” tegasnya.

Ia juga menyoroti perjuangan para guru ngaji di TPQ dan TPA. Menurutnya, para pengajar ini memiliki dedikasi yang luar biasa meski apresiasi dari pemerintah dirasa belum sebesar yang diterima guru pada umumnya.

Ada perjuangan yang luar biasa bagi yang mengajar sore hari di TPQ dan TPA. Meskipun kita yakin niat para guru ngaji ini lillahi ta’ala, perhatian untuk mereka harus terus ditingkatkan,” tambahnya.

Untuk saat ini, DPC PKB Purworejo menempatkan aspirasi masyarakat sebagai prioritas utama. Penolakan terhadap wacana lima hari sekolah akan terus diperjuangkan sambil menunggu arahan lebih lanjut dari struktur partai yang lebih tinggi dan keluarga besar Nahdliyin. (P24/wid)


Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.