PURWOREJO, purworejo24.com – Ajang lari lintas alam Biosferun 2026 yang melintasi wilayah Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Kabupaten Magelang sertaKabupaten Purworejo, Jawa Tengah, berpotensi menghadirkan tantangan baru bagi para pelari pada tahun mendatang.
Badan Pelaksana Otorita Borobudur (BPOB) berencana menjajaki pembukaan rute lebih panjang hingga 50 kilometer (km).
Rencana tersebut muncul setelah penyelenggaraan Biosferun 2026 yang diikuti lebih dari 1.000 peserta. Sejumlah pelari disebut menginginkan lintasan yang lebih menantang dibandingkan rute terpanjang sebelumnya, yakni 30 km.
Direktur Pemasaran BPOB Harfiansa Bimantara mengatakan, pihaknya akan melakukan survei untuk mengkaji kemungkinan penambahan jarak dan pembukaan lintasan baru pada penyelenggaraan berikutnya.
“Jadi, nanti kita coba survei, kita akan buka lintasan baru. Kalau terakhir kan yang paling tinggi di 30, mungkin kemungkinan nanti di angka yang lebih tinggi di 50K,” kata Harfiansa saat ditemui dalam ajang Biosferun 2026 pada Minggu (18/10/2026).
Menurut dia, keinginan peserta menjadi salah satu pertimbangan untuk mengembangkan tantangan dalam ajang lari lintas alam tersebut. Rute sepanjang 30 km dinilai belum cukup menantang bagi sebagian pelari.
“Ini juga permintaan teman-teman peserta karena mungkin mereka merasa yang 30 masih kurang, kurang menantang. Jadi, makanya ini kita coba nanti tahun depan kita coba buka rute baru,” ujarnya.
Meski demikian, rencana penambahan jarak tersebut masih perlu dikaji melalui survei dan persiapan penyelenggaraan. Pengembangan lintasan diharapkan dapat memperkuat daya tarik Biosferun sekaligus memperkenalkan potensi wisata alam di kawasan Perbukitan Menoreh.
Diikuti lebih dari 1.000 pelari
Direktur BPOB Yusuf Hartanto mengatakan, Biosferun 2026 merupakan penyelenggaraan kelima ajang lari lintas alam tersebut. Kegiatan berlangsung dengan dukungan tiga daerah, yakni Kabupaten Purworejo, Kabupaten Kulon Progo, dan Kabupaten Magelang.
“Alhamdulillah, juga didukung oleh tiga kabupaten, Kabupaten Purworejo, Kabupaten Kulon Progo, dan Kabupaten Magelang,” kata Yusuf.
Berdasarkan data yang disampaikan Yusuf, jumlah peserta Biosferun 2026 mencapai lebih dari 1.000 orang. Mereka mengikuti tiga kategori jarak, yakni 7 km, 15 km, dan 30 km.
Yusuf berharap kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang olahraga, tetapi juga mampu mendorong pergerakan ekonomi masyarakat di sekitar Perbukitan Menoreh.
“Kami berharap dengan adanya Biosferun ini dapat membangkitkan ekonomi, khususnya di sekitaran Bukit Menoreh, sehingga mempunyai dampak khususnya pada kunjungan di destinasi di sekitar ekosistem Menoreh,” ujarnya.
Selain menghadirkan pengalaman berlari di kawasan perbukitan, penyelenggara juga melibatkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal. Produk-produk masyarakat dipamerkan untuk memberikan ruang promosi sekaligus membuka peluang ekonomi dari kunjungan peserta dan pengunjung.
Yusuf juga menyebut adanya pengembangan pada lintasan 30 km dalam penyelenggaraan tahun ini. Selain itu, peserta yang menyelesaikan lomba di bawah batas waktu yang ditentukan atau cut-off time (COT) berkesempatan memperoleh poin tambahan untuk pencatatan pada International Trail Running Association (ITRA), sesuai ketentuan yang berlaku.
Wakil Bupati Purworejo Dion Agasi Setiabudi menilai Biosferun menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan potensi wisata Perbukitan Menoreh kepada masyarakat yang lebih luas.
Menurut Dion, pengembangan pariwisata di kawasan tersebut membutuhkan kolaborasi lintas daerah. Purworejo, Kulon Progo, dan Magelang dinilai memiliki potensi yang saling melengkapi, mulai dari wisata alam, budaya, kuliner, hingga desa wisata.
“Ekosistem wisata di sini yang saya kira perlu kita bangun bersama-sama. Tidak bisa ekosektoral masing-masing kabupaten yang bergerak masing-masing, tetapi memang harus kita bangun bersama, kita promosikan bersama,” kata Dion.
Ia berharap kerja sama antardaerah tidak berhenti pada penyelenggaraan satu acara. Sinkronisasi kalender kegiatan pariwisata juga diperlukan agar wisatawan memiliki lebih banyak pilihan aktivitas ketika berkunjung ke kawasan Menoreh.
Dion juga berharap Biosferun dapat diselenggarakan secara rutin setiap tahun sehingga memberikan dampak berkelanjutan bagi promosi destinasi dan perekonomian masyarakat.
“Harapan kami ini bisa menjadi event yang kontinu sifatnya tahunan untuk mengenalkan sekaligus membangun ekosistem wisata di Perbukitan Menoreh,” ujarnya.
Dion menambahkan, daya tarik Menoreh tidak hanya terletak pada keindahan alamnya. Kawasan tersebut juga memiliki kekayaan budaya, kuliner, dan desa wisata yang dapat dikembangkan sebagai bagian dari pengalaman wisata. (P24-byu)
Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.









