Lindungi dari Kerusakan, Ribuan Benda Koleksi Museum Tosan Aji Purworejo Dikonservasi

oleh -
konservasi atau pembersihan terhadap ribuan benda-benda koleksi yang tersimpan di musium Tosan Aji Purworejo
konservasi atau pembersihan terhadap ribuan benda-benda koleksi yang tersimpan di musium Tosan Aji Purworejo

PURWOREJO, purworejo24.com – Bidang Kebudayaan pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, melaksanakan konservasi atau pembersihan terhadap ribuan benda-benda koleksi yang tersimpan di museum Tosan Aji Purworejo.

<

Museum Tosan Aji Purworejo yang berlokasi di Kompleks Pendopo Kabupaten Purworejo, memiliki 1.159 bilah koleksi Tosan Aji, dan juga memiliki koleksi benda cagar budaya seperti Batu Lingga, Batu Yoni, Batu Lumpang dan lain sebagainya sejumlah 175 buah. Konservasi itu dilakukan selama dua yaitu pada Kamis 13 Januari 2022 dan Jumat 14 Januari 2022 ini.

Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Purworejo, Dyah Woro Setyaningsih, menyampaikan, memiliki banyak koleksi tentunya juga harus selalu memperhatikan perawatan dan pemeliharaan koleksi yang ada. Keris sebagai salah satu pusaka, tak luput dari kerusakan dan membutuhkan konservasi.

Untuk memastikan keris dalam kondisi baik, diperlukan beberapa perlakuan khusus yang berbeda untuk setiap bagian keris.

“Identifikasi bahan keris disetiap bagian-bagiannya terlebih dahulu sebelum melakukan konservasi merupakan hal terpenting yang harus dilakukan. Karena beda bahan akan membedakan tindakan yang perlu diambil. Setelah ditemukan kerusakaan atau penyakit baru dilakukan konservasi.”, ungkap Woro, pada Jumat 14 Januari 2022.

“Misal penyakit karat pada besi bilah keris atau penyakit jamur pada kayu gagang keris, tentu saja perlakuannya akan berbeda. Dan untuk menghindari perlakuan pada bagian yang satu merusak bagian yang lainnya, maka keris perlu dipisahkan per bagian dahulu antara bilah, gagang dan sarungnya,” imbuh Woro.

Tak hanya keris, Bidang Kebudayaan juga melakukam Konservasi atau pelaksanaan perawatan terhadap benda cagar budaya, untuk melindungi dan menjaga kelestarian dari suatu cagar budaya.

Perawatan merupakan tindakan pencegahan yang dapat dilakukan dengan cara perawatan rutin sehari-hari maupun berkala untuk menjaga kebersihan atau keterawatan benda cagar budaya dan lingkungannya.

Perawatan juga merupakan tindakan mengobati atau tindak lanjut pada kerusakan cagar budaya yang dapat dilakukan sesuai dengan kondisi keterawatan benda cagar budaya baik dengan cara perawatan tradisional maupun modern untuk menanggulangi benda cagar budaya yang telah rusak dan lapuk.

“Sebelum dilakukan konservasi, terlebih dahulu dilakukan identifikasi kerusakan pada BCB,” katanya.

Disebutkan, kerusakan yang terjadi pada umumnya disebabkan oleh Fisik yaitu terjadi karena media penyimpanan yang kurang baik, Pollutan (debu, bahan kimia, lembap), temperatur dan kelembaban udara.

Yaitu temperatur dan kelembanan harus stabil, jika tidak maka benda akan cepat rusak, Air yang berpotensi menimbulkan karat pada Benda Cagar Budaya yang terbuat dari logam, gangguan hewan seperti serangga dan tikus, tumbuhan seperti timbulnya alga, jamur, lumut, lichen yang merupakan simbiosis mutualisme dari alga dan jamur.

Cahaya yaitu paparan UV yang mengakibatkan warna menguning atau memudar pada benda, Dissosiasi atau pemisahan benda-benda, Pencurian dan vandalisme serta Api (bahaya kebakaran).

“Metode konservasi pada umumnya tergantung juga pada bahan penyusun benda cagar budaya yang akan dikonservasi, apakah bahan penyusunnya dari batu, kertas, kayu, logam, perak, emas atau tulang? Untuk itu, perlu juga dilakukan identifikasi benda cagar budaya terlebih dahulu, barulah kita melangkah ke metode konservasi yang tepat,” bebernya.

Disebutkan, secara umum, metode konservasi dibedakan menjadi 2 yaitu metode pembersihan mekanis (manual) dan metode dengan perlakuan bahan kimia (metode khemis). Metode pembersihan mekanis (manual) pada umumnya dilakukan dengan menggunakan tangan yang dilengkapi dengan alat-alat seperti sikat ijuk, jarum kasur, dan kuas.

“Di samping itu metode pembersihan dengan perlakuan bahan kimia biasanya menggunakan bahan kimia tertentu yang mana masing-masing bahan kimia tersebut memiliki fungsi yang berbeda” jelasnya.

“Selain menggunakan bahan kimia, saat ini cagar budaya juga dapat dikonservasi dengan menggunakan bahan tradisional atau bahan alami. Bahan alami yang saat ini sudah banyak dikembangkan sebagai bahan konservan tradisional antara lain cengkeh, tembakau, pelepah pisang atau sereh,” pungkas Woro.(P24/Wid)