Musim Tanam Kedua Produksi Padi di Kabupaten Purworejo Meningkat Dengan Sistem Tanam Padi Jajar Legowo

oleh -

PURWOREJO, purworejo24.com – Sistem tanam Jajar Legowo berhasil meningkatkan jumlah produktivitas padi sekitar 10-15 persen. Hal ini diketahui saat para petani di Purworejo memanen hasilnya pada musim tanam kedua tahun ini.

Sistem tanam Jajar Legowo ini adalah salah satu sistem penanaman padi di indonesia yang dilakukan dengan cara mengatur jarak antara benih pada saat penanaman. Sistem ini telah terbukti dapat meningkatkan hasil padi dibanding dengan penggunaan sistem tradisional.

Kepala Dinas Pertanian Pangan dan kelautan (DPPKP) Hadi Sadsila saat meninjau disalah satu sawah milik petani menyampaikan, pihak dinas sangat mengapresiasi para petani yang sudah menerapkan sistem tanam Jajar Legowo.

Menindak lanjuti hal tersebut, pihak pemerintah sendiri juga menggelar  Sekolah Lapangan (SL) bagi para kelompok tani di Kabupaten Purworejo. Sebanyak 25 kelompok tani dari 21 desa yang ada di Purworejo.

“Sekarang dengan sistem tanam Jajar Legowo ini Alhamdulillah kelompok tani di Purworejo meraih peningkatan jumlah produktivitas padi hingga mencapai 10-15 persen,” katanya saat meninjau panen MT 2 yang berada di Desa Tanjung Kecamatan Ngombol pada Rabu 29 Juni 2022.

Dari pengalaman, Hadi menyebut, biasanya dengan sistem tradisional petani hanya meraih panen padi sekitar 12 ton per hektar. Tapi dalam tiga bulan panen, para petani di Desa Tanjung produksi padinya meningkat hingga 14 ton per hektar dalam sekali panen.

“Apa yang kita lakukan lewat Sekolah Lapangan ini tentunya sudah seharusnya kita terapkan pada petani didaerah lainnya,” katanya

Keberhasilan program sistem tanam Jajar Legowo ini tidak terlepas peran dari penyuluh di Kabupaten Purworejo. Para penyuluh pertanian yang juga sebagai pendamping Sekolah Lapangan terus mensosialisasikan sistem tanam Jajar Legowo ini kepada para petani.

Hartoyo koordinator Kelompok Jabatan Fungsional (KJF) DPPKP mengaku di Kabupaten Purworejo sendiri luas tanaman padi sekitar 30 ribu hektar. Dari ribuan hektar tersebut sebanyak 30 persen sudah menerapkan sistem tanam Jajar Legowo.

Untuk mensosialisasikan sistem ini pemerintah juga mendukung dengan menggelontorkan dana sekitar 3,1 Miliar dalam progam Sekolah Lapangan.

“Berdasarkan Nota Perjanjian Hibah Daerah (NPHD) antara Pusat dan daerah pelaksanaan kegiatan mulai tahun 2018,2019,2020 dan tahun 2022 dan baru terserap sekitar 2,2 miliar,” katanya.

Diketahui Progam Sekolah Lapangan ini juga disuport oleh International Fund for Agricultural Development disingkat (IFAD). IFAD adalah sebuah badan dari PBB yang didirikan pada 1977 untuk merespon bencana kelaparan.

Tujuan utamanya adalah untuk menyediakan pendanaan dan menggerakkan sumber-sumber tambahan untuk program-program yang khusus dirancang untuk pengembangan ekonomi wilayah miskin, terutama dengan mengembangkan produktivitas agrikultural.

Pihaknya berharap kelompok tani lain dapat mengikuti dan menerapkan program sistem Jajar Legowo ini, karena arah pertanian kita sekarang tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup petaninya saja akan tetapi juga untuk meningkatkan ekonomi masyarakat di Kabupaten Purworejo.

“Beberapa petani yang sudah menerapkan sistem baru ini antara lain di Kecamatan Bener, Loano, Purworejo, Gebang, Bayan, Kemiri, Ngombol dan Kutoarjo,” katanya. (P24-bayu)