Scroll untuk baca artikel
EkonomiInspirasiLingkungan HidupPendidikanTeknologi

Melihat Siswa SMK 7 Purworejo Olah Sampah Jadi Paving Blok dan Pupuk Organik

17
×

Melihat Siswa SMK 7 Purworejo Olah Sampah Jadi Paving Blok dan Pupuk Organik

Sebarkan artikel ini
Siswa SMK 7 Purworejo menunjukkan hasil Olahan Sampah Jadi Paving Blok
Siswa SMK 7 Purworejo menunjukkan hasil Olahan Sampah Jadi Paving Blok

PURWOREJO, purworejo24.com – Sampah yang menumpuk di berbagai sudut kota seakan menjadi pemandangan yang biasa. Berbagai sampah, mulai dari sampah organik sampai sampah plastik tak pernah lepas dari pandangan.

Sampah juga menjadi persoalan serius di lingkungan sekitar kita, bahkan di sekolah pun tak luput dari persoalan sampah. Kadang, sampah ini hanya dibersihkan oleh petugas dan dibuang ke pembuangan akhir.

Melihat banyaknya sampah di lingkungan sekolah inilah yang memantik kesadaran sejumlah siswa di SMK 7 Purworejo, Jawa Tengah berhasil menciptakan paving blok dan pupuk organik.

Sejumlah siswa SMK 7 Purworejo yang tergabung dalam palang merah remaja (PMR) sekolah ini berhasil membuat terobosan dalam mengolah sampah organik maupun non organik. Para siswa kreatif ini mengolah sampah yanng tak ternilai menjadi barang yang bernilai ekonomis tinggi.

Revalina Agata salah satu siswi mengatakan, ide membuat paving blok dan pupuk organik dari sampah ini berawal saat para siswa melihat banyaknya sampah di lingkungan sekolah.

Proses pembuatan paving blok dan pupuk organik dimulai dari tempat sampah masing-masing kelas. Sampah dari siswa-siswi itu dipilah berdasarkan jenisnya.

Setelah sampah terkumpul di bak sampah masing-masing kelas, kemudian para siswa yang tergabung dalam PMR ini memungut sampah untuk diproses.

“Awalnya kita kumpulkan dulu sampah dari masing-masing kelas, kemudian kita sortir dan kita proses ditempat yang sudah disediakan,” kata Revalina saat ditemui di tempat produksi paving blok pada Jumat (27/10/2023).

Sampah plastik yang terkumpul kemudian di taruh dalam wadah sederhana, kemudian dipanaskan hingga meleleh. Setelah itu, lelehan plastik kemudian dicampur dengan pasir untuk memperkuat paving blok.

“Baru kita tambahkan pasir agar paving lebih kuat,” kata Revalina.

Setelah dicampur, bahan-bahan tersebut kemudian di cetak. Setelah sekitar 2 jam, cetakan tersebut sudah menjadi paving keras dan siap digunakan.

Pembuatan paving blok dari sampah plastik ini cukup banyak membantu mengurangi sampah plastik di lingkungan sekolah SMK 7 Purworejo.

Meski diperkirakan akan, laris di pasaran, Hasil dari paving blok ini belum berani dipasarkan, lantaran kebutuhan sampah yang cukup banyak untuk mengkomersilkan paving blok dari sampah plastik.

Tak berhenti di pengolahan sampah plastik, para siswa ini juga mengolah sampah sisa makanan dan sampah organik lainnya menjadi pupuk untuk tanaman.

Wahyu Fitriani, siswa SMK 7 lainnya menjelaskan, pembuatan pupuk organik dari sampah ini cukup mudah. Hal ini juga bisa diterapkan di lingkungan rumah untuk mengurangi sampah rumah tangga.

“Caranya cukup mudah, kuta hanya cukup mengumpulkan sampah sisa makanan misalnya, setelah itu didiamkan selam 1 sampai 2 minggu hingga muncul air,” kata Wahyu.

Air ini lah yang digunakan sebagai pupuk organik buat tanaman. Beberapa kali percobaan, hasil dari pupuk dari sampah ini cukup membuahkan hasil.

David Purba, guru pendamping siswa SMK 7 Purworejo menambahkan, pengelolaan sampah disekolahnya juga didukung melalui kebijakan dan progam. Sekolah membuat progam bernama Bijak Sampah.

Progam Bijak sampah ini mengharuskan seminggu sekali setiap kelas menyetorkan sampah kepada PMR sekolah.

“Kita berharap, kerjasama disemua leading sektor sekolah mampu membawa anak-anak untuk sadar terhadap lingkungan sekitar,” kata David.

Diketahui, sampah sat ini menjadi persoalan serius disetiap wilayah. Hasil dari penginputan data yang dilakukan oleh 309 Kabupaten/kota se-Indonesia pada tahun 2022 saja, timbunan sampah mencapai 35,953,862.11 (ton/tahun).

Sementara itu, Penanganan Sampah di Indonesia masih sebanyak 47.56% atau 17,100,069.17 (ton/tahun). Sedangkan untuk, Sampah terkelola sebanyak 62.51% atau 22,473,196.77 (ton/tahun). Setiap tahunnya masih ada sekitar 37.49% atau 13,480,665.34 (ton/tahun) Sampah yang tidak terkelola.

Dikutip dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional SIPSN kementerian lingkungan hidup, sampah terbesar di Indonesia adalah sampah sisa makanan sebanyak 40,6 persen, selanjutnya disusul sampah plastik 18 persen, sampah ranting dan daun 13 persen, sampah kertas 11,3 persen dan lain-lain sebanyak 17,1 persen. (P24/Bayu)


Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.