Religi

Ruwahan Makam Sidompyong, Merawat Tradisi Doa dan Silaturahmi Antar Generasi

108
×

Ruwahan Makam Sidompyong, Merawat Tradisi Doa dan Silaturahmi Antar Generasi

Sebarkan artikel ini
Kegiatan ruwahan di makam Sidompyong
Kegiatan ruwahan di makam Sidompyong

BAGELEN, purworejo24.com – Suasana khidmat menyelimuti Makam Sidompyong, Desa Krendetan, Kecamatan Bagelen, Kabupaten Purworejo, pada Sabtu (7/2/2026) malam.

Ratusan warga, tokoh masyarakat, serta para ahli waris berkumpul dalam kegiatan Ruwahan Makam Sidompyong yang dirangkai dengan Tahlil Kubro dan Pengajian Umum Tahun 2026 M/1447 H.

Kegiatan yang digelar di area makam RT 1/RW 5 tersebut menjadi momentum penting bagi masyarakat untuk mendoakan para leluhur sekaligus mempererat tali silaturahmi antar ahli waris.

Tradisi ruwahan yang dilaksanakan menjelang bulan suci Ramadhan ini merupakan bentuk kearifan lokal yang terus dijaga dan dilestarikan oleh warga setempat.

Acara diawali dengan tahlil dan doa bersama yang dipimpin oleh empat ulama, yakni Kyai Miftahudin, Kyai Amin Zuhri, Kyai Jubaidi, serta K.H. Muhson Mahfud.

Lantunan doa yang mengalun khusyuk di antara pusara makam menjadi simbol penghormatan dan rasa bakti kepada para sesepuh desa yang telah wafat.

Usai tahlil, kegiatan dilanjutkan dengan pengajian umum atau mauidhoh hasanah yang disampaikan oleh Gus Qosim Thoifur, Pengasuh Pondok Pesantren Darut Tauhid, Kedungsari, Purworejo.

Dalam tausiyahnya, Gus Qosim mengajak jamaah untuk senantiasa mengingat kematian, memperkuat iman, serta menjaga tradisi mendoakan orang tua dan leluhur sebagai bagian dari nilai ajaran Islam dan budaya bangsa.

Ketua Panitia Ruwahan Makam Sidompyong, Muh Chobir, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan agenda perdana yang digagas oleh para pengurus makam bersama warga dan ahli waris.

Awalnya kegiatan ini direncanakan dalam lingkup kecil sebagai ajang silaturahmi antar ahli waris yang memiliki keluarga dimakamkan di Sidompyong. Namun karena antusiasme yang tinggi dari para ahli waris dan donatur, akhirnya kegiatan ini kami laksanakan secara akbar,” ungkapnya.

Ia menambahkan, rangkaian kegiatan ruwahan sebenarnya telah dimulai sejak 25 Januari 2026 lalu dengan kerja bakti massal membersihkan area makam dan lingkungan sekitarnya.

Kerja bakti tersebut melibatkan warga dari empat pedukuhan di sekitar makam yang memiliki keterkaitan ahli waris di Makam Sidompyong.

Pemilihan lokasi pengajian di area makam, menurut Muh Chobir, memiliki makna tersendiri. Selain sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur, kegiatan ini juga dimaksudkan untuk menegaskan fungsi makam sebagai ruang bersama bagi doa dan refleksi spiritual.

Makam Sidompyong ini berstatus sebagai makam umum. Banyak juga jenazah yang berasal dari perantauan dan dikuburkan di sini. Namun tetap ada batasan tertentu yang mengutamakan ahli waris di sekitar makam,” jelasnya.

Makam Sidompyong sendiri dikenal sebagai salah satu makam tua di Desa Krendetan, meskipun informasi sejarahnya masih terbatas karena minimnya data dari para sesepuh terdahulu.

Meski demikian, keberadaan makam ini memiliki nilai historis dan spiritual yang kuat bagi masyarakat setempat.

Panitia berharap kegiatan ruwahan, tahlil, dan pengajian umum ini dapat menjadi agenda rutin tahunan yang diselenggarakan setiap bulan Sya’ban atau Ruwah.

Evaluasi dan perbaikan akan terus dilakukan agar pelaksanaan ke depan dapat berjalan lebih baik dan memberi manfaat yang lebih luas.

Harapan kami, tradisi ini bisa terus dilaksanakan setiap tahun, semakin tertib, semakin baik, dan semakin mempererat persaudaraan warga serta ahli waris,” pungkas Muh Chobir. (P24/wid)


Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.