KUTOARJO, purworejo24.com — Perayaan Hari Batik Nasional 2026 di Kabupaten Purworejo tidak hanya diisi dengan kegiatan seremonial. Semangat melestarikan warisan budaya dikemas secara kreatif melalui Workshop Shibori Craft di Bale Bebakaran Kutoarjo, Minggu (4/10/2026).
Kegiatan tersebut mempertemukan pelaku usaha, perajin, masyarakat, dan generasi muda dalam aktivitas kreatif membuat kain bermotif menggunakan teknik Shibori.
Workshop dibuka oleh Sekretaris Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, dan Perdagangan (DinKUKMP) Kabupaten Purworejo, Nurhadi Trionggo, S.H., M.AP, bersama Kepala Bidang Koperasi dan Usaha Mikro DinKUKMP Purworejo, Rimi Anik, S.E., M.M.
Workshop menjadi menarik karena Shibori yang diperkenalkan merupakan teknik pewarnaan kain yang dikembangkan oleh pelaku usaha lokal Purworejo melalui Shinori, brand Shibori yang berada di wilayah Senepo, Kutoarjo.
Supervisor Bale Bebakaran Kutoarjo, Dewi Nurngaini, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bentuk dukungan pihaknya terhadap pelestarian batik sekaligus wadah bagi masyarakat untuk mengenal kerajinan secara langsung.
“Suatu kebanggaan dan keberhasilan bagi kami telah melangsungkan Workshop Shibori Craft. Kami menghadirkan sesuatu yang berbeda dengan berkolaborasi bersama Shibori yang merupakan anak Purworejo asli,” kata Dewi.
Menurutnya, kegiatan yang digelar sebagai bagian dari peringatan Hari Batik Nasional tersebut mendapat respons positif dari masyarakat. Bahkan, kuota peserta yang semula hanya 15 orang harus ditambah karena tingginya minat.
“Pesertanya sekitar 20 orang. Kami sebenarnya tidak berekspektasi akan sebanyak ini karena kuota awal hanya 15 orang, tetapi kemudian kami menambah kuota. Bahkan sore hari masih ada yang mendaftar, tetapi terpaksa kami tutup,” ujarnya.
Peserta tidak hanya berasal dari berbagai wilayah di Purworejo seperti Pituruh, tetapi juga dari Kabupaten Kebumen. Hal tersebut menunjukkan bahwa kegiatan kreatif berbasis budaya memiliki daya tarik lintas wilayah.
Dewi menjelaskan, pemilihan Shibori bukan tanpa alasan. Bale Pembakaran Kutoarjo ingin menghadirkan kegiatan yang dapat menghubungkan masyarakat dengan potensi kreatif lokal.
“Di sekitar kami, di Senepo, ada masyarakat atau pemuda Purworejo yang memiliki bakat di bidang batik, yaitu Shibori. Kami kemudian berkolaborasi membuat acara bernuansa Hari Batik Nasional dan menghasilkan karya berbentuk batik dengan teknik Shibori,” jelasnya.
Pelatihan itu dipandu Afifah, founder sekaligus trainer Shinori, yang memperkenalkan teknik Itajime, salah satu teknik dalam Shibori.
Dalam praktiknya, kain dilipat dengan pola tertentu kemudian melalui proses pewarnaan sehingga menghasilkan motif khas. Pada workshop tersebut, teknik pelipatan segitiga sama kaki dan sama sisi digunakan untuk menghasilkan motif yang menyerupai batik Kawung.
“Untuk teknik yang kami gunakan hari ini yaitu teknik Itajime. Sebenarnya teknik Shibori banyak, seperti Nui, Arashi, Miura, Kumo dan lainnya. Kali ini kami menggunakan Itajime dengan pelipatan segitiga sama kaki dan sama sisi sehingga hasilnya menyerupai batik Kawung,” terang Afifah.
Ia menyebut Shibori memiliki daya tarik karena relatif mudah dipelajari, menghasilkan motif yang menarik, serta menggunakan proses pewarnaan yang dinilai lebih ramah lingkungan.
“Shibori biasanya banyak diminati masyarakat karena tekniknya mudah, motifnya bagus, dan pewarnaannya juga masih ramah lingkungan,” katanya.
Selain menjadi kegiatan kreatif, Shibori juga memiliki peluang ekonomi. Menurut Afifah, harga kain Shibori bergantung pada teknik, ukuran, serta panjang kain. Untuk kain sekitar dua meter, harganya berkisar Rp150.000 hingga Rp250.000.
Ia berharap Shibori dapat menjadi salah satu bentuk batik kontemporer yang semakin dikenal masyarakat tanpa meninggalkan akar budaya Indonesia.
