PURWOREJO, Purworejo24.com — Gagasan pengembangan Jawa Tengah Selatan (Jasela) mendapat dukungan dari Pengasuh Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan, Purworejo, KH Achmad Chalwani Nawawi.
Menurutnya, konsep Jasela bukan sekadar wacana pembangunan wilayah, tetapi bentuk ikhtiar nyata untuk mengangkat kawasan selatan Jawa Tengah yang selama ini tertinggal dibanding wilayah pantura.
Dukungan tersebut disampaikan KH Achmad Chalwani saat acara Pelantikan Pengurus Pusat Himawan menanggapi pemaparan konsep Jasela yang disampaikan Abdul Kholik, S.H., M.Si., yang menyoroti ketimpangan pembangunan antara wilayah utara dan selatan Jawa Tengah.
Data kemiskinan menjadi salah satu indikator paling mencolok. Jika Kota Semarang mencatat angka kemiskinan sekitar 4 persen, Kabupaten Kebumen masih berada di kisaran 16,76 persen—selisih lebih dari 12 persen yang mencerminkan jurang ketimpangan antarwilayah.
“Konsep Jawa Tengah Selatan ini sangat cocok dan relevan. Wilayah selatan memang sudah terlalu lama tertinggal. Maka ikhtiar seperti ini harus kita dukung bersama dan kita doakan,” ujar KH Achmad Chalwani Rabu (7/1/2025).
Dalam paparannya, Abdul Kholik menjelaskan bahwa struktur pembangunan Jawa Tengah selama ini terlalu berorientasi ke Semarang sebagai simpul utama. Infrastruktur jalan tol, jalur ekonomi, hingga pusat layanan pemerintahan semuanya terkonsentrasi di wilayah utara.
Akibatnya, kawasan Banyumas Raya, Kedu, hingga pesisir selatan seolah menjadi “wilayah kosong” dalam peta pertumbuhan.
“Jalan tol dari Jakarta ke Brebes ditarik ke Semarang, lalu ke Solo, Jogja, dan kembali ke Semarang. Kawasan selatan tidak tersentuh. Dampak ekonominya tidak pernah sampai,” kata Abdul Kholik.
Ia menegaskan, poros ekonomi selatan tidak realistis jika ditarik dari Semarang. Alternatif yang lebih masuk akal adalah membangun poros selatan yang terhubung ke timur melalui Yogyakarta dan ke barat melalui Purworejo, Kebumen dan Cilacap.
Konsep Jasela menempatkan tiga sektor utama sebagai motor penggerak kawasan selatan, yakni pertanian, kelautan-maritim, dan pariwisata. Di sektor kelautan, wilayah pesisir dari Pantai Jatimalang hingga Cilacap dinilai memiliki potensi besar, termasuk sumber daya ikan laut dalam berkualitas ekspor.
Namun, realitas di lapangan masih jauh dari ideal. Nelayan kecil di pesisir selatan sering kali pulang melaut dengan hasil tangkapan bernilai di bawah biaya operasional. Infrastruktur seperti breakwater rusak, dukungan balai teknis minim, dan pengelolaan maritim masih terpusat ke wilayah lain seperti Yogyakarta.
“Laut selatan sangat luas, ikannya kualitas ekspor. Tapi nelayan kita masih rugi. Pemerintah belum benar-benar hadir,” ungkap Abdul Kholik.
Bagi KH Achmad Chalwani, pembangunan tidak hanya soal infrastruktur dan anggaran, tetapi juga soal niat, ikhtiar, dan doa. Ia menilai gagasan Jasela sebagai usaha mulia yang harus diperjuangkan secara bersama-sama.
“Usaha itu wajib. Allah memerintahkan kita untuk bergerak, bekerja, dan berikhtiar. Tapi jangan berhenti berdoa,” tutur KH Achmad Chalwani.
Ia berharap konsep Jasela yang digagas dapat terus diperjuangkan hingga benar-benar terwujud dan membawa perubahan nyata bagi masyarakat selatan Jawa Tengah.
“Mari kita doakan bersama-sama, semoga konsep Jawa Tengah Selatan ini bisa berhasil dan membawa kemaslahatan bagi umat,” pungkasnya.
Wilayah Jasela yang meliputi Wonosobo, Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, Kebumen, Purworejo, hingga Magelang, dinilai memiliki modal sosial, budaya, dan sumber daya alam yang kuat.
Dengan percepatan infrastruktur, konektivitas transportasi, serta penguatan sektor unggulan, kawasan selatan diyakini mampu menjadi pusat pertumbuhan baru yang tidak lagi bergantung pada wilayah utara. (P24-byu)
Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.







