Air Tak Pernah Kering Saat Kemarau dan Cerita Makam Ulama Asal Maroko di Gunung Wangi

oleh -
Makam Syekh Maulana Magribi di Desa Gunung Wangi, Kecamatan Kaligesing Kabupaten Purworejo Jawa Tengah.
Makam Syekh Maulana Magribi di Desa Gunung Wangi, Kecamatan Kaligesing Kabupaten Purworejo Jawa Tengah.

PURWOREJO, purworejo24.com – Sudah umum diketahui bahwa di Desa Gunung Wangi, Kecamatan Kaligesing Kabupaten Purworejo Jawa Tengah terdapat makam ulama besar asal negara Maroko yang diyakini sebagai makam Syekh Maulana Magribi.

Tempat wisata religi yang banyak dikunjungi peziarah itu terletak di dataran tinggi lebih dari 700 Meter Diatas Permukaan Laut (MDPL). Berdasarkan cerita dari warga sekitar, makam penyebar agama Islam di pulau Jawa ini dianggap memberikan berkah tersendiri bagi Desa Gunung Wangi.

Bagaimana tidak, meskipun terletak di dataran tinggi, air di sekitar makam tersebut tidak pernah kering. Bahkan air tersebut sudah layak minum berdasarkan uji laboratorium dari Universitas Indonesia (UI). Air tersebut juga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisata religi di Desa Gunung Wangi ini.

“Makam ada di puncak pegunungan pada ketinggian 757 mdpl, ada sumur bersebelahan dengan Makam Syekh Maulana Maghribi Gunung Wangi, selain sumur itu, setiap warga juga punya sumur sendiri-sendiri yang tidak pernah kering,” kata Kepala Desa Gunung Wangi Priyo Dwi Prayitno saat ditemui pada uji paket wisata oleh Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Dinporapar) Purworejo beserta tim, di desa tersebut, Rabu (21/9/2022).

Pada zaman dahulu, diceritakan Kades Priyo bahwa Syekh Maulana Magribi membawa misi untuk berdakwah di Gunung Wangi pada sekitar tahun 1435 atau 537 tahun yang lalu. Karena dinilai memiliki sejarah dan jasa yang besar, makam tersebut terus dirawat oleh warga dan saat ini menjadi wisata religi unggulan.

“Peziarah banyak yang dari luar kota bahkan luar pulau, pernah ada yang dari Kalimantan, di makam ini juga ada acara zikir rutin,” katanya.

Meski demikian, belum ada bukti autentik apakah ditempat tersebut menyimpan jasad dari Syekh Maulana Magribi atau hanya petilasan saja. Namun, hal tersebut tidak pernah dipersoalkan masyarakat sekitar, mereka tetap menjaga dan bahkan saat ini sedang dibangun mushola hasil iuran warga sekitar.

“Kalau dilihat dari namanya itu dari negeri Maghribi, atau Maroko, makamnya juga tidak di sini saja, ada yang di Parangtritis dan tempat yang lainnya. Ada dugaan orang berbeda namun sama namanya. Namun bagi kita sendiri tidak pernah mempertanyakan, yang jelas warga sudah merasakan berkah Eyang Syekh,” terangnya.

Berkah tersebut, kata Kades, meski Desa Gunung Wangi terletak di dataran tinggi tetapi air di sumur-sumur warga tidak pernah kering, bahkan saat musim kemarau. Di samping makam juga dibangun sumur dengan kedalaman 30 meter. Sumur tersebut mengeluarkan air yang sangat jernih dan juga bisa langsung diminum tanpa dimasak terlebih dahulu.

Para peziarah bisa minum air dari sumur itu di tempat-tempat yang telah disiapkan pengelola. Kepala desa dan warga juga memutuskan untuk menggratiskan dan tidak mengkomersialkan air tersebut. Sumur mulai dibuat pada hari Jumat Kliwon, 27 Agustus 2021 dan selesai Hari Jum’at Kliwon 26 September 2021.

“Dari hasil analisa semua memenuhi baku mutu Peraturan Menteri Kesehatan tentang kualitas air minum baik untuk parameter fisik, kimia, dan biologis. Sehingga sudah aman langsung untuk dikonsumsi, dengan PH 7,43,” jelasnya.

Selain wisata religi tersebut, Desa Gunung Wangi ini juga menyimpan banyak potensi wisata lain seperti kuliner, alam, hingga edukasi. Kades Priyo berharap agar Gunung Wangi bisa menjadi Desa Wisata unggulan ke depannya.

Sementara itu, Kabid Pemasaran Pariwisata, Sumber Daya Pariwisata, dan Ekraf Dinporapar Purworejo, Endah Hana Rosanti menuturkan jika Gunung Wangi telah layak menjadi desa wisata rintisan. Gunung Wangi ini memiliki paket wisata yang lengkap dan sangat menarik.

“Kegiatan kami hari ini memang menguji dari desa wisata. Gunung Wangi sudah mendeklarasikan diri sebagai desa wisata dan kemarin sudah kita evaluasi, untuk Gunung Wangi sudah kita nilai lolos sebenarnya hanya SK masih dalam proses,” papar Endah. (P24-bayu)