“Semoga batik nasional atau batik khas Indonesia semakin dijaga dan dilestarikan. Jangan lupa dengan batik kontemporer atau batik yang sudah dikembangkan seperti batik Shibori yang mungkin belum banyak diketahui masyarakat. Melalui workshop dan perkembangan lainnya, kami berharap Shibori bisa semakin dikenal dan dipadupadankan dengan batik yang ada di Indonesia,” tuturnya.
Antusiasme juga dirasakan peserta workshop. Agustini, warga Ketiwijayan, Kecamatan Bayan, mengaku mengikuti kegiatan tersebut atas inisiatif sendiri karena penasaran dengan teknik Shibori.
Ia sebelumnya pernah mencoba membuat Shibori secara mandiri di rumah dengan belajar melalui YouTube. Namun, mengikuti pelatihan secara langsung membuatnya lebih mudah memahami teknik dan proses pewarnaan.
“Kalau pelatihan belum pernah, saya sebelumnya hanya mencoba di rumah dan belajar dari YouTube. Kalau ini benar-benar ada narasumbernya, sehingga ketika ingin mengetahui perbandingan warna atau tekniknya seperti apa bisa langsung bertanya dan lebih jelas,” ungkapnya.
Menurut Agustini, hasil Shibori memiliki keunikan tersendiri. Meskipun teknik pelipatan yang digunakan sama, hasil akhir kain dapat berbeda karena proses penyerapan warna.
“Seru, ternyata hasilnya berbeda-beda walaupun kita melipat dan mengikatnya sama. Ketika pencelupan, prosesnya bisa berbeda sehingga hasilnya juga berbeda,” katanya.
Ia berharap kegiatan serupa lebih banyak menyasar anak-anak dan generasi muda.
“Harapannya ada kegiatan seperti ini dengan sasaran anak-anak muda, supaya mereka bisa ikut nguri-uri, melestarikan. Daripada hanya dengan gadget, lebih baik ada kegiatan positif yang membuat anak muda lebih dekat dengan kerajinan daerah,” ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris DinKUKMP Purworejo Nurhadi Trionggo menilai Workshop Shibori merupakan kegiatan positif karena mampu memperkenalkan batik dengan pendekatan yang lebih dekat dengan perkembangan zaman.
Menurutnya, batik merupakan salah satu produk UMKM lokal sekaligus warisan budaya yang perlu terus dikembangkan agar tetap diminati generasi berikutnya.
“Dulu batik memiliki pakem dan filosofi, seperti Parang, Kawung, Sidomukti, Truntum dan lainnya. Namun, untuk menggali minat anak muda terhadap batik sebagai warisan budaya, perlu dikembangkan batik kontemporer yang adaptif terhadap selera anak-anak masa kini,” jelas Nurhadi.
Ia menilai Shibori menjadi salah satu pendekatan yang cukup tepat untuk memperkenalkan batik kepada generasi muda.
“Kita mempertahankan batik tulis dengan pakemnya, tetapi di sisi lain juga menggali potensi batik kontemporer sesuai pendekatannya. Saya kira ini positif,” katanya.
Dukungan terhadap batik lokal, lanjutnya, juga dilakukan melalui kebijakan penggunaan batik lokal dalam lingkungan pemerintahan. Selain itu, DinKUKMP secara berkala menggelar pelatihan yang berkolaborasi dengan berbagai pihak dan memanfaatkan fasilitas Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT).
Kepala Bidang Koperasi dan Usaha Mikro DinKUKMP Purworejo Rimi Anik menambahkan, kegiatan seperti workshop tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai pengalaman sehari.
“Jangan sampai berhenti sampai hari ini. Suatu saat peserta bisa kami undang untuk ikut berlatih mengembangkan batik. Tidak hanya mengenal batik Shibori, tetapi juga ecoprint, batik cap, batik malam, termasuk quilting batik,” ungkapnya.
Ke depan, peserta yang telah memiliki keterampilan juga diharapkan dapat berkembang menjadi pelaku UMKM dan perajin batik.
“Peserta ini bisa dijadikan anggota UMKM pengrajin batik. Selain mempunyai skill batik, bisa juga dikembangkan untuk keterampilan lainnya dan kemudian digabungkan bersama-sama di bawah naungan Dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan,” tambahnya.
Bagi Bale Bebakaran Kutoarjo, kegiatan tersebut menjadi bukti bahwa pelestarian budaya dapat dilakukan dari berbagai ruang, termasuk tempat usaha kuliner. Dewi berharap kolaborasi semacam itu terus berkembang sehingga batik tidak hanya dikenal oleh generasi tua, tetapi juga semakin dekat dengan Gen Z dan generasi setelahnya.
“Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan hari ini, kapan lagi? Harapannya acara seperti ini terus berlangsung, didukung pemerintah, dan menginspirasi pelaku usaha maupun pengrajin lainnya sehingga batik tetap eksis, memiliki nilai ekonomi, dan tidak usang oleh zaman,” pungkasnya. (P24/wid)
Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.









